Lama Tertidur, Fakultas Pertanian Kembali Rebut Juara.

Warmadewa, – Setelah vakum dalam berbagai kompetisi, akhirnya Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa berhasil mengukik sejarah baru dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjary (UNIKSA) , Banjarmasin, 26-27 Juli 2019. Kali ini, FP Unwar yang diwakili Maria Melania Ngole Azi dan Ni Kadek Ayu Wulandari meraih juara II dengan judul karya “Limbah Tauge Terfermentasi Sebagai Bahan Pakan Ternak Ayam Broiler”. Pencapaian ini langsung menyedot perhatian mahasiswa, dosen dan pimpinan fakultas terkait, pasalnya prestasi sejenis pernah diraih FP Unwar pada 31 tahun silam (1988). Artinya pencapaian seperti ini sudah jarang terjadi.
Dekan FP Unwar, Dewa Nyoman Sadguna menyampaikan apresiasinya kepada mahasiswi terkait dan dosen pendamping yang telah berjuang mencapai prestasi ini. Capaian ini memberikan efek besar bagi kualitas mahasiswa kedepan dan tentunya borang yang diajukan. “Terutama dalam isian borang. Hal-hal seperti inilah yang memberi pengaruh besar”, pungkasnya saat ditemui di ruang kerjanya. Selama ini, hal mendasar yang memengaruhi penilaian saat akreditasi adalah deretan prestasi yang dicapai mahasiswa. Maka, mahasiswa direkomendasikan untuk terus mengikuti berbagai event di tingkat nasional maupun internasional, apalagi untuk keperluan publikasi dan join riset. Selain itu, pemahaman para dosen juga berpengaruh nyata untuk membangkitkan suasana akademik. Oleh karena itu, kerja sama internal, antara mahasiswa, dosen dan pimpinan akan menentukan arah jalannya pendidikan kedepannya. “Ketiga komponen ini harus saling mendukung (bersinergi). Sebab banyak gagasan mahasiswa tidak tersalurkan karena kesulitan mendapatkan bantuan”, tambahnya lagi.
Strategi untuk mewujudkannya antara lain, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FP Unwar seyogianya terus membuat data tentang minat dan bakat mahasiswa di berbagai bidang serta dibutuhkan partisipasi aktif mahasiswa sebagai penggagas, seperti menciptakan sikap mandiri untuk mencari informasi yang berkaitan dengan lomba atau bidang keilmuan. “Saya akan bantu memfasilitasi (mencari dosen pendamping)”, tuturnya lagi.

Sedangkan Ketua Program Studi Peternakan FP Unwar, Yan Tonga sekaligus pendamping team menyatakan dukungannya terhadap upaya untuk mensinergikan antara tiga komponen tersebut. Bagi beliau sinergisitas merupakan kunci utama jika ingin menaikkan prestasi. Pertama, mahasiswa mesti mampu melihat dan mengambil peluang di sekitarnya, termasuk berbagai lomba. Dosen tidak bisa dijadikan sebagai sumber ide untuk kemudian dikerjakan mahasiswa agar memenangkan lomba. Kedua, kapasitas dan sikap dosen mesti lebih kritis untuk mengevaluasi seluruh isi karya, baik dari sisi format maupun substansi. Ketiga, pimpinan terkait juga harus membantu mahasiswa dan dosen dalam kaitannya dengan fasilitas yang dibutuhkan, seperti biaya pendaftaran, tempat diskusi, termasuk anggaran perjalanan manakala terdapat team yang lolos ke tahap berikutnya. Suasana itulah yang dirasakan kedua mahasiswi tersebut saat proses menjelang lomba. “Kami merasa didukung penuh. Sosok seperti beliau (Yan Tonga) ini yang kita butuhkan”, ucap Wulandari saat diwawancarai. Pemahaman dosen tidak terbatas pada keilmuan semata, tetapi juga perlu memahami inti event yang akan diikuti.
Strategi yang mesti diperhatikan untuk memenangkan lomba seperti ketelitian format, substansi dan evaluasi. Sebab ketika format tulisan yang sudah dipublikasikan panitia penyelenggara itu dilanggar, maka karya itu sudah dipastikan “masuk sampah”, walaupun ide atau gagasan didalamnya luar biasa kreatif dan inovatif. Diharapakan bahwa akan semakin banyak mahasiswa dari semua program studi di FP Unwar yang ingin mengikuti jejak positif ini, terutama dalam rangka mengembangkan kompetensi diri dan keterampilan. Yan Tonga menambahkan bahwa kuliah tidak hanya sekadar pemenuhan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi mahasiswa harus tampil. Mengingat kemampuan mahasiswa FP Unwar sangat mumpuni. Hanya diperlukan kepekaan mahasiswa terhadap hal-hal itu yang sebenarnya melimpah ruah di lingkungan sekitar, peran aktif (perhatian) dosen dan pimpinan., sehingga berkelanjutan. (BD)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *