Feminisme dan Hari Kartini

Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang memperjuangkan emansipasi atau persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki tanpa adanya diskriminasi. Marry Wallstonecraff dalam bukunya “The Right of Woman” pada tahun 1972, mengartikan feminisme merupakan suatu gerakan emansipasi perempuan, yang lantang menyuarakan tentang perbaikan kedudukan perempuan dan menolak perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan.

Mrs. Carrie Chapman Catt, seseorang yang mengadvokasi hak-hak khususnya hak-hak perempuan di Amerika mendefinisikan feminisme sebagai “kegerakan pemberontakan yang mendunia terhadap semua hambatan artifisial yang telah dimasukkan hukum dan adat istiadat antara perempuan dan kebebasan manusia” (Martin, 1916). Definisi lain dari feminisme adalah pengakuan bahwa ada ketidakseimbangan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki, dimana perempuan dengan sengaja ditempatkan dalam peran yang lebih rendah dari laki-laki (Hannam, 2007). Inti dari paham feminisme itu sendiri adalah untuk menyoroti akan “kebebasan”, “kemandirian” serta emansipasi atau kesetaraan perempuan dengan laki-laki di segala aspek seperti aspek politik, sosial, dan ekonomi (Martin, 1916).

Inti dari feminisme adalah bagaimana perempuan harus memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam mengembangkan diri. Ide dari feminisme mulai semakin muncul pada pertengahan abad ke-18 dimana hak-hak perempuan dalam aspek sosial dipertanyakan (Hannam, 2007). Pada abad Pencerahan dan Revolusi Perancis, kaum perempuan mulai menantang definisi-definisi perempuan dalam aspek sosial (ibu rumah tangga, patuh terhadap lelaki, lemah lembut) yang dibuat oleh laki-laki (Hannam, 2007). 

Pada pertengahan abad ke-19, mulai banyak kelompok-kelompok perempuan yang meminta perubahan dan kemajuan bagi peranan perempuan dalam aspek politik, sosial, dan ekonomi (Hannam, 2007). Kegerakan feminisme semakin berkembang dengan bermunculan organisasi-organisasi feminisme di tahun 60an-70an yang memperjuangkan hak-hak perempuan dalam hal hak sipil, dan politik seperti dalam mendapatkan edukasi yang layak dan bahkan dalam hal hak memilih (Walters, 2005).

Di Indonesia sendiri, gerakan feminisme tidak lepas dari kontroversi. Masih banyak kasus yang berhubungan dengan gender seperti pernikahan anak usia dini, pandangan bahwa mempunyai anak laki-laki itu lebih berharga dari pada anak perempuan, dan masih tingginya kekerasan seksual terhadap perempuan yang dimana korban perempuan lebih sering disalahkan akan pakaiannya. Pada akhirnya, meski sarat akan kontroversi dan bahkan menjadi bahan lelucon dan hinaan, kaum perempuan tetaplah manusia (Walsh, 1917). Mereka memiliki hak yang sama untuk diperlakukan sebagai manusia yang setara dengan lelaki. Itulah yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini semasa hidupnya dulu. 

Oh iya, berbicara tentang Raden Ajeng Kartini, tidak etis rasanya jika tidak diulas dari awal penentuan Hari Kartini hingga gerakan-gerakan feminisme yang dilakukan oleh Kartini. Sejak dikeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 tentang penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, 21 April kemudian diperingati sebagai hari besar yang diperingati setiap tahunnya. 

Ya, setiap tanggal 21 April perempuan Indonesia memperingati hari kelahiran Raden Ajeng Kartini, tokoh perempuan asal Jepara yang terkenal dengan perjuangannya dalam mengubah nasib kaum perempuan Indonesia. Hari Kartini biasanya diperingati dengan melakukan upacara bendera di berbagai instasi. Dilengkapi pula dengan parade mengenakan pakaian adat daerah masing-masing sebagai lambang Bhineka Tunggal Ika. 

Raden Ajeng Kartini adalah anak perempuan tertua yang berasal dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya seorang Bupati Jepara yang bernama Raden Mas Sosriningrat. Sedangkan sang Ibu bernama M.A. Ngasirah yaitu putri anak dari seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Karena itu, Kartini dianggap sebagai kaum priayi atau kelas bangsawan pada masa itu.

Lahir dari keluarga terpandang keturunan ninggrat Jawa membuat Kartini bisa bersekolah di sekolah yang hanya diperuntukan bagi anak-anak keturunan Eropa, timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. Sekolah bernama Europeesche Lagere School atau ELS itu pada zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia juga mewajibkan murid-muridnya berbahasa Belanda untuk keseharian. Beruntung Kartini muda juga bisa bahasa Belanda dan menjadikan pelajaran Bahasa Belanda sebagai salah satu pelajaraan kesukaan Kartini.  

Raden Ajeng Kartini atau R. A. Kartini adalah satu dari sederet pahlawan perempuan nasional yang meninggalkan jasa besar untuk Negeri. Ia dikenal sebagai tokoh utama emansipasi wanita di Indonesia. Kartini membuktikan peran perempuan Indonesia tidak kalah penting dari kaum lelaki.  Namun, tahukah kamu perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam mengubah nasib kaum perempuan Indonesia itu tidak mudah?

Kartini muda yang terpaksa harus diam di rumah karena dipingit pada waktu itu lantas memilih belajar mandiri, membaca, dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Kartini yang tertarik dengan kemajuan berpikir perempuan Eropa dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa yang dibacanya membuat ia menjadikan ia wanita yang berwawasan luas untuk memajukan kaum perempuan lainnya agar bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya layaknya gadis-gadis Eropa dengan leluasa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. 

Belum lagi perbedaan status antara pria dan perempuan semakin menguatkan tekad Kartini untuk memajukan kaumnya. Menurut Kartini, langkah untuk memajukan kaumnya hanya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk mewujudkan cita-citanya, Kartini dengan susah payah mendirikan sekolah keputrian untuk gadis-gadis di lingkungan tempat tinggalnya. Kartini berpendapat bahwa hanya dengan pendidikan, kaumnya akan terlepas dari ketertinggalan perubahan zaman.

Ketika dipersunting oleh Raden Adipati Aryo Singgih Joyodiningrat, seorang bupati di kota kecil pantai utara Jawa Tengah, Rembang, konon RA Kartini mengajukan beberapa persyaratan diantaranya, Joyodiningrat harus menyetujui gagasan-gagasan dan cita-cita Kartini soal kemajuan perempuan. Mengerti akan keinginan Kartini, suaminya memberi kebebasan dan mendukungnya dalam mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Kini, Gedung tersebut disebut sebagai Gedung Pramuka. 

Dari pernikahannya, Kartini memiliki anak pertama sekaligus menjadi anak terakhirnya yang lahir pada tanggal 13 September 1904 bernama Soesalit Djojoadhiningrat. Empat hari pasca melahirkan, Kartini menghebuskan nafas terakhir tepatnya tanggal 17 September 1904. Diketahui umurnya kala itu baru menginjak 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang, Jawa Tengah. 

Oleh sahabatnya, surat-surat yang pernah ditulis Kartini dikumpulkan dan kemudian menerbitkan karya tulisan Kartini dalam buku berjudul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Dalam buku tersebut terdapat sejumlah kutipan inspiratif yang menginspirasi kaum perempuan Tanah Air. Karena perjuangannya ini, Kartini dianggap sebagai pahlawan dalam emansipasi perempuan di Indonesia.  

Meski telah tiada, karya-karya perjuangan Kartini tetap hidup hingga kini. Salah satu kutipan fenomenalnya yaitu Semboyan Kartini yang berbunyi, “Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.” 

Oh iya, sebagai penutup, saya ingin memberikan satu lagi kutipan Kartini yang menurut saya mantap jiwa. “Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”

Selamat Hari kebangkitan pendidikan perempuan untuk seluruh perempuan Indonesia….. 

Selamat Hari Kartini untuk srikandi-srikandi bangsa 

Terima Kasih Kartini karena telah membukakan jalan bagi perempuan Indonesia untuk terus menjadi kaum terpelajar yang tidak tertindas.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *