Andai BEM Itu Bukan Badan Eksploitasi Mahasiswa | Sebuah Cerpen

Anjuran pemerintah untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah sudah aku lakukan sejak kampusku berlakukan kebijakan kuliah online guna mengantisipasi penyebaran Virus Corona. Jaga jarak, rajin cuci tangan dan social distancing pun kulakukan demi dan untuk memutuskan rantai penyebaran virus ini. Ya, semuanya kulakukan demi mempertahankan hidup dan kehidupanku yang masih tak seberapa ini.

Kamis, 16 April 2020 waktu masih menunjukkan pukul 07.12 WITA saat handphoneku berdering. Kulihat dua panggilan tak terjawab dari temanku. “Ada apa yah?” pikirku dalam hati. Kemudian kuambil handphone lalu aku menelepon balik temanku setelah tiga panggilannya kuabaikan. 

“Hallo, selamat pagi. Gimana? Kok tumben telfon pagi-pagi?” tanyaku.

“Jadi gini bro, kita kan punya banyak tugas yang masih menumpuk. Gimana kalau kita kerja bareng?”

“Bisa aja sih. Tapi di kost-kostanku untuk sementara nggak bisa menerima tamu.”

“Gimana kalo kita ke kostannya Deny?” tawar temanku sedikit memaksa.

“Oke. Aku siap-siap dulu” jawabku mengakhiri percakapan kami pagi itu.

Pukul 08 lewat aku sudah selesai berberes. Kuambil handphone yang kuletakkan di atas kasur saat aku bergegas mandi tadi dan kulihat sebuah pesan SMS Collect yang menyuruhku untuk tekan “YES” agar pesan yang disampaikan kepadaku bisa masuk. Kemudian kubalas pesan SMS Collect itu dengan mengirimkan kata Yes sesuai yang diperintahkan. Tak lama kemudian, sebuah pesan dari temanku masuk.

“Bro, 5 menit lagi aku sampai kostmu” katanya.

“Oke” jawabku singkat.

Lebih dari 5 menit aku menunggu, baru temanku itu tiba. Tanpa basa-basi lagi kami langsung berangkat ke kost Deny, teman sekelas kami. Tak lupa helm kakakku kupakai agar tertib berlalu lintas. Selain itu kami juga menggunakan masker sebagai alat perlindungan diri sesuai anjuran pemerintah.

Setibanya kami di kost Deny, tampak dari depan gerbang ada sebuah wadah cuci tangan berupa hand sanitizer dengan sebuah pesan diatasnya “cuci tangan dulu sebelum masuk kost ini”. Sontak dalam hati aku memuji tuan kost ini. Dalam lamunanku, aku mengandaikan kost tempatku juga dibuatkan seperti ini.

“Wah asyik yah di kost ini ada tempat cuci tangan bagi tamu” kata temanku membuyarkan lamunanku. 

“Iya yah. Ini baru kost-kostan mantap” jawabku.

Baru beberapa langkah menuju kost tempat teman kami, Deny berada, kami dikejutkan dengan sapaan yang tak asing bagi kami. 

“Kok tumben sekali kalian berdua datang di kost saya?” kata Deny menyapa kami.

Kami tahu itu bukan sapaan biasa. Tapi berupa sindiran karena kami memang jarang sekali berkunjung ke kostan Deny.

“Hehehe iya, Den. Kami mau belajar bareng sama kamu biar tugas-tugas kita cepat kelar,” jawab Rio sekenanya saja. Aku hanya tersenyum. Lalu meneruskan langkah kaki menuju kamar kost Deny. Aku tahu persis siapa Deny. Kata-kata sindirannya itu sudah menjadi makanan kami sehari-hari ketika kami sedikit berselisih pendapat.

“Oh iya. Tugasnya pak Gusti, sudah kamu kerjakan?” Tanya Deny tiba-tiba. 

“Aku sih belum. Masih fokus ngerjain tugas yang lain” jawabku.

“Kalo kamu, Yo?” Tanya Deny pada Rio.

“Gimana mau kerja, bro. Sudah dari Minggu lalu aku nggak ada paket internet. Makanya kemarin-kemarin aku nggak absen di classroom,” jawab Rio.

“Oh jadi ini alasannya kamu ngajak kerja bareng tugas-tugasnya di kost aku?” selidik Deny.

“Bisa jadi sih,” jawabku menimpali.

Dua setengah jam kemudian, kami baru menyelesaikan satu tugas. Kami lebih banyak berkhayal tentang pembagian kuota internet gratis dari kampus kami seperti yang dilakukan beberapa kampus lainnya. Sebut saja seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus). 

Di Bali sendiri, kuota internet gratis ini dipelopori oleh Kampus Universitas Udayana (Unud) yang memberikan bantuan kuota internet sebesar 25 GB per bulannya. Kemudian diikuti lagi oleh Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), dan Institut Stikom Bali.

“Eh, kalian ingat nggak dulu waktu awal-awal kita masuk kuliah?” tanya Rio tiba-tiba. 

“Ingatlah. Emang kenapa?” Deny balik bertanya.

“Kok tiba-tiba kamu tanya begitu, Yo?” tuntutku pada Rio.

“Syukurlah kalo ingat,” jawab Rio. “Dulu waktu awal-awal kita masuk kuliah, BEM dan semua mereka yang termasuk dalam organisasi mahasiswa yang punya akses lebih pada birokrasi kampus, ketika mereka punya rencana mengadakan kegiatan kita-kita ini diwajibkan untuk mengikuti. Tahu kenapa? Alasannya agar kita dapat sertifikat yang maha wajib itu. Dengan segala kuasanya, mereka memaksa kita, bukan?” Lanjut Rio diikuti dengan sebuah pertanyaan.

“Iya. Waktu itu aku rela ikut dan bayar. Dan akhirnya apa? Menjelang akhir bulan, beras persiapanku sudah tinggal sedikit. Beruntung aku bisa mengakalinya dengan mencampurnya dengan mie instan,” jawabku.

“Hahaha, itu kamu bilang mengakalinya?” tanya Deny padaku.

“Iyalah. Toh dalam nasi ada karbohidrat. Dalam mie instan juga ada kandungan karbohidrat. Jadi, kalo masak nasi ditambah mie, hasilnya kenyang”

Mendengar jawabanku, Deny dan Rio tertawa terbahak-bahak. Aku pun ikut ketawa mengenang peristiwa itu.

“Eh eh tunggu,” kataku menghentikan tawa mereka. “Tapi kenapa tiba-tiba Rio cerita begini? Kenapa tiba-tiba yang di bawanya adalah BEM?” tanyaku lagi karena rasa penasaranku tadi belum hilang. 

“Ah masak sih kamu nggak tahu?” Deny balik bertanya padaku.

“Iya, beneran aku nggak tahu” jawabku.

“Jadi gini…” Belum selesai Deny berkata, Rio langsung memotong pembicaraannya.

“Biar aku aja Den yang jelasin,” kata Rio. “Jadi gini, dulu tuh, mereka yang mengatas namakan BEM aktif sekali mengekploitasi kita,” lanjut Rio.

“Kok kamu ngomong gitu?” Tanyaku lagi pada Rio.

“Ya iya. Kalo bukan eksploitasi, apa namanya? Dengan segala kewajiban yang mereka adakan yang bahkan tidak ada manfaat akademis buat kita sebut saja seperti konser-konser nggak jelas itu” jawab Rio dengan sedikit penekanan pada kata “wajib”.

“Iya juga sih. Aku juga dulu sangat merasakan dampaknya. Melakukan sesuatu dengan sangat terpaksa. Demi sebuah sertifikat hasil paksaan diri, nurani rela berbohong pada orang tua. Bahkan sakit hampir mati di kost gara-gara nggak makan sehari demi bayar uang wajib dari BEM itu pernah terjadi dalam hidupku,” jawabku.

“Lalu kita harus gimana lagi? Kita nggak punya orang dalam di kampus yang bisa mengerti permasalahan kita-kita ini. Lalu dalam situasi seperti sekarang ini, kita mau andalkan BEM bersuara atas nasib kita? Tidak mungkin. Mereka tidak akan pernah mau tahu tentang nasib kita. Mereka tidak akan pernah mau tahu bagaimana rasanya kita diberhentikan dari pekerjaan dan berjuang menentang himbauan pemerintah agar tetap di rumah aja. Sebab yang mereka tahu hanya bagaimana program kerja mereka berjalan. Kita kan bukan termasuk dalam program kerja mereka. Manusia-manusia kayak kita-kita ini, hanya akan dicari apabila ada kegiatan yang katanya wajib itu. Setelah itu, mereka hilang. Beruntung mereka nggak menebar janji manis layaknya mantanku yang pergi tiba-tiba disaat aku lagi sayang-sayangnya. Percaya deh, mereka hanya akan ada kalau mereka butuh kita. Selebihnya, nihil. Tidak ada.”

Aku tercengang mendengar penjelasan Rio. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi sebab aku pun pernah merasakan hal yang sama. Suasana jadi hening.

“Oh iya, kemarin aku sempat membaca berita tentang bagaimana mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa protes kebijakan kampus yang belum memberikan subsidi pulsa untuk mahasiswanya selama pelaksanaan pembelajaran daring (dalam jaringan). Seandainya BEM kita juga begitu, pasti nama mereka kukenang sebagai BEM terbaik yang pernah kita miliki.” Kata Deny memecah keheningan. 

“Ya benar. Andai ini benar-benar terjadi di kampus kita, aku akan menyimpan mereka dalam memori kenangan yang paling dalam bahwa kita pernah punya BEM yang menyuarakan aspirasi mahasiswa,” jawabku membalas kata-kata Deny.

“Andai BEM itu bukan Badan Eksploitasi Mahasiswa, sudah barang tentu kita-kita ini tidak mengharapkan sesuatu yang tidak pasti dari kampus kita terkait kebijakan kuota internet gratis. Sudah barang tentu, orang-orang macam aku ini tidak membohongi kalian berdua agar kerja bareng tugas-tugas dari dosen lantaran aku tak punya paket internet. Di mana BEM kita? mengapa mereka seakan hilang dari peradaban?” Respon Rio.

“Tapi katanya sudah ada usaha dari BEM kita untuk membicarakan hal ini. Benar?” tanyaku pada mereka berdua.

“Entahlah. Ini benar atau tidak, kita tidak tahu. Sebab di Instagram tempat para BEM dan segala yang mengikuti mereka tidak ada postingan tentang bagaimana atau apakah mereka pernah berbicara pada birokrat Kampus. Kalau pun mereka pernah berbicara tentang hal ini, lalu kenapa mereka tidak mempublikasikan saja biar kita semua tahu?”

“Mungkin itu bersifat pribadi antara BEM dan jejaring mereka dengan para birokrat kampus, bro. Siapa sih kamu jadi harus tahu kegiatan apa yang mereka sudah lakukan untuk kita?” Jawabku sekenanya saja.

“Ya kita kan mahasiswa, bro. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, kenapa harus ada yang ditutup-tutupi?” tanya Rio 

“Iya juga sih. Ah seandainya BEM kita…,” Belum selesai aku berbicara, tiba-tiba Kakak Deny menghentikan pembicaraan kami.

“Mari makan dulu. Ini sudah jam dua lewat,” kata kakak Deny dari dalam kost. Kata-kata itu sekaligus menutup percakapan kami siang itu.

~ Tamat

.

.

Jokowi: Saatnya Kerja dari Rumah, Belajar dari Rumah, Ibadah di Rumah

https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2020/03/15/1423261/jokowi-saatnya-kerja-dari-rumah-belajar-dari-rumah-ibadah-di-rumah

Catat, Wajib Pakai Masker Buat Semua Warga RI Mulai Hari Ini!

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20200405174659-33-149879/catat-wajib-pakai-masker-buat-semua-warga-ri-mulai-hari-ini

Kuliah Online Diperpanjang, 3 Kampus Ini Beri Mahasiswa Kuota Internet Gratis

https://m.kumparan.com/kumparannews/kuliah-online-diperpanjang-3-kampus-ini-beri-mahasiswa-kuota-internet-gratis-1t7uJX54sMO

Kuliah Online, Kampus Unud Beri Kuota 25 GB Per Bulan ke Mahasiswa

https://radarbali.jawapos.com/read/2020/04/11/188392/kuliah-online-kampus-unud-beri-kuota-25-gb-per-bulan-ke-mahasiswa

Kuota internet gratis bagi mahasiswa Undiknas

Bantuan Paket Internet Universitas Pendidikan Ganesha

https://drive.google.com/file/d/14wrKHRp8lSfrFBrO6uTxd6IuK5EIL-n6/view

Kartu Internet Tri untuk belajar #dirumahaja khusus mahasiswa stikom Bali

Terkait Belajar Daring di Rumah, Mahasiswa UI Protes Kampus Belum Juga Berikan Subsidi Pulsa

https://indopos.co.id/read/2020/04/15/230799/terkait-belajar-daring-di-rumah-mahasiswa-ui-protes-kampus-belum-juga-berikan-subsidi-pulsa/

Mengenal Organisasi Kampus: Bedanya BEM, BPM dan HM

https://m.kumparan.com/millennial/mengenal-organisasi-kampus-bedanya-bem-bpm-dan-hm-1535619911433369749

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *