KETIKA POLA BERPIKIR ALA DETEKTIF TERGENERALISASIKAN

Judul : 99 Cara Berpikir Ala Sherlock Holmes

Penulis : Monica Anggen

Tahun Terbit : Juni 2015 (Cetakan Pertama); September 2015 (Cetakan Kedua); 

 Januari 2016 (Cetakan Ketiga); Mei 2016 (Cetakan Keempat)

Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah Halaman : 220 Halaman

Rangkuman:

Sejak pertama kali diterbitkan pada 1887, kisah Sherlock Holmes seakan masih memiliki keunikannya tersendiri dalam mengisahkan tentang cara berpikir dan strategi memecahkan masalah ala seorang detektif swasta. Ditambah lagi menurut latar keseluruhan yang digunakan dalam kisah tersebut, pekerjaan sebagai detektif swasta belum menjadi pekerjaan yang umum digeluti dalam tata kemasyarakatan. Termasuk selain cara berpikirnya, melalui temannya John Watson, tata keseharian dan karakter Sherlock Holmes juga dijelaskan dengan cukup gamblang.

Berdasarkan kisah karya Sir Arthur Conan Doyle tersebut, sebanyak 99 poin dijabarkan untuk melatih dan menempa pola pikir seseorang. Setiap poin akan diiringi dengan sebuah atau beberapa quotes yang diambil baik dari kisah Sherlock Holmes itu sendiri maupun buah pikiran tokoh-tokoh terkenal di dunia yang mendukung poin-poin tersebut. Secara umum, poin-poin yang dijabarkan dari buku ini membahas tentang pentingnya cara berpikir ilmiah dan abstrak, merangkul elemen-elemen pendukung, dan mengasah kemampuan-kemampuan dasar.

Pentingnya cara berpikir ilmiah dan abstrak. Cara berpikir ilmiah meliputi penalaran deduktif dan induktif seperti yang dijabarkan pada poin 5 hingga 18, 21, serta 36. Sementara cara berpikir abstrak selain melibatkan pengumpulan data dan fakta juga diiringi dengan penggunaan imajinasi seperti yang dijabarkan pada poin 22, 23, serta 45 hingga 49. Cara berpikir deduktif dijelaskan sebagai metode yang melacak sifat-sifat khusus suatu obyek atau individu berdasarkan sifat-sifat umum yang tampak. Cara berpikir deduktif dapat dilatih dengan sering-sering melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Mengamati, bukan hanya melihat. Sementara cara berpikir induktif adalah metode yang menyimpulkan sifat-sifat umum berdasarkan sifat-sifat khusus yang tampak, sehingga masih perlu pendalaman untuk mencari kebenarannya. Kedua cara berpikir demikian kemudian diterapkan secara praktis dalam langkah-langkah metode ilmiah seperti mengajukan hipotesis dan pertanyaan, melakukan eksperimen “berburu fakta”, hingga mengambil kesimpulan yang tepat untuk bertindak.

Merangkul elemen-elemen pendukung. Untuk mendukung secara penuh cara berpikir ilmiah dan abstrak, sejumlah hal kecil namun penting juga perlu diperhatikan. Beberapa elemen pendukung yang dicontohkan adalah pentingnya mentaati dan memahami peraturan (poin 20); pola hidup seperti makan-minum, istirahat, dan olahraga (poin 32, 41, 42, 64, 85, dan 97); serta hiburan untuk relaksasi diri (poin 29 dan 87). Beberapa elemen pendukung di atas dijelaskan oleh penulis adalah hal-hal keseharian yang jika mampu dilaksanakan dengan disiplin dan kesadaran akan berdampak besar terhadap pola pikir dan cara mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Sebutlah pola hidup makan-minum. Melewatkan sarapan atau tidak mengonsumsi makanan bergizi adalah kebiasaan yang kurang tepat, sebaliknya makan terlalu banyak hingga kekenyangan juga menjadi kebiasaan yang keliru sehingga perlunya pola makan-minum yang seimbang.

Mengasah kemampuan-kemampuan dasar. Kemampuan dasar yang dijelaskan disini meliputi komunikasi, bahasa, relasi, serta pengendalian pikiran. Mempelajari ilmu komunikasi seperti kemampuan public speaking atau bernegosiasi (poin 27) yang diikuti melatih kemampuan berbahasa (poin 52 dan 53) akan membantu memperkaya pengalaman hidup. Terlebih jika pengalaman tersebut mampu diambil dan diajarkan secara berkelanjutan pada orang lain maka relasi yang dimiliki akan meluas (poin 57 dan 66) dan secara otomatis akan meningkatkan cara berpikir. Secara mendasar, semua itu dapat dimulai dari melatih pikiran. Latihan pikiran dapat dilakukan dengan beberapa hal seperti membaca buku (poin 67 dan 68), latihan mengingat (poin 76 hingga 78, 89, dan 90), melepas cara berpikir keliru (poin 93 hingga 95), dan sebagainya. Mengendalikan pikiran adalah aset utama membentuk cara berpikir fleksibel.

Kelebihan Buku:

Dengan pembawaan yang santai dengan turut serta membawakan sejumlah isi kisah Sherlock Holmes, buku ini memiliki nilai plus tersendiri. Fakta yang tidak bisa disangkal dari pesan yang disampaikan buku ini adalah bahwa berpikir adalah ciri keutamaan seorang manusia. Maka cara untuk berpikir atau mengendalikan pikiran sudah seharusnya menjadi keutamaan dalam proses belajar. Dengan mengendalikan pikiran, kesadaran untuk melaksanakan rutinitas yang tepat dan kemauan untuk terus belajar akan mengikuti. Tidak lupa diikuti oleh kutipan quotes yang disajikan pada beberapa poin, gambar-gambar interaktif, skema atau mind map, serta contoh-contoh permainan mengasah otak akan semakin menambah rasa tertarik terhadap isi buku ini. Buku ini direkomendasikan bagi semua kalangan, terutama sekali kalangan akademisi dan usahawan/pebisnis yang memang dituntut selalu berpikir, berstrategi, dan bekerja cerdas agar terus maju dan berkembang.

Kekurangan:

Informasi atau bahan bacaan pada beberapa halaman terasa sulit untuk dibaca dan dipahami, misalkan karena terlalu kecilnya font tulisan di beberapa halaman berisikan mind map atau poin yang penulisannya melewati batas satu halaman kertas sehingga sedikit menimbulkan kesan kurang nyaman dibaca. Absennya daftar isi di bagian depan juga mempersulit pembaca mencari poin ringkas yang diinginkan secara langsung tanpa membolak-balik halaman satu persatu.

Penutup:

Memang tidak semua orang punya potensi untuk menjadi detektif, tetapi semua orang punya potensi untuk berpikir layaknya detektif. Sebagai golongan kehidupan yang diberkahi kemampuan lebih untuk memahami kehidupan, manusia secara sadar perlu mengasah dan melatih pikirannya secara berkelanjutan, bahkan tidak peduli terhadap usia sekalipun. Banyak pepatah yang memiliki pesan inti, “belajar selamanya” menunjukkan pentingnya memiliki cara pandang yang fleksibel dan tidak pernah merasa paling hebat dan benar. Dimulai dari disiplin dan pengendalian terhadap keseharian hingga kemampuan mengendalikan jalan hidup sendiri (menciptakan realitas sendiri); semua berawal dari cara berpikir yang tepat, elemen pendukung yang sinergis, dan kemampuan dasar hidup yang terpelihara dengan tepat. Alasan yang sederhana mengapa Sherlock Holmes sampai berkata, “Kau pernah jatuh sekali. Kami ingin melihat setinggi apa kau bisa meloncat di kemudian hari.”

Oleh : Yogananda

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *