Mahasiswa Pulang Dikala Wabah Covid-19, Buat Apa?

Setelah melihat dan mengamati beberapa story WA maupun postingan lain di FB/IG, banyak mahasiswa yang memilih pulang kampung karena perkuliahan di kampus terpaksa harus  tutup dan digantikan dengan metode perkuliahan secara dalam jaringan (daring) atau online. 

Bukan tanpa alasan mereka pulang, hal ini dikarena waktu untuk masuk kampus guna menjalani perkuliahan seperti biasanya tidak ditentukan secara pasti. Kadang, ada perpanjangan waktu kuliah daring setiap dua Minggu sekali. Kemudian ada juga mahasiswa lainnya yang kuliah sambil bekerja, namun dampak dari wabah Covid-19 ini membuat mereka akhirnya dirumahkan juga. Daripada tetap tinggal di rantau dan menghabiskan banyak biaya ini dan itu, lebih baik pulang. Sesimpel itu alasannya.

Kita tahu bahwa virus Corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang bermula dari kota Wuhan di Tiongkok ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia dan menyebabkan timbulnya penyakit COVID-19 di mana-mana. Indonesia juga salah satunya.

Kemudian pada 11 Maret 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Pandemi adalah sebuah epidemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, dan umumnya menjangkiti banyak orang. Sementara, epidemi merupakan istilah yang digunakan untuk peningkatan jumlah kasus penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi di area tertentu. 

Kondisi ini jelas tidak boleh diremehkan karena hanya ada beberapa penyakit saja sepanjang sejarah yang digolongkan sebagai pandemi. Istilah pandemi tidak digunakan untuk menunjukkan tingkat keparahan suatu penyakit, melainkan hanya tingkat penyebarannya saja. Dalam kasus saat ini, COVID-19 menjadi pandemi pertama yang disebabkan oleh virus corona. 

Lalu, apa sih peran yang harus dimainkan oleh mahasiswa setelah pulang ke kampung halaman ditengah pandemi covid-19 ini?

Sadar tidak sadar kita sebagai mahasiswa terlelap oleh pandemic ini. Saking terlelapnya, kita menjadi bagian dari mereka yang menyebarkan informasi palsu ditengah krisis akibat wabah Covid-19 ini. Kita menjadi ancaman bagi diri kita sendiri juga bagi orang lain. Lantas dimana mahasiswa sebagai agent of change, sebagai social control dan peran yang lainnya?

Memang sebuah hal wajar ketika mahasiswa kebingungan karena kita baru beberapa saat menghadapi pandemic ini. Tapi mau sampai kapan kita hanya diam, hanya menonton mereka yang berjuang membantu masyarakat, mengedukasikan tentang protokol kesehatan?

Ayo!!! jangan terlalu lama tertidur, jangan terlalu lama menutup mata, sudah seharusnya mahasiswa berperan dalam menghadapi masa pandemic ini. Bukan sebaliknya menyebarkan informasi palsu tanpa melakukan check and recheck kebenaran informasi itu.

Ingat Mahasiswa adalah pembawa perubahan, mahasiswa adalah orang-orang yang punya intelektual tinggi, kritis dan juga kreatif. Jadi bagaimana definisi tersebut kita bisa lakukan?

Sedikit cerita, kemarin ada seorang motivator saya namanya Efraim Bomba Reda, beliau adalah seorang mahasiswa dan juga mantan ketua PMKRI cabang Denpasar dan sekarang menjadi ketua  Perhimpunan Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Universitas Warmadewa (Permata Unwar).

Saat ini beliau juga sebagai koordinator Aliansi Bali Peduli Covid-19 dan kemarin ada sesuatu yang mendesak beliau pulang ke kampung halamannya. Beberapa hari kemudian saya melihat di story WA-nya, ia mengajak keluarga di kampungnya untuk membuat sebuah kreatif yang ia pernah lakukan di Bali yaitu membuat tempat cuci tangan atau water dispenser dari ember bekas lalu di pasang di setiap kampung maupun tempat umum.

Itu menurut saya adalah hal sederhana yang sangat kreatif. Lantas apa yang harus kita perbuat? kolektif melakukan aksi kemanusiaan itu sangat banyak kawan, kita bisa gunakan kesempatan yaitu dengan memberikan edukasi atau sosialisasi kepada masyarakat tentang apa itu virus Corona?, bagaimana penularannya? dan bagaimana pula pencegahannya.

Ingat kawan, perang sesungguhnya bukan tentang melawan Covid-19, tapi perang sesungguhnya baru akan dimulai setelah wabah ini berakhir. Apa yang akan terjadi? Bagaimana kondisi ekonomi, sosial, politik, dan budaya kita setelah pandemi ini berakhir? Di sini peran mahasiswa sebagai social control perlu dimainkan. Jangan sampai setelah pandemi ini berakhir kita menyesal karena selama ini kita terlalu lama terlelap, terlalu lama menutup mata. Sebarlah kebaikan jangan ikut ikutan sebar kepanikan.

Hal yang lain yang perlu kita perankan sebagai mahasiswa adalah mengenai kebijakan Presiden Jokowi yang memberikan sumbangan ke setiap KK sebesar 600rb dan di kelola oleh pihak daerah atau desa.

Pertanyaannya apakah sudah dilakukan? Kalau sudah ya syukur, bagaimana kalau belum? Bagaimana kalau sudah di isi di dompet mereka? Bagaimana kalau mereka hanya membagi sembako yang tidak sampai dengan nominal yang diberikan oleh pemerintah pusat?

Kasihan kan masyarakat yang betul-betul membutuhkan disaat pandemi seperti ini. Terus apa peran kita sebagai mahasiswa dalam mengawasi hal tersebut di setiap daerah kita? Ingat Mahasiswa ialah seorang intelektual, agen perubahan.

Jadi harapan saya bagi teman-teman yang sedang dan akan pulang kampung untuk ikut mengawasi hal tersebut. Sebab barang itu milik rakyat bukan milik mereka sang pemimpin. Jika ada kejanggalan laporkan saja ke pihak yang berwenang, jangan takut tidak ada yang kebal hukum.

Terima kasih.

Herenimus Hawu Pola

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Warmadewa

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *