Krisis Kebebasan Berpendapat di Instansi Pendidikan

Warmadewa. Unitas Penalaran dan Jurnalistik Mahasiswa (UPJM) Universitas Warmadewa melaksanakan kegiatan diskusi Layar Singha Episode ke 2 yang di gelar pada Selasa (10/12/19) di halaman Gerai Baca Perpustakaan Universitas Warmadewa.
Pada episode kali ini di penghujung tahun UPJM mengangkat tema tentang Menakar Kebebasan Berpendapat di Instansi Pendidikan. Digelarnya diskusi ini dengan mengangkat tema terkait kebebasan berpendapat merupakan bentuk respon kreatif Mahasiswa dalam menyikapi hari HAM yang jatu pada tanggal 10 Desember dan juga merupakan respon mengenai krisis kebebasan berpendapat di instansi pendidikan.
Diskusi yang bertajuk layar singha ini merupakan kolaborasi antara UPJM Unwar derngan Frontier (Front Demokrasi Perjuangan Rakyat) Bali. Diskusi tersebut tidak di hadiri oleh civitas amademika Unwar saja , dihadiri pula oleh mahasiswa asal kampus IHDN, Udayana, Undiknas dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam advokasi HAM.

Diskusi yang di gelar dalam rangka merespon hari HAM tersebut diawali dengan pembacaan puisi oleh Mahasiswa fakultas sastra bernaman Cornelia permata, puisinya yang berjudul “Manusia di Kutuk Untuk Bebas” ini sontak mendapatkan respon luar biasa dari para peserta akibat pesan mendalam yang di sampaikan setiap bait puisi karya mahasiswa tersebut.

Pemutaran film berjudul Mosi Tidak Percaya karya Watchdoc Documentary juga di putarkan serbagai penghantar diskusi, film ini mendokumentasikan aksi perjuangan Mahasiswa saat melakukan aksi demonstrasi pada dinamika saat mencuatnya pengesahan beberapa RUU (Rancangan Undang Undang) yang tidak berpihak masyarakat.

Lebih lanjut, diskusi ini di isi oleh dua narasumber yaitu Gede Kamajaya selaku akademisi juga pegiat Sanglah Institute dan Krisna Dinata selaku Sekjend Frontier Bali.
Gede Kamajaya yang menjadi narasumber saat diskusi menceritakan bagaimana lahirnya hak asasi di dunia dan ia juga menuturkan bagaimana perkembangan hak asasi dari jaman ke jaman hingga lahirnya HAM dan prodak Hukum tentang HAM di Indonesia. Kamajaya yang juga merupakan seorang dosen ia juga mengkritisi dinamika kebebasan berpendapat di Instansi Pendidikan di Bali.

Gede Kamajaya saat menyampaikan materi.

Menurutrnya kampus merupakan ruang dikusi dimana perbedaan pendapaat akan tumbuh subur karena dari perbedaan pendapat dialektika keilmuan itu tumbuh. Tidak ada yang namanya penyeragaman pendapat, mahasiswa ditekan habis-habisan agar sependapat secara referesif. Keilmuan timbul melalui perdebatan-perdebadan yang sehat bukan perdebadan yang kepalanya kosong.
“Kultur-kultur egaliter harus dibangun agar mahasiwa sadar berbeda pendapat itu hal biasa, mengkiritk sesuatu itu hal biasa, bukan dosa karena setiap penindasan melahirkan perlawanan sekecil apapun. ucapnya.
Krisna Dinata yang kerap disapa Bokis tersebut juga mengkritisi dinamika Institusi Pendidikan dalam penyelengaraan kebebasan berpendapat bagi mahasiswa. Ia menceritakan gagalnya lembaga pendidikan dalam menjamin kebebasan berpendapat, hal itu ia sampaikan karena melihat beberapa kampus yang mengeluarkan surat berbentuk larangan maupun himbauan agar mahasiswa tidak terlibat pada demonstrasi dalam penyikapan dinamika politik dan perancangan Undang-Undang pada bulan September 2019 lalu.

Tugas seorang mahasiwa atau student adalah diskas atau beriskusi, yang kita lakukan hari ini itu benar tidak berdosa. Yang berdosa apabila tidak membaca, perbedaan pendapat itu harus terjadi di Institusi Pendidikan tetapi menjadi problem apabila dialek serta diskusi-diskusi itu tidak ada. Jadi pembredelan dalam berekspresi oleh Instansi Pendidikan tidak sesuai dengan UU No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, BAB II yang mengatur mengenai prisnsip dan tanggung jawab pendidikan tinggi yaitu pendidikan tinggi harus demokratis dan berkeadilan serta tidak diskimiatif, mengembangkan budaya akademik, berpihak kepada kelompok masyarakat. “tandasnya.

(Win/Tys/Jes/Ian)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *