KARMA Ajaran Buddha Tentang Perbuatan dan Akibatnya, ada kaitannya dengan sosiologi Hukum dan Perubahan Perilaku Manusia?

Mungkin sebagian dari anda sudah pernah mendengar atau membaca sebuah buku yang berjudul  KARMA Ajaran Buddha tentang perbuatan dan akibatnya, ceritanya cukup menarik dan inspiratif. Dari cerita tersebut kita dapat mengerti jalan kerjanya KARMA dan kita juga harus bisa memahami bahwa  setiap perbuatan yang kita lakukan dimasa lampau maupun saat ini ada akibat atau konsekuensi.

Anda bisa mengambil hal positif dalam cerita tersebut dan diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahwa perbuatan baik akan mendatangkan hal baik juga, begitupun sebaliknya.

Tetapi jika saudara belum pernah  mendengar atau membaca cerita dari buku  KARMA Ajaran Buddha tentang perbuatan dan akibatnya , mari baca dan simak cerita dibawah ini:

Pada jaman Buddha dikota safati hiduplah seorang pemuda bernama suhar, brahmana todea adalah ayahnya. Todea adalah penasehat raja pasennadi kosala, todea sangat kaya namun sangat kikir merasa bahwa jika ia berderma maka hartanya akan habis tak bersisa. Todea tidak pernah memberi sedikitpun. Inilah perintah todea pada keluarganya jika pornama tak dipake berkali kali lama lama akan terkikis habis, begitu pula dijika derma diberi sedikit saja harta akan berlangsung ludes oleh karna itu, pemberian sekecil apapun tidak perlu dilakukan.

Sarang semut menjadi gundukan besar karna debu yang dikumpulkan semut, tetes madu yang dibawa lebah tidaklah banyak namun karna dilakukan berulang banyaklah madu terkumpul, jadi kitapun tidak perlu memberi sedikitpun uang serta harus mengumpulkan dan menjaga harta.

Pada masa itu banyak orang yang menjadi pengikut Buddha belajar agama dan berderma kepada sangha akan tetapi todea tidak memiliki keyakinan dan rasa hormat kepada Buddha, ia tidak pernah berderma sesendok nasipun. Ia sering meremehkan sifat-sifat mulia Buddha bahkan ia sering menghina Buddha karna amat melekat pada harta dan sering melecehkan Buddha ketika todea mati ia terlahir lagi sebagai anak anjing dirumahnya , suhar sangat sayang kepada anak anjing kecil ini, ia melimpahinya makanan enak dan tempat tidur yang nyaman ia tidak tahu bahwa anak anjingnya ini duhulunya adalah todea ayahnya.

Suatu hari Buddha sengaja mendatangi rumah todea saat Buddha memasuki pelataran rumah si anak anjing menyalap kencang pada Buddha. Buddha menegur anak anjing itu “ todea kamu sekarang menjadi  anjing karna dahulu menghinaku ,jika sekarang kamu menyalakiku dengan pikiran keliru kamu bisa jatuh keneraka.’’

Anak anjing itu berpikir betapa tahu ini tentang aku, merasa sedih dia undur kedalam  rumah dan berbaring  diabu tungkuk perapian. 

Para pelayan mencoba membawanya ketempat tidur empuknya namun tak berhasil, ketika pulang suhar bertanya siapa yang meminda anjingku, para pelayan merceritakan bahwa tadi Buddha datang dan anjingnya menjadi murung setelah muda memanggil namanya dengan todea. Suhar berpikir todea itu ayahku, jika betapa kotanya memanggil anjingku todea itu berarti menyatakan ayahku terlahir lagi sebagai anjing, padahal ayahku sudah  mencapai alam brahma ini penghinaan besar. Sangat murka, suhar bergegas mendatangi Buddha untuk membuat perhitungan, Suhar bertanya apakah yang Buddha katakan kepada anjingnya benar adanya, Buddha membenarkan apa yang suhar dengar, untuk membuat suhar paham Buddha bertanya apakah masih ada harta ayahmu yang tidak diungkapkan keberadaanya, suhar menjawan ada kalung emas, sandal emas, guci emas dan sejumlah uang yang ada didaftar warisan untuk saya namun tidak ditemukan, lalu Buddha berkata “jika begitu pulanglah dan beri  anjingmu makanan enak lalu tanya padanya diamana harta yang hilang itu, dia akan menunjukan semuanya.’’

Suhar berpikir jika yang dikatakan petapa gotama benar, warisanku akan ketemu jika salah aku akan tuntut, karna ia sudah menghina.

Suhar pulang  dan bertanya kepada anjingnya ayah, petapa gotama bilang bahwa ayah tahu tempat harta ayah tolong tunjukan yah, anak anjing itu melolong lalu mengais tanah dihalaman rumah, ketika mereka menggali disitu semua harta yang hilang ditemukan  keyakinan terhadap Buddha pun muncul dalam hati suhar.

Brahmana muda, suhar menemui  Buddha dan menanyakan kepadanya tentang apakah sebab adanya keburukan dan kebaikan diantara manusia karna manusia bisa menjadi pendek umur dan panjang umur, buruk rupa dan rupawan, miskin dan kaya, sering sakit dan jarang sakit, tak berpengaruh dan berpangaruh, tak bermatabat dan bermatabat, dungu dan bijak. Sumber dari buku Karma, Ajaran Buddha tentang Perbuatan dan akibatnya.

Lalu Buddha mengatakan: 

Brahmana muda, setiap mahluk  adalah pemilik Karma, pewaris Karma, lahir karna karma, terikat oleh karma, terlindung oleh Karma sendiri. Karmalah yang membedakan mahluk dalam keburukan dan kebaikan .

Jika seseorang membunuh kejam, suka menganiaya, senang kekerasan, tega kepada mahluk, dengan Karma itu setelah mati iya terlahir lagi dialam derita dan jika dia terlahir sebagai manusia iya pendek umur . 

Namun jika seseorang tak lagi menyakiti, memantang menyakiti, meletakkan tongkat dan pedang, bernurani, ia menghargai dan mengasihi semua mahluk dengan karma itu setelah mati ia terlahir dialam bahagia dan jika ia terlahir sebagai manusia ia panjang umur.  Jika seseorang terbiasa menganiaya makhluk dengan bongkah, tongkat atau pedang dengan karma itu setelah mati ia terlahir lagi dialam derita dan jika ia terlahir sebagai manusia ia sering sakit.

Namun jika seseorang tak lagi menyakiti, memantang menyakiti, meletakkan tongkat dan pedang, bernurani ia menghargai dan mengasihani semua mahluk dengan Karma itu setelah mati ia terlahir lagi dialam bahagia dan jika ia terlahir sebagai manusia ia jarang sakit.

Jika seseorang marah, sering tersinggung bahkan terhadap hal remeh, gusar, goyah, jengkel, keras kepala dan menunjukan kesal, amarah dan gerutu dengan Karma itu setelah mati ia terlahir lagi dialam derita dan jika ia terlahir sebagi manusia ia buruk rupa.

 Namun jika seseorang tak marah, tak sering tersinggung bahkan terhadap hal besar, tak gusar, tak goyah tak jengkel tak keras kepala dan tak menunjukan kesal, amarah dan gerutu dengan  Karma itu setelah mati ia terlahir lagi dialam bahagia dan jika ia terlahir sebagai manusia ia rupawan.

Jika seseorang berhati cemburu, iri pada perolehan, penghargaan, kehormatan, martabat, pujian, dan pujaan yg diterima orang lain, pendendam dan pembalas dengan Karma itu setelah mati ia terlahir lagi dialam derita dan jika ia terlahir sebagai manusia ia tak berpengaruh.

 Namun  jika seseorang tak berhati cemburu, tak iri pada perolehan, penghargaan, kehormatan, martabat, pujian, dan pujaan yg diterima orang lain, tak pendendam dan tak pembalas dengan Karma itu setelah mati ia terlahir lagi dialam bahagia dan jika ia terlahir sebagai manusia ia berpengaruh.

Jika seseorang tak suka memberi makanan, minuman, pakaian, kendaraan, hiasan, wewangian, obat, tempat tidur, tempat tinggal dan penerangan dengan karma itu setelah mati ia terlahir lagi dialam derita dan jika ia terlahir sebagai manusia ia miskin.

Namun jika seseorang suka memberi makanan, minuman, pakaian, kendaraan, hiasan, wewangian, obat, tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan dengan Karma itu setelah mati ia terlahir lagi di alam bahagia dan jika ia terlahir sebagai manusia ia kaya.

Jika seseorang cuek dan sombong pada yang layak dipuji, ia tak memuji, pada yang layak disambut, ia tak menyambut, pada yang layak di persilahkan, ia tak menyilahkan, pada yang layak diberi jalan ia tak memberi jalan, pada yang layak dihormati ia tak menghormati, pada yang layak di hargai, ia tak menghargai, pada yg layak dipatuhi ia tak mematuhi, pada yang layak dipuja ia tak memuja dengan karma itu setelah mati ia terlahir kembali dialam derita dan jika ia terlahir sebagai manusia ia tak bermartabat.

Jika seseorang tak cuek dan tak sombong pada yang layak dipuji, ia  memuji, pada yang layak disambut, ia menyambut, pada yang layak di persilahkan, ia menyilahkan, pada yang layak diberi jalan ia memberi jalan, pada yang layak dihormati ia menghormati, pada yang layak di hargai, ia menghargai, pada yg layak dipatuhi ia mematuhi, pada yang layak dipuja ia memuja dengan Karma itu setelah Mati ia terlahir kembali dialam bahagia dan jika ia terlahir sebagai manusia ia bermartabat. Jika  seseorang tidak mengunjungi  petapa atau Brahmana untuk bertanya apa yang bermanfaat dan apa yang tak bermanfaat, apa yang tercela, apa yang tak tercela, apa yang perlu dilatih dan apa yang tak perlu dilatih, apa yang membawa rugi dan derita untuk jangka panjang, apa yang membawa sejahetra dan bahagia untuk jangka panjang  dengan Karma itu setelah mati ia terlahir lagi dialam derita dan jika ia terlahir sebagai manusia ia dungu. Namun jika seseorang mengunjungi  petapa atau Brahmana untuk bertanya apa yang bermanfaat, apa yang tak bermanfaat, apa yang tercela, apa yang tak tercela, apa yang perlu dilatih, apa yang tak perlu dilatih, apa yang membawa rugi dan derita untuk jangka panjang, apa yang membawa sejahetra dan bahagia untuk jangka panjang  dengan Karma itu setelah mati ia terlahir lagi dialam bahagia dan jika ia terlahir sebagai manusia ia bijak.

Demikianlah inilah jalan yang membawa pada pendek umur dan panjang umur, sering sakit dan jarang sakit, buruk rupa dan rupawan, tak berpengaruh dan berpengaruh, miskin dan kaya, tak bermartabat dan bermartabat, dungu dan bijak. 

Setiap mahluk adalah pemilik Karma, pewaris Karma, Lahir karna Karma, terikat oleh Karma, terlindung oleh Karma sendiri. Karmalah yang membedakan mahluk dalam keburukan dan kebaikan. Ketika ini dikatakan Suhar berkata kepada Buddha menakjubkan Bante Gotama, Menakjubkan Bante Gotama, Bante seperti seseorang yang membalikan yang terbalik atau menguak yang tersembunyi atau menunjukan jalan kepada yang tersesat atau mengangkat pelita dikegelapan sehinggga yang punya mata dapat melihat. Demikian Pula, Bante Gotama telah dalam berbagai cara membuat dama jelas, saya pergi berlindung kedapa Buddha, Dama dan Sangha, semoga Bante Gotama menerima saya sebagai pengikut yang telah pergi berlindung  mulai hari sampai akhir hayat.

Kaitannya dengan Sosiologi Hukum adalah sebagai berikut:

  • Seperti yang kita ketahui, Sosiologi  Hukum adalah cabang dari ilmu pengetahuan sosial  yang mempelajari Hukum dalam konteks sosial. 

Sosiologi  Hukum membahas tentang hubungan antara masyarakat dan Hukum, mempelajari secara analitis dan empiris pengaruh timbal balik antara hukum dengan gejala sosial lainnya. 

 Sedangkan KARMA adalah berkaitan dengan perbuatan, tindakan/perilaku, sikap, pikaran dari kehidupan yang lampau dan menentukan nasib kita  saat ini. Karma adalah perbuatan yang sejalan dengan akibat. Sosiologi Hukum dan KARMA sama-sama memberi pengaruh timbal balik, namum bedanya Sosiologi Hukum Pengaruh Timbal baliknya antara Hukum dan dengan Gejala sosial. sedangkan KARMA hubungan timbal balik antara perbuatan dan akibatnya. Namun keduanya sama-sama mempunyai pengaruh terhadap gejala sosial.

Dalam KARMA segala akibat jelek atau buruk, sudah pasti  ada perbuatan jelek atau buruk sebelumnya. Misalkan segala perbuatan baik akan menghasilkan hal baik, namun jika perbuatan buruk akan mengakibatkan hal buruk juga dalam kehidupan. Dan itu disebut KARMA, satu sama lain saling berkaitan dan erat hubungannya dan saya sangat percaya itu berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri.

Kemudian, Kaitannya dengan Perubahan Perilaku Manusia

  • Sedangkan perubahan perilaku manusia sangat jelas dalam cerita diatas tentang KARMA Ajaran Buddha tentang Perbuatan dan Akibatnya, dimana  seorang Suhar menyikuti ajaran Buddha dan melakukan serta  percaya terhadap KARMA  yang diajarkan oleh Buddha.

Namun bukan cuma Suhar saja yang mempercayai Ajaran Buddha pada saat itu tentang KARMA, banyak orang yang mengikuti  dan menaati ajaran Buddha, sehingga banyak orang melakukan perubahan baik dari perilaku buruk menjadi baik, dari sikap jelek menjadi baik dan tindakan-tindakan baik lainnya, karna mereka sangat mempercayai setiap perbuatan baik akan menghasilkan KARMA yang baik pula. Dari sini kita dapat mengetahui ada banyak  perubahan perilaku manusia setelah ada ajaran KARMA ini.

Ajaran Buddha tentang Karma dapat berpengaruh positif bagi Kehidupan sosial dan pertumbuhan masyarakat yang baik.

Nah, seperti yang kita ketahui sampai saat ini masih banyak yang mempercayai adanya KARMA Perbuatan dan Akibatnya dan mereka Implementasikan dikehidupan mereka sehari-hari. Ini bisa memberikan dampak positif bagi mereka melakukan Karma baik dikehidupan sosial masyarakat. 

  Namun tidak sedikit pula yang tidak mempercayai adanya Karma bagi setiap makhluk.

Namun jika dilihat dari Fase kehidupan, pasti diantara saudara maupun saya pernah mengalami atau mendapat akibat dari suatu perbuatan yang telah kita lakukan dimasa lampau. Timbal balik dari perbuatan-perbuatan kita, buruk maupun baik semuanya kembali kepada kita sendiri. Itu disebut KARMA.

Seperti yang telah Buddha katakan  Setiap perbuatan ada Akibatnya, bahwa setiap mahluk  adalah pemilik Karma, pewaris Karma, lahir karna karma, terikat oleh karma, terlindung oleh Karma sendiri. Karmalah yang membedakan mahluk dalam keburukan dan kebaikan.”

KARMA dan perubahan perilaku manusia sangat erat kaitannya, karena  KARMA akan menghasilkan suatu perubahan perilaku manusia. 

Segala perbuatan kita dimasa lampau akan kembali kepada kita sendiri selaku pemilik Karma. Mendapat Karma Buruk maupun baik, tergantung dari kita sendiri.

Perbuatan buruk akan mengalami Karma buruk,

Perbuatan baik akan mengalami Karma Baik.

Penulis : Ety Madun

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *