Hari Perempuan Internasional; Sudahkah Kita Setara?

Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day diperingati tiap tanggal 8 Maret setiap tahunnya. Perayaan Hari Perempuan Internasional kali ini mengambil tema each for equal dimana peringatan ini mengajak kita untuk merefleksikan tentang bagaimana peran perempuan dan menekankan tentang betapa pentingnya kesetaraan gender.

Hari Perempuan Internasional menjadi momen yang paling tepat untuk menyuarakan kesetaraan perempuan di seluruh dunia bahwa perempuan setara dalam segala aspek kehidupan, mulai dari bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya hingga teknologi.

Perlu kita ketahui bahwa gagasan perempuan tidak setara dengan laki-laki sudah ada sejak abad ke 4 SM. Pada masa itu, perempuan di tempatkan sebagai sosok inferior, tidak dilibatkan dalam pemilihan umum dan dianggap tidak memiliki rasionalitas seperti para laki-laki. Bahkan perempuan yang sudah menikah diwajibkan tunduk pada suaminya, dan di Athena pada saat itu seorang suami bisa saja berzina dengan pelacur tetapi ketika perempuan yang melakukan perselingkuhan maka suaminya mempunyai hak untuk membunuh istrinya.

Di zaman Yunani, status warga negara diperoleh setelah seorang anak laki-laki yang terlahir dari ayah warga Athena mencapai usia 18 tahun. Sedangkan, perempuan diposisikan bukan sebagai warga negara (not citizen), hanya tugas domestik (rumah) dan tidak dibebaskan untuk kegiatan publik. Pada masa itu perempuan dianggap sebagai makhluk inferior, cacat, sumber kejahatan dan dosa. Dengan kata lain, demokrasi di Yunani belum mengenal konsep kesetaraan gender (laki-laki dan perempuan) yang baru berkembang di abad ke-20. 

Gerakan femenisme sendiri dimulai dari abad 18 dan berkembang pesat sepanjang abad ke 20 dimana sosok Mary Wollstonecraft menjadi satu dari sekian banyak perempuan yang memiliki kesadaran bahwa dunia bekerja secara tidak adil. Yang diperjuankan Mary Wollstonecraft pada saat itu adalah penyuaraan persamaan hak bagi perempuan. Lalu yang tadinya perempuan yang tidak boleh sekolah harus bisa mendapatkan pendidikan, perempuan harus mempunyai hak sama dengan laki-laki dalam pemerintahan, dan perempuan juga mendapatkan upah yang sama dengan laki-laki, serta perempuan diberikan kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Awalnya, para feminis menggunakan istilah hak dan kesetaraan dalam konsep gender, kemudian  pada tahun 1960an menggunakan istilah penindasan dan kebebasan, lalu pada sekita tahun 1977 istilah gender equality muncul, bukan persoalan sex yang merujuk pada anatomi biologis manusia, tetapi lebih pada bahwa gender  dipengaruhi oleh kondisi sosial, agama dan hukum yang berlaku di masyarakat serta faktor-faktor lainnya.

Lambat laun, gerakan femenisme ini berkembang menjadi serangkaian  gerakan sosial, gerakan politik, dengan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, membangun dan mencapai kesetaraan gender dilingkungan politik, ekonomi dan sosial. Di indonesia, gerakan perempuan dipelori oleh Raden Ajeng Kartini yang kemudian dikenal sebagai gerakan emansipasi wanita. Salah satu usaha R. A. Kartini dalam emansipasi wanita adalah memperjuangkan hak wanita untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan tidak direndakan derajatnya seorang perempuan.

Lalu, sudahkah perempuan setara?

Ketidakadilan gender bisa terjadi pada perempuan maupun laki-laki. Namun, pada kebanyakan kasus, ketidakadilan gender lebih banyak terjadi pada perempuan. Itulah sebabnya mengapa masalah-masalah yang berkaitan dengan gender sering diidentikkan dengan masalah kaum perempuan, mulai dari penomorduaan (subordinasi), pelabelan negatif (stereotipe), marginalisasi, domestifikasi yang berdampak pada beban kerja berlebih, hingga kekerasan.

Di Indonesia masih rentan terhadap kejadian-kejadian ketidaksetaraan dan yang selalu menjadi korban adalah perempuan. Hal ini dibuktikan dengan lebih rendahnya peran perempuan di sektor publik. Data BPS tahun 2018 menunjukkan ketimpangan laki-laki dan perempuan dalam bidang ekonomi maupun politik. Penduduk perempuan yang hidup dibawah garis kemiskinan lebih tinggi (10%) daripada laki-laki (9%). Bahkan terkait upah pun, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Laporan Perekonomian 2019 mencatat, kesenjangan antara upah laki-laki dan perempuan semakin lebar. Upah untuk pekerja laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Selama periode 2015-Februari 2019, selisihnya mencapai Rp 492,2 ribu. Adapun secara rinci, selisih pada 2015 sebesar Rp 269 ribu, Rp 458,4 ribu (2016), Rp 554 ribu (2017), dan Rp 560,6 ribu (2018). Sementara hingga Februari 2019, kesenjangan semakin lebar hingga Rp 618,8 ribu.

Sejak kecil, konsep mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperan telah dibentuk sedemikian rupa. Tidak hanya dalam pendidikan formal, tetapi juga dalam kehidupan sosial kita. Gambaran kita tentang laki-laki dan perempuan serta apa yang seharusnya mereka lakukan adalah produk pandangan masyarakat dimana kita tinggal disinilah terjadi proses. Dalam struktur sosial ini, tujuan gender adalah membangun perempuan sebagai kelompok yang berada dibawah laki-laki, norma-norma gender dan harapan-harapannya ditegakkan melalui sanksi informal atas perilaku gender yang tidak pantas oleh kelompok serta melalui hukuman secara formal oleh pemilik otoritas.

Kurangnya pengetahuan tentang pengertian kesetaraan gender serta asumsi masyarakat yang telah berkembang dan mengakar dalam diri kita bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan hanya sebagai pelengkap kaum adam menjadi faktor utama permasalahan ini. Kita pun tak bisa menampik bahwa faktor kebudayaan juga berperan dalam masalah ini, dimana budaya di negeri ini lebih cenderung ke sifat Patriakri, yaitu menganggap peran lelaki adalah yang lebih penting dan superior sehingga perempuan tak sederajat dengan laki-laki. Dalam masyarakat patriarki, laki-laki ditempatkan pada posisi paling atas sebagai pemimpin yang mengambil keputusan, sementara itu perempuan ditempatkan diposisi bawah mengikuti apa yang telah diatur oleh laki-laki.

Kesetaraan gender dapat dicapai apabila perempuan dan laki-laki menikmati hak dan peluang yang sama di semua sektor kehidupan, termasuk partisipasi ekonomi dan pengambilan keputusan. Juga ketika berbagai perilaku, aspirasi, dan kebutuhan perempuan dan laki-laki sama-sama dihargai dan diapresiasi. Kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan mencakup konsep semua manusia bebas untuk mengembangkan kemampuan pribadi mereka dan membuat pilihan tanpa batasan yang ditetapkan oleh stereotip, peran gender yang kaku, dan prasangka dimana adanya porsi, perlakuan, posisi, peran yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Kesetaraan gender memberikan penghargaan dan kesempatan yang sama pada perempuan dan laki-laki dalam menentukan keinginannya dan menggunakan kemampuannya secara maksimal di berbagai bidang. Oleh karena itu, ketidaksetaraan gender dapat kita pahami sebagai bukan akibat dari jenis kelamin, fisiologis, hormon dan kecendrungan genetik, tetapi ketidaksetaraan gender adalah produk dari konstruksi sosial dimasyarakat yang tidak bisa diselesaikan sebatas dengan memberi kesempatan kaum perempuan, tetapi juga dengan merubah pola pikir kita dan cara pandang kita terhadap perempuan.

Oleh : Yons Hunga

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *