Lapar

Malam ini tak seperti malam-malam sebelumnya. Dinginnya yang terasa hingga ke sum-sum tulang belakang membuatku merasakan lapar. Akupun memutuskan untuk untuk mencari restoran terdekat. Di luar sana, udara masih terasa dingin. Biasanya di malam yang dingin seperti ini tidak ada satupun restoran yang buka. Beruntung aku masih bisa menemukan restoran yang masih buka.

Bunyi bel di atas pintu masuk restoran berdenting ketika aku membuka pintu. Udara hangat menyambutku seketika itu juga saat aku masuk ke dalam restoran minimalis yang memiliki dekorasi menarik ini. Sebagian pelayan kulihat bekerja serius membereskan meja-meja yang mungkin bekas pelanggan sebelum aku datang.

Aku memilih duduk di meja nomor 6, tepat di tengah-tengah banyaknya kursi yang kosong. Seorang pelayan laki-laki menghampiriku dan menyerahkan buku kecil yang berisi menu. Pelayan itu kemudian pergi setelah aku menyebutkan pesananku dan mencatatnya di buku kecil yang ia bawa. pelayanan yang bagus, pikirku.

Malam ini aku memilih seporsi daging sapi panggang. Melihat gambarnya saja sudah membuatku semakin lapar. Sangat cocok sepertinya dengan udara malam ini juga. Sebab, biasanya makan makanan hangat dalam situasi seperti ini juga turut menghangatkan tubuh.

15 menit kemudian, pelayan itu kembali lagi dengan mendorong trolly makanan, piring bertutup yang berada di atas trolly itu di pindahkan ke mejaku. Setelahnya, ia membungkuk dan pergi dari hadapanku setelah mengucapkan selamat makan. Aku hanya mengangguk sebagai respon akan sikap sopannya.

Harum daging yang telah tercampur dengan rempah-rempah masuk ke dalam hidungku. Tanpa membuang banyak waktu, aku langsung melahapnya. Sangat enak. Ah, nikmat memang makananku malam ini.

Selesai makan dan merasa sangat puas dengan hidangannya, aku mengangkat tanganku memanggil pelayan untuk membayar. Selagi pelayan itu berjalan ke arahku, aku meraba saku celanaku mencari dompet. Namun, saat pelayan itu tiba di mejaku, aku belum juga menemukan dompetku. Aku panik. “Astaga, bagaimana ini?” tanyaku dalam hati menutupi kepanikanku.

“Maaf tuan, saya lupa membawa dompet,” ucapku pada pelayan yang berdiri di hadapanku.

Pelayan itu hanya diam saja. Namun, tetap dengan matanya yang melotot terus menatapku. Tatapannya itu membuatku semakin gelisah. Aku bingung harus melakukan apa.

“Atau begini saja, rumah saya tidak jauh dari tempat ini, bolehkah saya pergi sebentar untuk mengambil dompet saya dan kembali untuk membayar makanan saya, bagaimana?” tawarku. “Saya janji tidak akan kabur,” lanjutku lagi mecoba untuk melakukan negosiasi.

Pelayan itu tersenyum kepadaku. Setelah itu, ia mengucapkan hal yang tidak ku mengerti apa maksudnya.

“Daging itu juga tidak membayar tuan.”

Penulis: NBM
Ilustrasi : Alisa Yufa

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *