Bintang Emon dan Strategi Pembunuhan Karakter ala Kill The Messenger

Jagat maya per-twitter-an sedang ramai membahas Komika muda, Bintang Emon lantaran kritikannya yang mempertanyakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terkait peringatan tuntutan yang diberikan pada terdakwa kasus penyiraman air keras Novel Baswedan. Dalam video yang diunggah di Instagram miliknya, Bintang Emon menyindir soal alasan yang diungkapkan penyiram air keras kepada Novel Baswedan. Unggahan videonya lantas viral dan mendapatkan banyak komentar dari netizen.

Ada yang mendukungnya untuk tetap menyuarakan pendapat dan kritikannya, namun ada pula yang sebaliknya menuding bahwa Bintang Emon menggunakan narkotika jenis sabu. Bintang Emon lantas jadi viral, bahkan masuk trending topic di Twitter. Bahkan yang lebih parahnya lagi, banyak foto-foto dirinya yang diedit. Dari foto-foto tersebut tercantum kata-kata ‘Jaga Stamina Bintang Emon Akui Pakai Narkoba’. 

Lantas, mengapa hal ini terjadi? Apakah kritikan di negara demokrasi ini tidak diperbolehkan? 

“Bila tak mampu membantah substansi persoalan, maka bunuhlah karakter sang pembawa pesan”. Mungkin, asumsi ini yang paling cocok bila kita mengaitkan rentetan kisah yang terjadi setelah Bintang Emon mengeluarkan sindiran soal tuntutan untuk pelaku penyiraman air keras Novel Baswedan. 

Hal ini mengingatkan kita pada kisah seorang wartawan investigasi Gary Webb dalam film “Kill the Messenger” yang diangkat dari sebuah kisah nyata. Dan memang, teori pembunuhan karakter ala film Kill The Messenger ini nyata adanya. 

Sama seperti Gary Webb yang melalui tulisannya yang viral terkait tuduhannya terhadap CIA yang bertanggung jawab membawa kokain ke Amerika Serikat pada 1980-an, namun kemudian mendapat serangan balik dari tiga surat kabar nasional yakni The Washington Post, The New York Times dan The Los Angeles Time terkait validitas artikel Gary Webb, begitu juga dengan Bintang Emon.

Ketika bersuara menyampaikan kritikannya, alih-alih mendapat dukungan yang banyak. Ia malah diserang dengan tuduhan pengguna narkoba. Sebab pada dasarnya mereka yang menuduh Bintang Emon ini tidak mampu membantah substansi persoalan dalam kritikannya bahwa sesungguhnya alasan peringanan hukuman itu tidak masuk akal. Maka, satu-satunya cara agar dapat membungkam suara kritikannya adalah dengan cara pembunuhan karakter ala Kill The Messeger itu.

Kalau mau supaya kritikannya sama-sama adil, harusnya yang tidak terima dengan kritikan Bintang Emon balas dengan menyajikan argumentasi yang jelas. Sebab kritikan Bintang Emon jelas ditujukan pada perlakuan tidak adil yang diberikan di negeri ini, sehingga kedepannya kritikan-kritikan semacam ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi para penegak hukum. 

Dengan adanya tuduhan semacam ini selepas Bintang Emon mengkritik Jaksa Penuntut Umum, maka besar kemungkinan bahwa apa yang dibicarakan itu benar adanya. Dan yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai kepercayaam rakyat kepada penegak hukum hilang. Jangan sampai kata “hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas” juga benar-benar terjadi. Karena itu, mengkritik suatu ketidakadilan masih merupakan bentuk demokrasi di negara kita. Dan membungkam para pengkritik dengan pembunuhan karakter dan sejenisnya adalah bentuk lain dari penyangkalan demokrasi.

Tapi negeri kita, masih akan ada banyak Bintang Emon lainnya yang kebebasannya untuk berpendapat dan menyuarakan sebuah ketidakadilan yang ada dimasyarakat itu dirampas, bahkan sebaliknya menjadi bersalah atas upaya perjuangannya. Kemudian menjadikannya bak penjahat yang harus dipenjara. Bila tidak diperhatikan, maka hukum di Indonesia hanya akan menjadi bahan tertawaan rakyat karena proses penegakannya yang tidak adil dan berjalan sebagaimana mestinya.

Oleh : Yons Hunga

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *