MARI MENGENALI PRINSIP POSISI TIDUR SECARA BAIK DAN BENAR

Om Ano Bhadrah Kratavo Yantu Visvatah. Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Konnijiwa, minna!!

Sebagai makhluk hidup, tidur merupakan salah satu kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Bahkan, beberapa kalangan mengatakan bahwa ‘manusia dapat bertahan hidup tanpa makan, tetapi tidak tanpa tidur’. Tentu saja karena tidur adalah kesempatan bagi seluruh sistem tubuh untuk meregenerasi fungsi tubuh, membuang racun yang tertumpuk, menyeimbangkan emosi, bahkan memacu pertumbuhan.

Terlepas dari apakah teman-teman adalah orang bertipe ‘makhluk pagi’ atau ‘makhluk kalong’, hal lain yang perlu kita semua ketahui adalah mengenai posisi tidur yang benar. Mengapa posisi tidur perlu kita ketahui bersama-sama? Sebelumnya, mungkin teman-teman sudah bisa sedikit membayangkan bagaimana susunan organ-organ tubuh kita. Nah, ketika seseorang berada dalam keadaan istirahat tertentu, maka beberapa organ dalam kita akan turut beradaptasi dengan keadaan tubuh saat itu.

But, there’s some risk. Tidak ada posisi tidur yang benar-benar 100% aman untuk kita semua. Salah satu posisi bisa saja mempermudah kerja organ tertentu, namun resiko berbahaya bisa muncul dari organ lain. Karena itu, mari simak bersama-sama beberapa posisi tidur beserta manfaat dan resiko yang ditimbulkan.

Miring Kanan vs Miring Kiri (Lateral Position)

Kedua posisi tidur ini memang menjadi posisi tidur dominan bagi banyak orang. Kedua posisi ini bersama dengan posisi terlentang memang secara umum membuat tidur menjadi lebih nyaman.

Dilansir dari Jurnal Ilmiah Keperawatan 2017 Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), posisi miring ke kanan memang memberi banyak manfaat, terutama untuk mencegah Hipertensi. Posisi ini cenderung akan meringankan beban kerja jantung karena posisi anatomisnya yang cenderung berada di sisi kiri tubuh. Pada posisi ini, pusat kontrol kardiovaskular pada Batang Otak akan meningkatkan kerja saraf parasimpatis sehingga menurunkan Cardiac Output (curah jantung) dan memicu vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) sehingga resiko tekanan darah meningkat dapat dikurangi. Menurut Tribun Makassar, posisi ini juga baik bagi Paru-paru kiri karena tidak tertindih oleh Jantung (yang jaraknya lebih dekat) dan Paru-paru kanan (yang ukurannya lebih besar).

Eittss, posisi miring kanan ini juga punya resiko tersendiri lho. Bagi teman-teman yang punya riwayat penyakit pada Lambung seperti Gastrititis (radang lambung) atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), posisi miring kanan ini akan berbahaya jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Pada posisi ini, asam lambung justru akan lebih mudah meningkat volumenya sehingga akan mengiritasi jaringan mukosa Lambung, bahkan dapat naik menuju Esophagus (kerongkongan) dan mengikis jaringan di sana. Selain itu, posisi ini rawan bagi Hati karena adanya tekanan intraperitoneal (ruang terdalam rongga perut atas) sehingga menyebabkan organ terbesar tubuh ini harus bekerja ekstra untuk melakukan penyerapan nutrisi.

Sementara itu, dilansir dari Dream, posisi miring ke kiri justru lebih memberikan banyak manfaat. Terutama sekali karena posisi ini baik untuk ibu hamil agar melancarkan peredaran darah terutama pada pembuluh darah di bawah perut (Arteri-Vena Iliaca). Manfaat lainnya adalah menstabilkan laju pencernaan pada Lambung dan mengurangi resiko GERD tadi. Organ Hati dan kantung Empedu pun juga dibantu oleh posisi tidur ini karena tekanan intraperitoneal berkurang sehingga aliran Empedu akan lancar dan mempermudah penyerapan nutrisi. Posisi ini juga cenderung bagus untuk jalur pernafasan atas karena otot intrinsik Laring dan lidah akan relaksasi sehingga Epiglottis (katup pembatas menuju Laring) lebih leluasa terbuka dan meminimalisir dengkuran.

Dan… resikonya juga tentu saja ada. Posisi ini tentu saja akan memberatkan Jantung karena tekanan pericardium (ruang pembungkus jantung) lebih meningkat sehingga akan beresiko tinggi bagi penderita Hipertensi. Tekanan pada Paru-paru pun meningkat terutama pada Paru-paru kiri sehingga meningkatkan peluang terkena tekanan intratorakal (ruang terdalam rongga dada).

Terlentang Lengan Samping (Soldier) vs Lengan Atas (Starfish)

Tidak sedikit pula orang yang sering melakukan posisi tidur seperti ini. Tentunya posisi terlentang jauh lebih baik dibandingkan posisi telungkup. Meskipun posisi telungkup bisa dikompensasi dengan menambah bantal pada panggul atau tidur tanpa bantal sama sekali, namun dalam jangka panjang posisi ini sangat berbahaya karena memperbesar peluang terjadinya Ascites (penumpukan cairan di rongga perut) karena robeknya lapisan peritoneum pada perut atau karena Hipertensi Portal (peningkatan tekanan aliran darah ke Hati). Posisi tengkurap juga disebut dapat menyebabkan tulang punggung-leher terasa nyeri dan kaku serta gangguan ritme Jantung dan pernafasan karena tekanan tulang rusuk.

Sementara, posisi terlentang yang dilakukan dengan kedua lengan di samping memberikan beberapa manfaat. Selama tidak menggunakan bantal yang terlalu tinggi, posisi tidur ini dapat merelaksasi tulang punggung-leher serta otot-otot punggung dan perut. But, posisi ini beresiko mengakibatkan jalur pernafasan atas mengalami konstriksi (penyempitan) sehingga menyebabkan seseorang mendengkur. Dan mendengkur sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan sleep apnea bahkan menyebabkan insomnia karena intensitas bunyi dengkuran yang sangat tinggi yakni di atas 60 dB, menurut Tempo.

Di sisi lain, posisi terlentang yang dilakukan dengan kedua lengan di atas juga memberikan efek positif yang sama pada tulang punggung-leher, namun resiko jangka panjang mengintai pada otot-otot perut yang berkontraksi ke atas karena tertarik oleh otot-otot lengan sehingga dapat menyebabkan kram serta gejolak pada asam lambung. Saraf dan ligamen pada bahu juga rentan bermasalah oleh posisi ini.

Kepala Menghadap Utara vs Selatan

Seorang dokter sekaligus penulis India Vasant Lad berkata “Hanya orang mati yang tidur dengan kepala menghadap Utara”. Well, menyeramkan juga ya… Menurut media kesehatan India Isha Sadguru yang didukung oleh Kripalu, Vastu Sastra sebagai cabang Veda pada ilmu arsitektur dan teknologi (mirip seperti ilmu Feng Shui) juga menyatakan bahwa jika seseorang tidur dengan kepala menghadap utara ia akan mengalami frustrasi, kelabilan emosi, mudah tersinggung, dan sederet emosi negatif lainnya. Jadi sebenarnya, mengapa sih

Tentunya kita ingat bahwa Bumi terbagi atas dua kutub magnet, yakni Utara dan Selatan dengan catatan bahwa nilai gaya dan percepatan jatuh benda selalu lebih tinggi jika semakin mendekati daerah kutub dan semakin rendah jika mendekati khatulistiwa. Sehingga dapat dipahami bahwa arus medan magnet Bumi cenderung menguat jika mendekati kutub dan melemah jika mendekati khatulistiwa. Dan elemen-elemen yang bersifat ferromagnetic (cenderung tertarik oleh magnet) pastinya selalu mengikuti arus medan ini. Pertanyaanya, organ tubuh manakah yang paling banyak mengandung elemen ferromagnetic ini? Jawabannya adalah Darah. Mengapa? Karena mengandung unsur Besi.

Dari sini kita dapat memahami bahwa aliran Darah di tubuh yang dipompa oleh Jantung akan menyesuaikan diri dengan arus medan magnet Bumi ini karena keberadaan Besi sebagai komponen penyusun Sel Darah Merah. Tentunya Jantung secara alamiah memerlukan energi yang lebih kuat untuk memompa Darah menuju Otak dibanding anggota tubuh lainnya karena posisi Otak selalu berada di atas Jantung. Nah, ketika seseorang memposisikan kepala di Utara saat tidur, itu artinya Jantung akan memompa keras suplai darah menuju Otak sehingga Cardiac Output meningkat sebagai bentuk perlawanan terhadap arus medan magnet Bumi. Akibatnya, Otak akan menerima ‘gelombang’ aliran darah yang dahsyat dari Jantung sehingga tekanan pada Otak akan meningkat. Dan jika kondisi ini dibiarkan dalam jangka panjang, maka bukan tidak mungkin seseorang akan mengalami Perdarahan Otak atau bahkan Stroke Paralitik. Kondisi ini dapat diperparah pada seseorang yang mengalami Hemochromatosis, yakni suatu kondisi di mana kadar besi pada Sel Darah Merah meningkat karena selain meningkatkan tekanan Otak juga akan memperbanyak endapan besi di Otak dan Cairan Serebrospinal.

Lalu bagaimana dengan kepala menghadap Selatan? Jika seseorang berada di Belahan Bumi Utara (seperti India), maka posisi tersebut aman. Namun jika seseorang berada di Belahan Bumi Selatan (seperti sebagian Indonesia atau Australia), maka posisi ini justru berbahaya dan sebaliknya posisi kepala menghadap Utara yang aman. Mengapa begitu? Kembali lagi pada konsep arus medan magnet Bumi tadi, bahwa arus medan magnet menguat di dekat kutub dan melemah di dekat khatulistiwa. Jadi mudahnya, selalu hadapkan posisi kepala menuju khatulistiwa apalagi jika mengalami kelainan hematologi seperti Hemochromatosis.

Kepala Menghadap Timur vs Barat

Last, bagaimana dengan tidur menghadap Timur atau Barat? Menurut Vastu Sastra sendiri, seluruh arah tidur kecuali menghadap kutub adalah baik. Tetapi untuk para pelajar (Brahmacari) serta kaum intelektual (Brahmana), menghadap Timur lebih direkomendasikan dibanding Barat. Diyakini bahwa posisi tidur ini akan meningkatkan konsentrasi, daya ingat, serta memaksimalkan pemulihan tubuh. Bagaimanakah penjelasannya?

Seperti yang kita ketahui, Matahari selalu melakukan gerak hariannya dari Timur menuju Barat. Dan aliran energi kehidupan (Prana) pun mengalir dari Sahasrara Chakra (pleksus energi pada Lobus Parietal di Otak) menurun hingga menuju Muladhara Chakra (pleksus energi pada Tulang Duduk/Os Coccygeal). Secara logis, jika kedua energi ini bergerak secara bersama-sama dan sinergis, tentunya hal itu akan meningkatkan kekuatan seseorang secara fisik maupun mental sehingga lebih siap menerima pengetahuan dan pengalaman baru.

Bahkan, dalam fatwa Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Uthaimin Rahimahullahu Ta’ala yang dikutip dari Dalam Islam, beliau menjelaskan bahwa orang yang sedang sakit dapat bersolat dengan cara terlentang dan kedua kaki menghadap kiblat (sementara kepala menghadap Timur) sehingga tak ada hukumnya untuk mempermasalahkan arah kaki menghadap kiblat.

Sementara, posisi kepala menghadap Barat dianggap sebagai posisi tidur yang netral. Posisi ini terutama direkomendasikan bagi orang-orang yang ingin memiliki kecenderungan aktif bekerja serta jam tidur lebih sedikit seperti kaum pemerintahan atau Influencer di media sosial. Namun bagi sejumlah kalangan, posisi ini dinilai tidak baik karena akan memunculkan mimpi yang aktif dan sulit terkendali karena aliran Prana dan energi Matahari yang saling berlawanan. Jadi, posisi ini tidak dianjurkan bagi orang-orang yang ingin memperbaiki kualitas tidurnya.

As the closing, marilah renungkan kutipan kali ini bersama-sama.

You are your own healer

-Ayurveda-

Keep Spirit!

1887-san

DAFTAR PUSTAKA

Sleeping Direction: Why North Is not the Best Direction to Sleep In. Tersedia pada https://isha.sadhguru.org/global/en/wisdom/article/why-we-do-what-we-do-sleeping-right

Which Direction Do You Sleep In? According to Ayurveda, It Matters. Tersedia pada https://kripalu.org/resources/which-direction-do-you-sleep-according-ayurveda-it-matters

8 Posisi Tidur yang Baik Untuk Kesehatan. Tersedia pada https://www.honestdocs.id/8-posisi-tidur-yang-baik-untuk-kesehatan 

Tidur Menghadap ke Kiri Bahaya Bagi Jantung, Otak, dan Paru-paru. Tersedia pada https://makassar.tribunnews.com/2014/12/24/tidur-menghadap-ke-kiri-bahaya-bagi-jantung-otak-paru-paru

Tak Hanya Pria, Wanita Juga Mendengkur dengan Suara Keras. Tersedia pada https://gaya.tempo.co/read/1199914/tak-hanya-pria-wanita-juga-mendengkur-dengan-suara-keras

Efek Tidur Miring ke Kiri Terungkap, Hasilnya Mencengangkan! Tersedia pada https://www.dream.co.id/unik/inilah-berbagai-manfaat-kesehatan-jika-tidur-miring-ke-kiri-1711075.html

Hukum Tidur Menghadap Kiblat Dalam Islam. Tersedia pada https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-tidur-menghadap-kiblat-dalam-islam

Ini yang Terjadi pada Tubuh Bila Posisi Tidur Miring ke Kanan. Tersedia pada https://www.suara.com/health/2018/09/05/075939/ini-yang-terjadi-pada-tubuh-bila-posisi-tidur-miring-ke-kanan

Yulifah R, Welly, Dewi N. Pengaruh Posisi Tidur Miring Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi di Posyandu Lansia “Permadi” Kelurahan Tlogomas Malang. Tersedia pada https://publikasi.unitri.ac.id/index.php/fikes/article/view/162/196

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *