Anti Tabu-Tabu Dengan Pendidikan Seksual

Apa yang terlintas dipikiran kalian ketika mendengar seks? suatu hal yang porno? tidak nyaman? atau tidak mau tahu karena merasa belum cukup umur? Sangat disayangkan. 

Pada kurikulum pendidikan tahun 2013, pendidikan seksual sudah diintegrasikan dalam pelajaran biologi. Namun, langkah yang baik dan patut diapresiasi ini dipertanyakan; “edukasi dan pendidikan seksualnya kayak gimana, tuh?” Karena kebanyakan dipikiran masyarakat Indonesia masih tertanam Abstinence-only Sex Education (AOE) yang hanya mengajarkan remaja untuk tidak melakukan hubungan seksual sama sekali.

Let me tell the truth, AOE ini hanya membuktikan tidak efektif dan gagalnya cara edukasi seks yang benar. Biasanya, dalam program AOE ini, tidak memberikan cukup informasi yang komprehensif mengenai metode kontrasepsi yaitu kondom, yang mana kita ketahui dapat menurunkan risiko kehamilan maupun penyakit menular seksual yang berbahaya. Dalam program ini juga menerangkan bahwa penyakit menular seksual adalah dampak mutlak bila remaja melakukan hubungan seksual.

“Lho tapi kan ngga salah, malah bagus kan seks cuma diajarin pas nikah aja? Biar ngga hamil diluar nikah.”

Salah. Kehamilan diluar nikah malah disebabkan karena tabu dan kurangnya pendidikan seksual dan paham AOE ini.

Kenapa AOE terbukti tidak efektif bahkan cenderung membahayakan? Karena seksualitas adalah hal yang sangat dekat dengan manusia, seks adalah kebutuhan biologis mendasar manusia yang mau tidak mau pasti akan muncul ketika manusia memasuki masa dewasa. Sama dengan mengabaikan fakta bahwa remaja sedang melewati fase ketika mereka mengeksplorasi tubuh dan seksualitas mereka yang cenderung luas namun krusial, dan tidak menutup kemungkinan mereka akan mencoba melakukan hubungan seksual. Masa sih mau dipelajari ketika akan menikah saja? Kebiasaan orang Indonesia, nih.

Lalu, selain hanya memperbolehkan seks dalam pernikahan heteroseksual—yang katanya dijadikan satu-satunya pilihan bermoral— saat berusia matang, alat kontrasepsi juga hanya dipandang sebagai alat untuk mencegah kehamilan. Padahal alat kontrasepsi memiliki banyak manfaat lain seperti preventif mencegah kehamilan yang belum diinginkan hingga mencegah STD (penyakit menular seksual). Namun, pengertian alat kontrasepsi seperti kondom dan pil KB sebagai pencegah kehamilan juga menimbulkan stigma buruk yang berarti bisa digunakan untuk seks bebas atau mengganggu wanita yang merencanakan kehamilan.

Pendidikan AOE tidak memfasilitasi remaja untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang identitas dan jati diri seksualnya, tidak bisa mengerti dirinya sendiri,  diserukan jika hanya ada manusia heteroseksual —harus heteroseksual— dan ini adalah satu hal yang valid yang bisa diterima masyarakat. Patokan gender role dalam seksualitas menjadi penentu nilai dan harga diri seseorang.

Lalu pendidikan seks apa sih yang efektif?

Mari mengenal Comprehensive Sex Education (CSE).

CSE ini juga menekankan pentingnya abstinence, namun tidak seperti AOE, CSE menerangkan bahwa seksualitas adalah hal yang normal dalam kehidupan manusia. Pendidikan ini menginformasikan terkait seksualitas yang sesuai dengan umur dan juga akurat secara medis. Sebab, edukasi seks tidak hanya tentang hal-hal berhubungan seks, tapi juga perkembangan seksualitas manusia dari puber hingga dewasa, cara membangun hubungan yang sehat, metode-metode kontrasepsi, dan pencegahan penyakit seksual. CSE membantu anak atau remaja mempersiapkan diri jika mereka memasuki fase aktif secara seksual. 

Selain itu, pedoman ini juga mencegah stigma buruk masyarakat yang beranggapan mengajarkan pendidikan seks sejak dini membuat remaja ingin atau mendukung mereka melakukan hubungan seksual. Padahal dengan CSE ini remaja dapat mengurangi jumlah pasangan seksual, mengurangi frekuensi hubungan seksual, meningkatkan pemakaian kondom, dan menurunkan tingkat penyakit menular seksual.

Kok CSE ini bisa efektif?

Pada dasarnya, pendidikan seksual adalah hal yang penting. Remaja yang kurang informasi cenderung “sok-tahu” dan akan melakukan hal yang tidak benar dengan pengetahuan yang minim. Dengan dibekali pendidikan dan informasi yang lengkap serta akurat, mereka akan rentan terhadap baik-buruknya perilaku hubungan seksual yang tidak aman dan mengetahui cara agar terhindar dari kemungkinan terburuk.

Terlepas dari hal tersebut, remaja juga mempunyai hak untuk teredukasi mengenai hal-hal terkait kesehatan seksual dan reproduksi. Karena jika ini diabaikan, remaja akan mencari informasi yang mungkin keliru dan membahayakan mereka. Mereka juga harus berada dalam lingkungan yang terbuka dan positif. Dimulai dari orang tua yangmana dewasa ini masih menganggap membicarakan seksualitas kepada anak adalah hal yang memalukan dan tabu. Harusnya merekalah yang pertama mengedukasi anak usia dini dengan cara positif dan tanpa menghakimi. Selain itu, jika pendidikan seksual dari bangku sekolah tidak bisa diandalkan, saat ini sudah banyak platform media sosial yang menebarkan edukasi seksual yang kredibel seperti Asmaraku_id, Tabu.id, Aku Devvasa, MKM Indonesia, Kisara Bali, Catwomanizer, dan masih banyak lagi.

Perlu diingat, semua orang berhak mendapatkan pendidikan seksual yang cukup tanpa rasa malu, penghakiman, tidak merasa sendirian, agar mempunyai bekal menuju remaja dan rasa tanggung jawab atas perilaku sendiri.

Oleh : Devik Widia.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *