AYO, SERAHKAN UANGNYA

Telah beredar luas di surat kabar Cakrawala. Kota Manodhara telah dinobatkan sebagai kota nomor satu yang paling intoleran dan tidak aman sekaligus. Dalam empat tahun belakangan ini, sekitar 26 survei baik lokal maupun nasional menyebut terjadi pertambahan rata-rata 514 kasus kriminal setiap triwulan mulai dari pencopetan, pemalakan, perampokan, pembunuhan, termasuk kasus persekusi yang meningkat tajam setiap bulan September-Oktober hingga illegal sweeping terhadap puluhan warung makan setiap bulan puasa datang.

“Pak Mudhomo”.

Hanya nama itu yang senantiasa disinggung-singgung jika membahas predikat “membanggakan” yang didapat kota Manodhara tersebut. Nama yang menurut warga sekitar selain menjadi simpatisan perkumpulan-perkumpulan yang senantiasa mempromosikan diri sebagai “yang terdekat dengan Tuhan”, juga mengerahkan ribuan “anjing-anjing liar” yang rajin mengoyak ketentraman warga kota Manodhara.

Meskipun sampai saat ini tidak ada bukti konkret tentang semua rumor tersebut, tetapi toh seluruh warga kota Manodhara mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek berkaki pincang sudah melihat secara nyata bentuk dari kezaliman itu. Bagaikan sebuah lingkaran setan yang tak berujung. Setiap kali membahas tentang seseorang bernama Mudhomo tersebut, wajah kaum adam di kota tersebut berubah menjadi keras, penuh kemarahan. Sementara wajah kaum hawa selalu menghela nafas pasrah setelah pembahasan tersebut berakhir. Wajah-wajah yang tidak bisa berharap banyak lagi pada hukum dan para penegaknya.

Di suatu sore di sudut kota Manodhara, seorang kakek berkaki pincang menyeberang jalan atas bantuan dari seorang polwan lalu lintas. Mungkin dipikirnya kakek tersebut kesulitan karena membawa sebuah koper besar tanpa mengindahkan kondisi fisiknya.

“Terima kasih, nak,” ucap sang kakek datar sambil mulai mengenakan masker berlapisnya. Tampak tak memedulikan polwan tersebut sejak awal.

Dengan langkah pincangnya, ia bergerak menuju sebuah gang kecil. Setelah ratusan meter ia melewati gang penuh sampah tersebut, ia bertemu segerombolan orang berbadan kekar berbaju hitam yang berbaur dengan orang-orang kurus berbaju serba putih. Ketika mereka melihat sang kakek mendekat, mereka langsung siaga menghadang dengan wajah garang.

“Ayo, serahkan uangnya,” ujar salah satu dari mereka sambil menengadahkan tangannya.

Kakek itu masih belum bereaksi. “Anjing-anjing liar” itu pun secara pelan-pelan mulai mengelilingi dirinya.

“Masih keras kepala juga?” Ejek yang lainnya. “Tau kan sekarang akibatnya kalau berani menentang keinginan tuan kami?”

Kakek itu hanya tersenyum tipis dan segera menyerahkan kopernya. Segera setelah koper tersebut beralih tangan, mereka langsung mengelilingi benda hitam tersebut bagai lalat buah. Wajah mereka tampak sumringah, lebih sumringah lagi ketika mengetahui kopernya tidak diisi pengamanan yang menyusahkan. Ketika koper tersebut terbuka sedikit, tampaklah hamparan kertas merah yang menggiurkan layaknya daging segar bagi mereka.

            Merasa masih tidak percaya bisa mendapatkan uang 75 milyar dalam sekejap mata, mereka membuka koper tersebut lebih lebar lagi. Namun…

            …sebuah benang tipis terputus di kedua sisi koper. Dan setelahnya, gas berwarna ungu pekat langsung menyebar keluar dari dalam koper. Tidak sampai empat detik, beberapa dari orang-orang tersebut langsung terjatuh lemas. Beberapa dari mereka refleks menutup hidungnya, tetapi toh gas itu bisa masuk melalui mata, mulut, bahkan telinga. Tampak mereka semua mulai kesulitan berdiri dengan sekujur badan gemetaran.

            “Haa, nampaknya sayang sekali ya, uangnya,” ujar kakek tua tersebut. Tertawa sadis dari balik topeng masker gasnya.

            “Kau!! Sialaaann!!!!!” teriak salah satu dari mereka. Mencoba mencabut topeng masker tersebut, tetapi kaki ketiga kakek tersebut langsung menyabet pelipisnya tanpa ampun. Dan sekali lagi kakek tersebut tertawa, mengobarkan nyala api hitam pada jantungnya.

            “Kau adalah perlambang dosa yang sempurna, Mudhomo!!! Kau hancurkan kedamaian kota kami!!! Kau hancurkan masa depan anak-anak didikku dengan merangkul ajaran sesat!!!! Kau merampas setiap hak untuk makan, untuk minum, untuk bersuara, untuk bernafas, bahkan untuk tersenyum!!!! Jika hukum sekalipun tidak bisa menjadi juru adil untuk kota tercinta kami, maka biarlah aku, atas restu penduduk kota ini yang akan mengantarkan keruntuhan citramu, Mudhomo!!!! Dan bila aku tidak bisa menancapkan belati keadilan ini langsung padamu, maka aku akan mulai dengan menancapkannya pada anjing-anjingmu ini, hama bagi kami semua!!!!! Bersiaplah kau, Mudhomo!!!!!!!” teriak kakek tersebut. Setelah itu, ia segera mengambil kembali koper tersebut dan pergi…

            …sementara mayat bergelimpangan di belakangnya, berpadu sempurna dengan bau busuk lorong tersebut. Sang Surya beranjak kembali ke peraduannya, seolah ketakutan menyaksikan sikap manusia-manusia durjana yang dinaunginya.

            …

            …

            …

            …

            …

            Apa kalian pernah bertanya-tanya mengapa penduduk kota Manodhara tidak pernah lagi risih dengan dua predikat yang disandangnya tersebut? Mungkin sebaiknya kalian tidak perlu bertanya-tanya lagi mulai saat ini. Berharap sajalah agar tidak ada kota Manodhara lainnya lagi di bumi pertiwi ini. Satu contoh buruk terkadang memang lebih ampuh menyengat kesadaran dibandingkan seribu contoh baik.

Oleh: Yogananda

Ilustrasi: Jakub Schikaneder 1902

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *