Filter Acne dan Kita Yang Kurang Perhatian

“Ada aksi, ada reaksi” semua orang pasti setuju dengan teori hukum Newton 3 ini. Saya kira, ini pula yang mendasari kita untuk membahas hal-hal yang sedang trend di berbagai media sosial. Diantara banyak hal-hal yang viral belakangan ini, ada hal menarik lainnya yang menarik perhatian saya. Salah satunya adalah filter acne yang sedang ramai digunakan saat ini.

Filter acne atau filter jerawat merupakan salah satu filter terdapat di aplikasi media sosial Instagram. Dengan filter tersebut, wajah yang tadinya mulus bisa terlihat seperti memiliki cukup banyak bintik-bintik jerawat. Mungkin saja tujuan awalnya dari pembuatan filter ini adalah untuk memberikan dukungan kepada acne fighter.

Namun belakangan filter Instagram tersebut dijadikan lelucon sebagian netizen khususnya di Tik Tok. Kemudian merambat ke segala arah menjadikan tren ini sebagai bahan prank agar para pengguna filter ini bisa melihat seberapa banyak perhatian yang akan mereka dapatkan. Betapa kurang perhatiannya kita, bukan?

Oh iya, saya tidak sedang membahas bagaimana seninya sebuah politik atau bagaimana hukum yang katanya “tajam ke bawah, tumpul ke atas” ataupun tentang bagaimana keadilan sosial dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Saya hanya ingin membicarakan sedikit saja yang saya tahu tentang bagaimana kita yang kurang perhatian dan tanpa sadar menyakiti hati orang lain dengan hal konyol yang kita perbuat.

Bergesernya tujuan awal pembuatan filter acne ini menimbulkan luka bagi mereka yang tengah berjuang memberantas jerawatnya. Dengan semangat pantang menyerah, gonta-ganti produk agar terhindar dari jeratan jerawat. Lalu, datang seorang dengan wajah mulus nan glowing menggunakan filter acne, supaya apa? Supaya dapat perhatian kah atau hanya sekedar menunjukkan betapa menjijikkannya berjerawat? Mengapa untuk mendapatkan perhatian harus dilakukan dengan cara yang konyol? Tidakkah kalian tahu bahwa di luar sana masih banyak yang perlu perjuangan keras untuk memberantas jerawat yang tak kunjung sembuh?

Dengan dalih prank atau sekedar lucu-lucuan itu secara tidak langsung mempengaruhi mental orang-orang yang sudah berjuang dan bersusah payah memberantas jerawat mereka. Dengan dalih prank pula, mereka tidak akan pernah tahu bagaimana tekanan batin yang didapat oleh orang-orang (acne fighter) yang penuh jerawat memberantas jerawatnya.

Sadar atau tidak, pikiran kita dibentuk sedemikian rupa hingga akhirnya beranggapan bahwa jerawat pun bisa jadi standar kecantikan. Dengan mempertunjukkan wajah penuh jerawat yang sesungguhnya menggunakan filter acne itu, jelas menjadikan jerawat seolah-olah adalah kekurangan. Kemudian mempertontonkannya lewat story, berharap agar ada yang memberikan perhatian lebih. Ah, sungguh sesuatu yang konyol.

Cara terbaik untuk mendapatkan perhatian sebenarnya tidak perlu dilakukan dengan cara mengorek luka orang lain. Tapi, mental kita masih berkutat pada hal-hal begitu, bukan? Misalnya saja melihat yang berjerawat, kita kemudian mengejeknya. Padahal, pada dasarnya jerawat bukanlah penyakit berbahaya. Ini adalah kondisi umum yang bisa terjadi pada siapa pun.

Untuk para acne fighter, tetap semangat sebab kalian tetap cantik meski dengan atau tanpa jerawat. Jangan biarkan kebahagiaanmu direnggut oleh mereka yang kurang perhatian.

Oleh : Yon’s Hunga

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *