BERKAH MENAKJUBKAN DARI SANG BARA API TERPANAS

Judul : Mengolah Kemarahan menjadi Kedamaian

Penulis : (Guruji) Gede Prama

Tahun Penerbit : November 2018

Penerbit : Compassion Bali

Jumlah Halaman : 198 Halaman

Intisari:

Pengetahuan universal senantiasa menyatakan bahwa tidak ada bara api yang lebih panas dibandingkan kemarahan. Karena kemarahan-lah, seluruh sendi-sendi kehidupan bisa hancur. Ada lima tingkat kemarahan, yakni dimulai karena harapan yang tak terpenuhi, lingkungan tinggal yang pemarah, pengalaman traumatis, menentang panggilan jiwa, hingga buah perbuatan hasil reinkarnasi. Diibaratkan seperti daun kering yang jika ditaruh di bawah pohon dapat menumbuhkan buah atau bunga, maka kemarahan jika dikelola secara bijaksana melalui pengendalian pola berpikir akan menghasilkan pencerahan spiritual yang sangat dalam. 

Pengendalian tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pelayanan Bhakti kepada sang Guru kerohanian agar mendapat cahaya suci berupa ajaran spiritual yang mencerahkan. Bhakti secara meyakinkan dapat membantu pengelolaan rasa sakit dan penderitaan menjadi sebuah ajaran suci. Oleh Bhakti, Karmaphala dapat mengalami tiga kondisi. Pertama, senantiasa akan berbuah pada keadaan yang tepat untuk pencerahan spiritual. Kedua, beban phala buruk dapat diringankan. Ketiga, beban phala dapat terhapus dan termurnikan sepenuhnya. Kesalahan seberat apapun dan ruang masa lalu sekelam apapun, dengan tekad Bhakti yang kuat maka jiwa tidak akan menjadi celaka dan sebaliknya akan penuh cahaya.

Namun jika belum memiliki tekad yang mantap, maka pengendalian dapat dilakukan dengan menutrisi pikiran dengan kebiasaan, tontonan, bacaan, pergaulan, hingga tempat berkembang yang tepat. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan membentuk jembatan keterhubungan spiritual dengan alam serta belajar hidup mengalir bagaikan air. Agar segala keindahan dan siklus kesempurnaan alam yang pasti terjadi dapat menjadi pembelajaran untuk menerima segala sesuatu dan menghadapinya dengan senyuman.

Berbicara tentang kehidupan spiritual sebagai kesembuhan, maka harus disadari terlebih dahulu bahwa kata ‘sembuh’ (atau apapun yang terasosiasi dengannya) sama sekali bukan lawan dari ‘sakit’. Tubuh manusia adalah sarana material untuk perkembangan spiritual yang sempurna. Tubuh diibaratkan sebagai sebuah buku suci dan pembawa pesan spiritual bagi sang jiwa. Kendati setiap harinya tubuh selalu terkena penyakit fisik, penyakit pikiran, maupun usia tua, sejatinya kita sendiri sebagai sang jiwa-lah yang berkuasa menentukan apakah ingin membawa bahaya atau cahaya dari semua penggalan perjalanan hidup tersebut. Jangan pernah memusuhi tubuh sendiri, karena tubuh dan jiwa yang tak sinkron adalah magnet bagi segala masalah kehidupan. Penyakit pikiran seperti trauma kehidupan bahkan dapat diolah menjadi Dharma, yang disebut sebagai post-traumatic enlightenment.

Seperti halnya penyakit, usia tua juga bukan lawan dari kebahagiaan melainkan sarana untuk belajar menyempurnakan keikhlasan. Sebagaimana ulat harus melalui masa menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu, demikian juga ada masa-masa keruntuhan dan penderitaan sebelum mencapai kesempurnaan spiritual. Usia seorang manusia diibaratkan sebagai dua bab, dimana kebanyakan tidak mampu menghadapi bab kedua yakni usia tua dengan damai. Karena itu, ada tiga gerbang yang perlu dilalui sebelum memasuki bab kedua yakni (proses) transformasi, perbedaan (distinction), dan penyelesaian (completion). Ketika seseorang telah melalui ketiga gerbang tersebut, maka akan muncul suatu kondisi yang sering dijelaskan sebagai, “ketika mencari Tuhan, saya menemukan diri saya sendiri. Dan ketika mencari diri saya sendiri, saya menemukan Tuhan.”

Bahkan tidak hanya masalah penyakit dan usia tua, tetapi tata krama lingkungan sekitar juga turut menciptakan masalah emosional yang akhirnya meracuni jiwa. Hal itu disebabkan karena kesopanan, tata krama, norma, serta etika lingkungan sering kali menjadi kaku dalam batasan benar-salah serta pantas-tidak pantas. Banyak perasaan serta gagasan yang sering tertekan dan tersembunyikan dalam jangka waktu lama sehingga akhirnya berkembang menjadi ketakutan dan selanjutnya penderitaan. Karena itulah, penting untuk tetap mampu mengekspresikan perasaan serta gagasan yang tertekan tersebut secara rahasia melalui suatu catatan pribadi seperti buku harian. Membentuk semacam historical, social, dan emotional self. Dan dari sanalah, amati dengan tenang segala dualitas yang muncul tanpa menghakimi agar memunculkan the eternal self.

Dari munculnya the eternal self itulah, kebebasan sejati mengikuti sehingga ketika berada di lingkungan yang bermusuhan sekalipun seseorang dapat menjauh tanpa menjelek-jelekkan serta bersedia mengalah dalam segala kondisi untuk menciptakan keindahan. Karakter empati adalah bagian integral dari the eternal self tersebut, yaitu sebuah kemampuan untuk mengolah luka jiwa menjadi cahaya pencerahan dengan menggunakan perasaan sebagai kompas perjalanan. Dalai Lama mengatakan bahwa empati adalah cerminan kualitas sejati seorang manusia sekaligus obat yang paling dibutuhkan dunia saat ini.

Berbicara tentang kehidupan spiritual sebagai kedamaian, tidak hanya tubuh yang mampu merasakan lapar melalui bunyi perut untuk mendapat makanan, tetapi juga pikiran melalui pertanyaan untuk mendapat jawaban, serta sang jiwa melalui pengembaraan untuk mendapat kebahagiaan. Sang jiwa secara natural membutuhkan kebahagiaan, yang pada zaman modern secara perlahan mulai tergerus karena perkembangan dan kemajuan dunia yang semakin pesat. Hal tersebut akhirnya memicu seseorang untuk melakukan bunuh diri, dosa spiritual paling berbahaya atau mencari kebahagiaan lewat jalan yang berbahaya seperti narkoba, seks bebas, bahkan hingga berani membayar mahal (KKN) untuk mendapat kebahagiaan. Akibatnya, bukannya meninggal karena kekurangan makan serta gizi buruk, tetapi lebih banyak meninggal karena kebanyakan makan serta penyakit metabolik.

Dari segi spiritualitas, hukum mengenai dualitas adalah sebuah keseimbangan yang wajib dijalani oleh setiap makhluk hidup. Ketidakseimbangan terjadi ketika seseorang hanya menginginkan hal-hal yang baik, yang memuaskan, yang enak dalam kehidupan serta menolak hal-hal sebaliknya. Melawan hukum alam yang sudah pasti seperti itulah sumber penderitaan seseorang. Dan memahami dalam-dalam hukum tersebut pastinya akan memunculkan kedamaian. Sejak awal masa kehidupan seseorang sudah harus dilatih untuk berpikir secara indah, yakni merupakan cara berpikir yang melihat phala atau buah hasil datang dari cara diri sendiri bereaksi terhadap suatu kejadian, bukan dari kejadian itu sendiri. Pada saat mengenal stimulus atau rangsangan yang baru, otak manusia pada bagian Amygdala cenderung akan meresponnya secara negatif sebagai bentuk insting perlindungan. Namun ketika respon negatif ini dibiarkan berlarut-larut, maka badai konflik dalam pikiran akan terus terjadi. Kembali lagi seseorang harus memahami dalam-dalam hukum dualitas tersebut, agar dapat menemukan ke-u-Tuhan di dalam. Dengan terbiasa memberi senyum dan permakluman terhadap segala dualitas, maka penyakit kronis yang diderita sekalipun mampu menjadi sarana kebahagiaan dan kedamaian.

Dengan terbiasa memiliki cara berpikir yang indah, maka seluruh isi bumi, seluruh kota, seluruh sekolah, dan seluruh rumah tempat menghabiskan masa tua pun akan berisikan kebahagiaan, kedamaian, dan keindahan. Rumah sesuai definisi dasarnya harus menjadi tempat dimana segala energi dan getaran yang baik terbangun dan terjalin. Tetapi ketika seluruh rumah termasuk gedung perkantoran yang tertutup sudah tidak mendukung semua itu, maka tentunya perlu untuk lebih sering berjalan-jalan di alam bebas untuk mereduksi stress. Bagi orang-orang yang terbiasa travelling, suka mendaki gunung, serta kegiatan dinamis dan menantang adrenalin lainnya, pola makan vegetarian sangat disarankan agar terdapat keseimbangan antara energi pasif dan aktif sehingga pintu kesembuhan dapat tercapai. Hal yang sama juga berlaku untuk seseorang yang lebih sering berdiam diri di rumah, bekerja dengan duduk di meja kerja, atau ibu rumah tangga, pola makan produk hewani sangat disarankan untuk keseimbangan itu kembali.

Demikian pula dengan prinsip berpikir “sekolah kebahagiaan”. Pada dasarnya, keluarga dan ‘masa kini’ adalah sekolah terbaik di dunia. Setiap orang yang memakan/meminum sesuatu yang disukainya atau melakukan kegiatan yang disukainya senantiasa berpikir bahwa kenikmatan sejati berada pada kali selanjutnya hal/kegiatan favorit tersebut didapatkan/dilakukan. Sedikit sekali orang yang berpikir bahwa momen ‘masa kini’ pada saat mendapatkan/melakukan hal/kegiatan favorit tersebut adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya sejati. Seperti halnya seorang murid SD baru merasa bahagia setelah lulus SD, murid SMP baru merasa bahagia setelah lulus SMP, dan seterusnya. Cara hidup “menunda” kebahagiaan tersebutlah yang menyebabkan tingkat stress, kelelahan, hingga bunuh diri selalu tinggi di banyak negara. Janganlah menunda kebahagiaan itu, ekspresikanlah sesederhana sebuah senyuman, yang secara terus-menerus dapat dilatih dalam lingkungan keluarga.

Tanpa memahami prinsip keluarga dan ‘masa kini’ sebagai sekolah terbaik, maka demikianlah yang terjadi pada kehidupan saat ini. Selalu muncul kecenderungan untuk menjadikan tempat atau lingkungan di luar keluarga sebagai ‘rumah’, sebutlah kantor (sebagai rumah orang-orang yang workaholic), organisasi sosial, tempat berbelanja, hingga bar dan tempat-tempat dunia malam lainnya. Ketidakbahagiaan dari lingkungan keluarga yang berantakan, ditambah dengan kerumitan masalah dari tempat-tempat yang secara salah dianggap sebagai ‘rumah’ tersebutlah yang pada akhirnya memicu angka perceraian serta penghuni penjara karena KDRT. Sudah saatnya kota manapun, daerah manapun, serta negara manapun secara pelan-pelan mulai turut memprioritaskan kebahagiaan keluarga sebagai indikator dan indeks keberhasilan mereka di samping indeks GNP. Gagasan semacam ini memang futuristik sehingga agak sulit diterima masyarakat, tetapi tekad yang kuat harus muncul untuk melaksanakannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menyediakan berbagai fasilitas umum yang “family friendly” sehingga mengasah setiap elemen keluarga untuk mengerdilkan ego serta menumbuhkan sikap saling menyayangi (mother instinct) dan saling menghormati (heroic instinct). Mengasah kekeluargaan juga dapat dilakukan dengan menjauhkan atau mengurangi intensitas gawai, berani untuk menyelesaikan masalah, serta berani untuk menerima perbedaan dan keunikan masing-masing untuk menghindari kebosanan.

Adalah sesuatu yang tidak logis jika seekor ikan mati karena kehausan di dalam air, demikian pula seorang manusia mati karena tidak pernah puas dengan tubuh dan dirinya sendiri. Masih berkaitan dengan buruknya menunda kebahagiaan, persaingan terjadi secara berlebihan karena keinginan (bukan kebutuhan) selalu memprovokasi seseorang untuk selalu mengejarnya. Namun ia selalu berlari lebih kencang dibandingkan seseorang yang mengejarnya. Dapat dipastikan bahwa pada akhirnya rasa lelah, gundah, gelisah, dan amarah sehingga menganggap diri sendiri terasa asing. Seperti yang dijelaskan bahwa guru sukacita terdalam adalah dukacita. Dengan dukacita, kita mampu mensyukuri sukacita. Dengan daratan, ikan mampu mensyukuri perairan. Demikian hebatnya kekuatan bersyukur, dengan sadar mampu menjinakkan dan menghapus segala keinginan yang bisa menghalangi sukacita sejati sang diri.

Bersyukur, menoleransi perbedaan, berempati, ketulus ikhlasan, tidak menunda kebahagiaan, tersenyum, dekat dengan alam, menghayati ‘masa kini’, menerima dualitas kehidupan, serta Bhakti yang teguh hendaknya selalu menjadi prinsip dasar setiap individu untuk menjalani hidup. Sebuah pepatah kuno mengatakan bahwa ‘manusia adalah satu-satunya ciptaan alam yang mampu mengubah alam dan kehidupan melalui apa yang ia ucapkan, pikirkan, dan katakan’. Maka, seyogyanya jangan hanya berkutat dan dikacaukan oleh ‘angka 2’ yang menunjukkan dualitas duniawi baik-buruk, benar-salah, aktif-pasif, pantas-tidak pantas, sehat-sakit, sifat Rajas-Tamas, dan sebagainya. Upgrade diri agar bisa melihat segalanya pada ‘angka 3’ yakni menerima serta memaklumi dualitas tersebut pada sifat Sattvam. Orang-orang yang berada pada level ‘angka 3’ mampu melihat segala sesuatu secara holistik tanpa keinginan mengetahui siapa yang benar atau salah. Orang-orang seperti ini memang langka, karena mereka tidak ketakutan dan lari dari bayangan masa lalu dan masalah yang mereka ciptakan sendiri, melainkan merangkulnya dalam hidupnya. Merekalah yang secara sejati layak disebut sebagai “pemberi nutrisi pada sang Bumi” serta selalu menjaga Bumi agar tidak murka dan langsung menyapu bersih semua ketidakseimbangan, bagaikan pohon yang memiliki kemampuan mengelola racun menjadi udara kehidupan.

Kehidupan spiritual memiliki dua aspek berupa kesembuhan dan kedamaian, dengan sepuluh pilar prinsip dasar untuk menjalani hidup. Demikianlah intisari dasar dan kebenaran yang sederhana, seyogyanya dapat menjadi pemandu yang tepat untuk menelusuri hutan belantara kehidupan agar tidak tersesat. Dengan semakin banyak menumbuhkan jiwa-jiwa yang berpegang teguh pada kehidupan spiritual, bukan tidak mungkin kebahagiaan akan senantiasa hadir di planet ini yang dapat menjadi sarana menuju pembebasan sejati.

Oleh : Yoga Nanda

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *