Arsip Bali 1828: Meneropong Pesona Alam dan Budaya Bali 1930

Denpasar_Wahana Lingkungan Hidup (WALHI Bali) mengadakan diskusi bertajuk BERSUA: ruang temu untuk mencari tahu dengan menayangkan sinema Bali 1928: Meneropong Pesona Alam dan Budaya Bali 1930 pada Minggu, 09/02/2020.

Suasana saat nonton bareng penayangan arsip Bali 1928

Acara diskusi bincang santai ini dipandu oleh moderator Gilang Probagila dengan dua orang narasumber Dr.Edward Herbst (peneliti utama arsip Bali 1928) dan Marlowe Bandem (koordonator arsip Bali 1928).

Hadir sebagai ruang untuk mencari tahu tentang arsip Bali 1928, BERSUA kali ini mencoba untuk menarik benang merah terkait cikal bakal pariwisata di Bali yang dimulai dari kedatangan bangsa-bangsa Eropa, khususnya Belanda yang melakukan perjalanan ke Bali disekitar tahun 1597. Kemudian berlanjut dengan babak awal perkembangan pariwisata di Bali yang dimulai pada tahun 1920-an juga oleh pemerintah kolonial Belanda, melalui perusahaan KPM; Koninklijke Paketvaart Maatschappij di skitar 1920-an.

Seiring dengan bertumbuhnya jumlah wisatawan yang datang ke Bali, terdapat beberapa antropolog yang tertarik mempelajari adat istiadat orang Bali. Sebagian dari mereka menulis dan mendokumentasikan temuan-temuan serta interpretasinya tentang Bali yang kemudian menyebar luas tak hanya menjadi sumber informasi bagi masyarakat dunia, tapi juga dimanfaatkan pengusaha jasa pariwisata untuk membangun citra Bali yang magis, eksotis, romantis.

Koordinator Arsip Bali 1928 mengatakan bahwa arsip Bali merupakan suatu program kolaborasi lintas disiplin ilmu yang berkenaan dengan tiga hal, yaitu repatriasi, restorasi dan resiminasi.
“Arsip Bali 1928 adalah sebuah kolaborasi yang tidak hanya lintas media, tetapi juga lintas apa namanya, lintas disiplin ilmu. Sejak tahun 2013, kami telah berkolaborasi secara intens dalam sebuah program yang bernama arsip Bali 1928, yang memang berkenaan dengan tiga hal. Yang utamanya adalah repatriasi atau pemulangan kembali, yang kedua adalah restorasi terkandung pemugaran, dan yang terakhir adalah resiminasi atau penyebarluasan daripada dokumen-dokumen bersejarah yang berkaitan dengan Bali Riera tahun 1930-an” ujar Marlowe Bandem.

Lebih lanjut, Marlowe Bandem menjelaskan bahwa sesungguhnya kisah pengumpulan arsip Bali 1928 ini bermula ketika peneliti utama arsip Bali 1928, Dr. Edward Herbst berkeliling dunia untuk mengumpulkan piringan hitam.
“Sesungguhnya kisah daripada Bali 1928 ini bermula dari ketekunan bapak Edward ini puluhan malah sampai ratusan isi piringan hitam yang kemudian mendorong bapak Edward Herbst untuk datang ke Bali dan secara intens berkeliling dunia untuk mengumpulkan piringan hitam yang pada tahun 1928 dan 1929 proses perekammannya dilakukam oleh dua lebel rekaman dari jerman bernama Odien dan Beka” lanjut Koordinator Arsip Bali 1928 tersebut.

Sambil menunjukkan gambar pada tampilan layar di depannya, peneliti utama arsip Bali 1928 mengatakan bahwa ia mendapatkan identitas daripada foto-foto atau video yang menjadi arsip Bali 1928 adalah dari peneliti berpengaruh bernama Colin Mcphee
“Untuk mendapat identitas, tempat-tempat, seniman-seniman, banjar-banjar, kami dapat informasi dari foto-foto Mc Phee atau buku-buku McPhee pada saat dia menulis nama-nama gamelan, nama-nama Banjar di foto. Dan saya sudah memeriksa ribuan foto yang ada tulisan. Dan oleh karena itu pada saat kami melihat film tanpa judul, oleh karena saya sudah memahami, kami dapat pastikan identitas” ujar Dr. Edward Herbst.

Selain itu Dr. Edward Herbst mengatakan bahwa ada keingin dirinya bersama tim peneliti arsip Bali 1928 untuk terus mencari tahu data yang berupa foto atau video yang belum memiliki keterangan penjelas melalui generasi tua yang umurnya sudah lebih dari 90 tahun.

“Ada satu jenis repatriasi pemulangan kembali dalam program ini yang asal dari Bali sebenarnya, oleh karena generasi yang tua, yang panglingsir, itu orang yang dicari oleh tim kami. Kami selalu mencari seniman yang berumur untuk mencari kalau ada media atau data, foto atau video yang belum ada teks penjelas, untuk mengingatkan kembali tengang peristiwa lampau itu” lanjut Peneliti Utama Arsip Bali 1928.

Ada nilai sejarah dan relasi yang tak bisa dipisahkan antara arsip Bali 1928 dengan dinamika pariwisata di Bali. Arsip-arsip ini turut berkontribusi dalam pembentukan embrio pariwisata Bali hingga menjadi industri yang sangat menguntungkan saat ini. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah arsip Bali 1928 kita apresiasi sebagai bentuk penghargaan terhadap karya nyata keagungan Tuhan pada pulau Bali yang bukan hanya pesona alamnya yang indah, tetapi juga budayanya yang menawan

Reporter : Yunda Papu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *