Kritis dan Skeptis Senjata Lawan Konspirasi

LPM Erythro Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) menggelar Webinar Nasional Jurnalistik Yournailsm 3.0 bertajuk “Peran Bijak Media Informasi dalam Mengatasi Overthinking atas Teori Konspirasi yang Bermunculan di Masyarakat” pada Sabtu (5/12) pukul 09.30 WITA via ZOOM dengan dua narasumber, Moh. Abdul Hakim, S.Psi, MA, Ph.D yang merupakan Dosen Psikologi FK UNS dan M. Budi Santosa, S.Sos, M. IKom selaku Pimpinan Redaksi Okezone didampingi moderator Alfi Mufidah mahasiswi Psikologi UNS. Munculnya teori-teori konspirasi yang sedang booming sekarang ini yang dinilai lebih meresahkan dari hoax karena “kelihatan” meyakinkan meskipun belum ada konfirmasi yang jelas atau resmi mengenai itu. Pelaksanaan webinar ini dihadiri oleh 88 partisipan dengan tujuan memberikan pencerahan serta lebih bijak dalam menilai informasi-informasi. 

Sambutan dimulai dari Ketua Pelaksana, Syahida Asma Amanina mahasiswi Psikologi UNS yang mengatakan  walaupun dilaksanakan secara online, diharapkan wawasan atau pengalaman ini dapat berguna bagi semua. Dilanjutkan oleh dr. Dian Nugroho, M.Med.Ed. selaku Pembina mengatakan pers adalah salah satu corong demokrasi, pembentuk masyarakat dan kebutuhan publik. Seluruh anggota LPM pers telah dipercaya memiliki pengetahuan dan kemampuan yang lebih untuk memberikan informasi yang cerdas serta berimbang kepada masyarakat.  Tiada hari tanpa kritisi berarti matinya budaya demokrasi.

Wakil Dekan III FK UNS menyampaikan rasa terima kasihnya untuk kedua narasumber yang sudah menyempatkan untuk berbagi ilmu dan menilai tema konspirasi ini menarik ”Konspirasi adalah serangkaian peristiwa yang seringkali untuk memperdaya dan direncanakan, begitu juga dalam masa Covid-19 ini. Saya mengapresiasi kegiatan ini untuk membentuk generasi professional unggul.”

Dr. Hakim mengatakan 3 hal yang bisa dijadikan sudut pandang yaitu dari aktornya, mengapa mereka mengembangkan teori konspirasi? Agendanya apa? Lalu yang kedua dari segi pers, seperti apakah narasi informasi yang valid? Dan yang ketiga dari sisi psikologis, “Orang-orang yang percaya pada berita palsu atau yang percaya teori konspirasi adalah mereka yang kurang pengetahuan, tidak memiliki informasi yang lengkap.”

Penelitian empiris menunjukkan bahwa berbagai usaha edukasi sosial (publik) dan pemberitaan informasi yang valid tetap tidak mampu mengurangi keyakinan orang akan teori konspirasi. Dilansir dari Journal Nature menunjukkan bahwa hoaks dan teori konspirasi itu berkembang 10.000 kali lebih cepat dibandingkan dengan berita yang sebenarnya. Ironisnya, setiap ada berita palsu yang bersifat konspirasi viral dan ada berita susulan yang membantahnya, tingkat viralitasnya sangat berbeda.

Klarifikasi soal informasi hoaks selalu sedikit diminati dan tingkat ketertarikannya berbeda dengan hoaks yang terlanjur viral. Contoh konspirasi tentang Illuminati di sebuah Masjid di Bandung yang tentunya merupakan informasi konyol, ada lagi konspirasi kembaran seorang penyanyi kondang, Avril Lavigne, serta konspirasi anti vaksin. Semua orang tahu bahwa jika ada penyakit kita butuh obat, salah satu treatment yang efektif adalah vaksin. Vaksin bisa dibilang merupakan temuan besar dari peradaban manusia karena bisa menyelamatkan manusia dari penyakit seperti flu dan Chickenpox (Cacar Air). Kita memikirkan bahwa batuk dan flu adalah penyakit sepele, padahal tahun 1810 dimana resiko meninggal terkena flu masih lebih dari 90% (Flu Spanyol, 1918) yang disebut disaster masanya. Masih banyak orang tua yang menolak Vaksinasi terhadap anaknya, padahal para orang tua memiliki riwayat divaksin, kalau dilihat itu hal yang tidak masuk akal dan sulit dipahami.

Dilansir Tirto.id membahas mengapa orang menolak Vaksin padahal bermanfaat? Sebagian besar masyarakat Romania menolak lantaran takut kandungan kimia atau racun dan diyakini tidak bermanfaat. Lain halnya dengan negara Polandia, Rusia dan Inggris, alasannya karena agama, cacat fisik dan mental serta teori konspirasi yang berkembang. Terlihat dari contoh-contoh ini, penolakan vaksin bukan soal tingkat pendidikan mengingat Inggris adalah salah satu negara dengan populasi terdidik di dunia. Di Italia menolak vaksin karena dianggap vaksin buatan kelompok kiri atau Marxisme yang ingin menghancurkan sistem Kapitalisme, di Indonesia ada konspirasi kalau vaksin dibuat oleh kelompok Kapitalis yang ingin mengontrol manusia. Beragam alasan berbeda untuk menolak hal yang sama.

Konspirasi cenderung mudah melekat dan susah untuk dihilangkan secara kognitif, seperti lem tikus. Berbeda dengan berita lainnya, teori konspirasi selalu membahas tindakan atau aksi yang dirahasiakan. Aktor dan narasi konspirasi selalu memberikan bocoran secara spekulatif (rahasia) karena asumsi-asumsi yang melatarbelakangi susah untuk dibuktikan secara saintifik maupun empiris (nyata). Konspirasi itu kompleks, menjelaskan tindakan terkoordinir dari banyak aktor, jadi menggabungkan sebagian tokoh fiksi yang diciptakan dan sebagian tokoh nyata untuk memperkuat tokoh fiksi. Berbeda dengan teori saintifik yang dibuktikan dengan falsifikasi yang jelas dan dengan bukti yang kuat, teori konspirasi bersifat elastis dan menggunakan informasi palsu dan keliru sehingga upaya untuk membongkar upaya konspirasi pun dianggap sebagai bagian dari konspirasi. Aktor teori konspirasi cenderung menolak data-data ilmiah dengan menganggap  hal-hal itu bagian konspirasi.

“Konspirasi tidak melulu masalah informasi valid atau tidak valid tetapi juga Faktor Motivasional yang masuk kedalam aspek-aspek psikologis dari dalam diri,” tegasnya. Faktor Motivasional antara lain ada Motif Epistemik, dorongan untuk mempertahankan keyakinan di tengah ketidakpastian terutama pada individu-individu yang terbiasa mencari pola-pola tertentu dibalik peristiwa karena tidak puas dengan penjelasan yang sudah ada, sebut saja istilahnya Cognitive Closure yang mendorong keyakinan terhadap teori konspirasi pada peristiwa yang tidak dijelaskan secara detail oleh pihak berwenang. Selanjutnya Motif Eksistensial, dorongan untuk memperoleh rasa aman, individu yang kehilangan kendali (sense of control) akan mengandalkan teori konspirasi untuk mencapai kepuasan semu saat berada di titik cemas dan tak berdaya serta tidak sadar terpapar teori konspirasi. 

Dr. Hakim berujar teori konspirasi berkembang ketika terjadi peristiwa besar dan pihak otoritas tidak memberikan penjelasan yang memuaskan, contohnya selama pandemi ini. Jika diperhatikan arus informasi pada bulan Juni dan Juli, teori konspirasi benar-benar  berkembang dan viral di media sosial. Ada yang mengatakan Covid-19 dibuat di Laboratorium China dan lainnya mengatakan bahwa Covid-19 dikirim Amerika untuk menyerang China dan hal itu terkait dominasi ekonomi global, dst.

Beberapa tokoh politik termakan dengan konspirasi tersebut contohnya Presiden Amerika Donald Trump dan Jair Bolsonaro, Presiden Brazil dengan akibatnya masing-masing negara mengalami lonjakan tingkat kematian akibat Covid-19. Di Indonesia, teori konspirasi dapat berkembang karena penjelasan yang tidak komprehensif dan jelas dari pihak otoritas kesehatan, sebut saja Terawan Agus Putranto Menteri Kesehatan saat awal pandemi mengatakan Covid-19 sama dengan flu biasa dan jejak digitalnya masih ada sampai saat ini.

“Apakah orang-orang percaya? Tidak. Kita tidak lagi hidup dimana informasi sangat terbatas, sehingga masyarakat akan mencari pembanding fakta yang terjadi di negara lain melalui internet dan pada akhirnya mengetahui dan sadar Covid-19 hal yang serius dan tidak sama dengan flu biasa.” ujarnya. 

“We are The Master of Lies, merupakan kelemahan sistem kognitif manusia,” quotes-nya. Konspirasi itu mudah dipercaya dan punya daya tarik untuk meningkatkan status sosial dan membuat seseorang bisa diterima oleh kelompok sosial tertentu. Contohnya konspirasi bumi datar (flat earth), dsb. yang walaupun mereka kelompoknya kecil tetapi mereka solid dan kompak, bagi orang-orang  tertentu merasakan keutuhan psikologis ketika masuk kelompok semacam itu, merasa menjadi bagian dari sesuatu yang eksklusif.

Dr. Hakim mengatakan informasi kesehatan seharusnya diberikan dengan sebenarnya dan memenuhi eksistensial need serta secara lengkap sehingga tidak ada celah untuk informasi palsu. Menguasai kompetensi tidak akan cukup jika belum disosialisasikan atau disampaikan dengan baik. “Di Indonesia pada bulan Februari dan Maret pemerintah berupaya membuat masyarakat tenang dengan metode menyimpan sebagian informasi yang nyatanya  kuno sekali dan masih beranggapan jika orang-orang  mengetahui informasi sebenarnya akan terjadi kepanikan. Tetapi faktanya tidak, dilihat dari tingkat literasi masyarakat saat ini yang jauh lebih baik, Pemerintah seharusnya menjadi sumber informasi yang jelas dan valid dan tidak ada kesan menutupi informasi apapun.

Jadi diperlukan perubahan paradigma peran pemerintah sebagai penyaring informasi menjadi sumber berita yang valid dan lengkap. Mengapa kita cenderung lekat dengan 1 informasi tertentu? Karena kita cenderung mencari informasi yang kita suka, bukan informasi yang kita butuhkan secara akurat. Information Seeking dan Infotainment saling berdampingan, dimana Infotainment bersifat menghibur dan sesuai keinginan masyarakat bukan kebutuhan.

Cara efektif agar terhindar dari hoax dan konspirasi adalah dengan berpikir kritis dan membebaskan diri dari dogma-dogma, tidak mudah menganggap suatu informasi yang kita baca itu pasti benar dan sah. Selalu kritis dengan dorongan budaya skeptisisme yang merupakan cara survive ditengah informasi apapun yang kita baca, dengar dan terima. Bagaimana menyadarkan orang yang kukuh dengan teori konspirasi yang sebenarnya nyaman tapi menyesatkan? Dr. Hakim menjawab kebutuhan akan informasi oleh manusia untuk menghilangkan rasa takut dan merasa aman serta mampu menjelaskan informasi tersebut ke orang lain. Jadi informasi yang disampaikan perlu diolah dan disesuaikan agar yang menerima merasa nyaman, mengerti serta substansi informasinya juga tetap akurat,” tutupnya. 

M. Budi Santosa, alumni FISIP UNS 1999 menjelaskan fenomena konspirasi-konspirasi dilihat dari segi media, mengatakan bahwa konspirasi adalah level lanjut dari hoax, karena didesain secara terstruktur sistematis dengan tujuan tertentu dan mayoritasnya negatif. Tetapi, jika dilihat dari kacamata politik konspirasi bisa jadi hal positif. Saat ditanyai mengapa? Pria kelahiran Sleman ini mengatakan konspirasi untuk kontestasi politik dan diciptakan untuk hal kepentingan kekuasaan juga.

Tujuan politik mendapatkan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan, bagi beberapa kelompok politik itu jelas penting. Kita harus mempunyai daya literasi yang cukup untuk menyaring apakah suatu informasi atau berita benar atau tidak dengan mencari di media konvensional sebanyak-banyaknya, inilah fungsinya FactChecking Journalism. Contohnya video pernyataan Presiden yang sempat viral yang diduga tentang pencopotan Menkopolhukam salah satunya saat pembahasan Omnibus Law sedang heboh. Setelah di-check,  videonya dalam versi yang tidak utuh alias dipotong-potong dan menyebabkan misinformasi.  Masa Pandemi ini diwarnai pernyataan Menteri Kesehatan Terawan, yang mengatakan Covid-19 biasa saja dan pada awal Maret akhirnya muncul kasus pertama covid-19 disusul Terawan yang menghilang bahkan konspirasi yang masih berkembang adalah Covid-19 tidak nyata, padahal bagaimana tidak nyata? buktinya ada di sekitar kita dan nyata secara empiris. 

Jika hoax tidak dikendalikan maka akan menyebabkan terpecah belahnya masyarakat. Posisi media dengan Profiling Pers ada 47.000 media, sayangnya hanya 3000-an yang terverifikasi Dewan Pers. Indonesia menduduki peringkat media massa terbanyak di dunia dengan 2000-an media cetak, 674 radio, 523 TV termasuk lokal dan sisanya online.  Muncul pertanyaan apakah media massa mendorong berita-berita bersifat hoax atau berkembangnya konspirasi di media? mengingat hanya 3000-an media yang jelas dan sisanya  belum jelas. Kominfo mencatat lebih dari 800 ribu situs penyebar hoax dan akan meningkat lagi seiring adanya Pilkada maupun Pilpres. Aktor konspirasi mencoba untuk menampilkan data yang seolah-olah ilmiah padahal tujuannya untuk men-deny data-data ilmiah. 

Kita harus berpegang pada kebenaran. Di ruang redaksi selalu diadakan diskusi kritis dan skeptis mengenai dampak suatu informasi atau berita sebelum diterbitkan, mengenai kelayakan terbit dan dampaknya apakah akan membuat keadaan tenang atau malah memanas serta menjadi tidak jelas.

Di kalangan jurnalis memiliki kecenderungan tertentu baik ideologi politik maupun ideologi Agama merupakan hal yang lumrah, untuk meminimalisir beragam ideologi tersebut, di redaksi ada layer-layer dimulai dari reporter, redaktur, redaktur pelaksana, wakil pimpinan redaksi dan pimpinan redaksi. Jadi layer-layer sebagai penyeimbang dan penyaring. Kita mempunyai UU Pers, Kode Etik Jurnalistik bahkan untuk media online (cyber) mempunyai Kode Etik tersendiri juga, termasuk 9 elemen journalism menjadi dasar juga untuk menentukan berita layak atau tidak . Masih ada media yang terjebak dengan satu sumber informasi saja dan hal itu harus diperbaiki dengan menambah sumber lain untuk penyeimbang.

Kawan-kawan redaksi ditekankan harus menjujung tinggi akurasi dan proses verifikasi yang ketat. Kunci selamat adalah akurasi dan usahakan mendapat konfirmasi-konfirmasi dari orang-orang yang berwenang memberikan informasi tersebut dan hal itu merupakan standar umum yang ditekankan. Berita-berita yang diambil dari sosial media riskan akan konspirasi dan hoax jadi harus diverifikasi dengan sangat detail.

Ditanyai tentang regulasi dan teori jurnalistik apakah sudah memudar? Budi mengatakan bahwa regulasinya masih sama UU Pers dan harus memperhatikan UU ITE. Saat ini ada tambahan tsunami raw issues dari sosial media, mengingat kecepatan informasi pada sosial media walaupun harus diverifikasi lagi  secara berulang.

Agenda setting antara news room di media bisa sama bisa juga berbeda, mengingat juga urgensi isu yang harus diselesaikan, contohnya Covid-19 pasti semua akan meliput. “Ciri-ciri berita hoax antara lain menciptakan kecemasan, kebencian, dan permusuhan, pesan sepihak, menyerang dan tidak netral atau berat sebelah, memanfaatkan dan mengeksploitasi fanatisme atas nama ideologi, agama dan suara rakyat, sumbernya baik informasi dan medianya tidak jelas identitasnya, pihak yang menyebarkan informasi meminta info tersebut disebarluaskan semasif mungkin. Mengapa hoax terasa seperti bukan hoax? Survey Mastel menyatakan faktor tertinggi karena berita diperoleh dari orang yang dapat dipercaya diikuti dengan karena kalimat yang meyakinkan, terpengaruh pilihan (politik/kubu/afiliasi/organisasi) dan urutan terbawah karena ujaran kebencian,” tutup Pimpinan Redaksi tersebut. 

Kita sebagai manusia memang cenderung menerima kebohongan yang manis daripada harus berhadapan dengan kebenaran yang nyata. Diharapkan kondisi seperti ini akan berubah seiring berjalannya edukasi serta sosialisasi disertai praktek nyata.

Oleh: Yundra

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *