Aku Pernah Ke Indonesia

“Aku punya nenek di Indonesia.”

Tina memulai obrolan di tengah jam istirahat kelas, “aku pernah kesana dan bertemu dia waktu aku berumur 7 tahun.”

Seluruh temannya yang daritadi mengantuk karena bosan mulai menatap ke arah Tina, tertarik dengan ceritanya. 
“Oh benarkah Tina?” Amel yang sedang menyantap sepotong biskuit bertanya. “Kamu tidak pernah bilang tentang itu ke kami, coba cerita, seperti apa disana dan bagaimana rasanya tinggal disana?”

“Disana cuacanya panas, kadang sering hujan dan tidak ada salju turun. Tidak ada Disney Land seperti disini. Banyak jenis tanaman dan hewan yang berbeda dengan disini, pantainya indah, lautnya luas dan masyarakatnya ramah sekali. Waktu aku berkunjung kesana aku diajak keliling kota dan makan banyak makanan yang enak!”

Teman-temannya terdiam, mencoba membayangkan.
“Dari ceritamu kedengarannya tempat itu menyenangkan dan indah, Tina”, kata Roby terdengar antusias. “Lalu, coba ceritakan apa nenekmu masih tinggal disana, bagaimana keadaannya?”

Tina mengangguk, “Kata ayahku, nenekku masih disana, terperangkap. Tak ada satupun yang berhasil keluar… hmm aku sebenarnya tidak boleh membicarakannya, kata ayahku, itu membuatnya sedih.”

“Tapi kamu terbilang berani,Tina,” puji Amel,  “Lihatlah aku, Roby, Mia sangat tertarik mendengar seperti apa Indonesia saat negara itu masih ada.”

Tina tersenyum. Dalam hati dia sejujurnya merasa muak mengenang apa yang terjadi waktu itu. Semua terjadi begitu cepat. Awalnya semua orang berpikir itu penyakit biasa dan menganggapnya remeh. Banyak wabah terjadi di Asia, malaria, demam berdarah, flu burung, SARS … namun penyakit ini berbeda. Ada yang ketika terinfeksi langsung menunjukkan gejala, namun ada pula yang samasekali tidak menunjukkan gejala terinfeksi apapun, akan tetapi menularkannya kepada orang lain. Yang lebih buruk dan sangat aku kutuk, ada yang sudah menunjukkan gejala tapi mengabaikan intruksi kesehatan dan dengan sengaja menularkannya pada orang lain.

Virus itu dianggap iblis yang berbahaya laten. Awalnya hanya satu kota. Sejumlah orang terduga terinfeksi dikarantina. Mereka membangun dinding disekitar, namun percuma. Penyakit sialan itu mulai menyebar. Ke seluruh penjuru kota, pulau, negara. Mereka ingin segera kabur berharap selamat tapi naas, justru membuat  penyebarannya makin luas.

Pemerintah melakukan apapun untuk menghentikannya. Membakar pulau, menembak semua orang, tak akan peduli apakah mereka terinfeksi atau tidak. Namun tetap saja, tak ada yang tersisa. Seluruh akses lumpuh. Internet, telepon maupun media komunikasi dimatikan. Tak ada siapapun yang tau apa yang terjadi di benua Asia, termasuk Indonesia. Jikapun masih ada yang tersisa, bisa dipastikan mereka menjadi kanibal.

Terdengar suara bel masuk kelas berdering.
“Oke saatnya kita masuk kelas, tapi aku sangat penasaran tentang sejarah Australia, Prancis dan Italia. Besok kita bahas lagi ya!” seru Roby saat mereka beranjak menuju koridor ruang kelas.

Oleh : Devik W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *