Iri Tanda Tak Mampu?

Kamu pasti pernah mengikuti akun media sosial beberapa influencer dengan gaya hidup yang terlihat sangat “wah”, kan? Selebgram yang kamu ikuti itu mungkin sering berbagi tips cara melangsingkan badan dengan olahraga ringan dan minum suplemen, atau seseorang yang setiap pagi berbagi muka baru bangunnya yang cerah mengatakan dia tidak memakai produk kecantikan apapun, atau salah satu temanmu membagikan no-makeup selfie yang membuatmu mencibir diri sendiri di cermin. Mereka semua terlihat cantik, berbagi kebahagiaan, produktif, seperti sempurna dan semua itu membuatmu ingin bersembunyi saja sebagai validasi rasa mengutuk diri sendiri karena melihat perbandingan antara dirimu dan mereka. Kamu iri.

Katanya, “standar kecantikan tiap orang itu beda-beda”, kecantikan bukanlah hal yang bisa dibandingkan, setiap orang punya standar atas penglihatan terhadap definisi ‘cantik’ itu sendiri. Katanya juga, mencintai diri sendiri adalah yang terpenting, menyukai diri apa adanya tanpa memperdulikan apa yang orang lain akan komentari. Katanya lagi, cantik itu beragam, beragam itu cantik, tidak harus sama dengan tingkatan anak tangga mereka untuk disukai. Tapi nyatanya, yang kamu pikirkan adalah berharap apa yang orang lain miliki menjadi milikmu, atau yang lebih buruk, berharap mereka kehilangan apa yang mereka miliki. Perasaan tidak sukamu atas pencapaian orang lain seringkali membuat dirimu tenggelam dalam kubangan rasa iba dan tidak mau bangun sama sekali untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Miris.

Well, kamu berhak dan normal merasa seperti itu. Kita tinggal di lingkungan heteronormatif yang segalanya akan dipermudah jika parasmu cantik. Mata mereka masih menganggap wanita terobsesi menjadi cantik untuk berlomba-lomba mendapatkan perhatian laki-laki. Duh. Mungkin memang ada sebagian perempuan menggantungkan rasa bahagianya kepada laki-laki. Dengan menjadi cantik, menjadi manja, menjadi lemah membuat mereka merasa ‘diminati’. Dan tidak salah jika merasakan itu. Hanya saja, ya, akan menimbulkan rasa kurang percaya diri dan iri hati.

Tapi bagus ngga sih merasa “sedikit” iri? Iri adalah perasaan yang penuh dengan emosi menyakitkan dan membuat kita merasa down. Iri hati atau dengki menuntunmu untuk mengeluh tentang hal-hal apa saja yang membuatmu iri. Misalnya saja membuat kita menurunkan standar mereka di benak sendiri, ini akan sangat berpengaruh, membuat pikiran dan mentalmu tidak tenang, selalu berpikir dan membuat skenario sendiri betapa bencinya kamu atas apa yang orang lain miliki. Atau menceritakannya kepada orang lain, tentu saja dalam artian buruk. Susah ditoleransi jika kamu sampai menyebarkan rumor-rumor yang merugikan orang lain hanya karena rasa dengkimu.

Namun, ada iri yang setidaknya berdampak baik. Masih menyakitkan, tapi membuatmu terdorong untuk menjadi lebih baik dan mencapai apapun yang membuatmu iri kepada orang lain. Membuat dirimu berusaha memanjat satu tingkatan diatas mereka, rasa iri adalah motivasimu melalukan itu. Tidak harus mencapai apa yang mereka capai, tapi harus lebih dari itu. Jenis ini dapat mendorong persaingan dan meningkatkan kualitas diri, tanpa perlu menceritakan hal yang buruk kepada orang lain tentang rasa iri hatimu.

Meskipun begitu, rasa ini adalah emosi yang rumit, sulit sekali diceritakan jika kamu adalah perempuan yang terbiasa iri dengan tiap perempuan lain, di tiap situasi yang berbeda-beda. Ini juga menjadi salah satu yang mencerminkan karaktermu di telinga orang yang mendengar. Orang lain yang selalu kamu jejali dengan keluhan betapa tidak sukanya kamu terhadap keadaan seseorang, maka akan berpikir kamu adalah orang dengan perasaan rendah, dia akan berpikir ‘bagaimana jika aku yang mencapai kemenangan, apa kamu akan membicarakanku juga?’. Jadi mungkin saja, saat ini seseorang sedang mendoakan kamu jerawatan setelah melihat fotomu di Instagram, sama seperti yang kamu harapkan kepada orang lain yang kulit wajahnya terlihap mulus saat berpapasan denganmu. Semua orang pasti melakukan itu. Hanya saja apa yang mereka lakukan selanjutnyalah yang menjadi poin. Ada yang ‘menyindir’ lewat postingan, ada yang hanya memendamnya di kepala. Membiarkannya menumpuk melebihi tumpukan sampah di TPA Suwung.

Mungkin baiknya penuhi pikiranmu dengan shine theory. “I don’t shine if you don’t shine.” Teori ini terjadi saat hubungan dibangun dengan saling mendukung, daripada membandingkan atau menjatuhkan orang lain, membuat perasaan bahagia daripada iri atau dengki. Ini membuat suatu hubungan pertemanan menjadi lebih berbobot, jika tidak bermuka dua, tentu saja. Bukan hal yang mudah, tapi apa salahnya mencoba. Dengan saling mendukung, tidak aka nada perasaan buruk untuk hubunganmu, mendukung yang kumaksud adalah mendukung yang juga dibarengi dengan usaha agar mencapai apa yang kamu dukung. Mendukung temanmu menang lomba akan membuatnya termotivasi, jika menang dia akan mengingat dan berterima kasih padamu, begitupun sebaliknya. Adem, bukan?

Di sini, aku tak ingin melarangmu untuk mempunyai rasa iri. Bahkan, aku masih mendukungmu untuk memilikinya ataupun menikmati rasa iri itu sebagai bagian yang tak mungkin dihindari dari makhluk sosial bernama manusia. Oleh karena itu, tetaplah merasa iri, tapi jangan rendahkan orang lain karena membuatmu merasa buruk. Nikmati rasa iri itu, simpan dan rebus dalam kepalamu, biarkan berputar dan melayang-layang. Ceritakan apa saja kekuranganmu dari mereka kepada diri sendiri di cermin. Lalu hidangkan dengan hangat, bahwa perasaan iri itu baik untuk membuatmu tertantang menjadi lebih baik lagi. Tertantang untuk menjadi pribadi yang menerima kekurangan dan menjadikannya versi terbaik dirimu. Iri dan membandingkan orang lain tidak akan ada habisnya selama hidupmu, tingkatan perbedaan akan selalu ada.

Oh iya, satu lagi. Jika kamu bertemu seseorang dan terintimidasi oleh sifatnya yang lucu, penampilan menarik, cakap berbicara, dan berbakat, bertemanlah dengannya. Masuk ke lingkaran yang dikelilingi oleh orang-orang hebat tidak akan membuatmu buruk, jika dibandingkan. Malah hal itu akan membuatmu menjadi berkembang dan menjadi lebih baik lagi. Percayalah, iri itu tidak selalu buruk. Iri bukan berarti kamu tidak mampu, biarlah rasa itu menjadi acuan bahwa kamu bisa lebih dari mereka. Jangan hanya diam dan biarkan rasa itu menumpuk. Baurkan sehingga itu tidak menjadikanmu beban, tapi sesuatu yang membawamu melangkah maju.

Oleh : Devik Widia

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Iri Tanda Tak Mampu?

  1. Iri itu manusiawi. Sekarang adalah gimana cara kita untuk menyikapi dan mengendalikan sifat iri itu .
    Jadilah orang yang mencintai diri sendiri dan rangkul orang-orang yang merasa insecure biar bangkit dan ngga iri lagi 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *