Membayangkan Perploncoan Online

“Cepetan jalannya!”

“Lari, dek! Lari!”

“Kenapa nggak kumpul tugas?”

“Kenapa datang terlambat?”

“Kami itu loh, nggak tidur seharian gara-gara kalian”

Itu adalah beberapa kata yang sering diucapkan panitia ospek yang masih terngiang dalam ingatan saya hingga saat ini. Kata-kata yang menunjukkan bagaimana kakak-kakak yang dengan bangganya menjadi panitia memperlakukan mahasiswa baru. Dengan senioritas ala kadarnya agar disegani mahasiswa baru. Miris. Penggunaan embel-embel senior bagi mahasiswa lama dan istilah junior untuk mahasiswa baru jelas menunjukan tingkatan kekuasaan dimana pada praktiknya cenderung mengacu pada sistem feodalisme, bahwa jabatan tinggilah yang punya kuasa.

Saya masih mengingat bagaimana perlakuan panitia ospek di tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana mereka memperlakukan mahasiswa baru dengan senioritasnya, menjadikan galak mereka sebagai barang wajib, murung mereka seakan penuh beban, keras mereka seakan mereka selalu benar.

Oh iya, bicara selalu benar, ada aturan aneh bin konyol bin miris yang selalu tertanam;

  1. Panitia ospek selalu benar
  2. Kalau panitia ospek salah, kembali lagi ke peraturan nomor 1.

Mereka (panitia ospek) bahkan tidak tahu dan tidak akan pernah mau tahu bahwa galak atau marah-marah mereka itu tidak ada artinya. Marah-marah tanpa esensi, teriak-teriak ingin didengar (juga tanpa esensi). Mental semacam ini hanya akan memupuk rasa marah yang mendalam dari mahasiswa baru yang berujung dendam. Kemudian menjadikan perlakuan yang sama sebagai panutan untuk perlakuan-perlakuan berikutnya pada mahasiswa baru.

Belum lagi segala atribut ospek yang tidak penting. Kartu identitas yang terbuat dari karton berukuran sekian kali sekian cm, untuk apa? Jika tujuannya hanya untuk tanda pengenal diri mahasiswa baru. Ada lagi kantong kresek dengan segala yang harus diisi; makanan dengan nama yang dibuat bagaikan teka-teki yang harus dipecahkan. Bila salah membeli, besoknya bawa lagi. Lalu tugas yang harus dikerjakan dalam sehari tanpa memikirkan kapan dan bagaimana harus mengerjakan dan mendapatkan tugas-tugas tersebut lalu pada akhirnya dicoret. Untuk apa membuang-buang material dan tenaga demi hal-hal yang tidak secara langsung memberi dampak pada pendidikan?

Beberapa teman ketika berdiskusi tentang bagaimana dan berapa banyak pengeluaran yang dikeluarkan saat ospek mengatakan bahwa harusnya ospek untuk pengenalan kehidupan kampus dilakukan dengan cara humanis. Bukan membalutnya dengan cara humanis yang nyatanya penuh perlakuan buruk. Ada pun pengeluaran dari awal ospek sampai akhir hampir mendekati satu juta.

Sebagai manusia merdeka saya lebih memilih untuk membangkang saat mengikuti ospek. Sederhana sih sebenarnya. Hanya karena saya sudah lelah dengan perlakuan panitia selama ospek. Dan kau tahu? Pada akhirnya kata TIDAK LULUS OSPEK harus memaksa saya dan beberapa teman lainnya untuk ikut ospek di tahun berikutnya. Hehehe.

Ada alasan menarik yang saya dapatkan dari panitia diakhir kegiatan ospek. Mereka yang awalnya marah-marah, galak, muka murung, tiba-tiba senyum, ceriah, bahasanya selembut sutra. “Maaf, yah dek. Kami marah-marah juga untuk melatih mental kalian. Melatih kalian bagaimana pantang menyerah” dan lain-lain. What? Melatih mental? Sungguh alasan yang tidak masuk akal. Dalih melatih mental menghalalkan marah-marah. Mereka tidak pernah pikir bagaimana tekanan yang dihadapi mahasiswa baru. Mereka tidak akan pikir bahwa marah-marah mereka, bentak-bentak mereka akan berimplikasi pada kehidupan dan juga pergaulan maba.

Melatih mental tidak harus dengan teriak-teriak. Melatih mental tidak harus dengan bentak-membentak. Melatih mental tidak harus dengan menakut-nakuti. Karena tidak semua orang mentalnya kuat. Tidak semua orang bermental baja. Ada yang sensitif dan ada pula yang sangat sensitif dengan bentakan. Melegalkan tindakan melatih mental itu sama halnya melegalkan perilaku bullying. Mirisnya, baik mahasiwa lama maupun mahasiswa baru menganggap hal tersebut sudah biasa. Praktiknya tidak secara langsung mengarah pada bullying, namun dikemas agar ospek terlihat humanis guna pembenaran atas aksi tersebut.

Saya pun demikian. Dalam masa ospek, saya mengalami perlakuan “kekerasan”. Secara pengertian, kekerasan itu tidak hanya pada hal-hal yang menyangkut fisik saja, tetapi juga kekerasan psikis maupun secara verbal. Bentakan-bentakan, marah-marah, melakukan kegiatan dengan terpaksa, bahkan senyum pun dilakukan dengan terpaksa hanya agar terhindar dari panitia ospek.

Perlakuan itulah yang akhirnya menjadikan saya sebagai pribadi yang mendendam. Meski pada akhirnya saya memaafkan, tapi saya tidak akan pernah melupakan wajah panitia ospek dan segala perlakuan mereka. Masih tersimpan rapi dalam memori ingatan saya, bukan karena suatu saat nanti saya ingin balas dendam jika berkesempatan menjadi panitia ospek, tetapi agar saya tidak melakukan hal serupa.

Harapan saya, semoga birokrasi kampus merasa terusik dengan adanya sistem seperti ini dan kemudian membenahinya menjadi lebih baik lagi.

Itu sedikit dari sekian banyak cerita saya saat mengalami masa ospek dengan segudang perpeloncoan dulu. Lalu, bagaimana dengan ospek masa kini? Kabarnya kegiatan ospek akan diadakan secara online. Hmmm bagaimana yah kira-kira perpeloncoan online nanti? Yuk sama-sama kita bayangkan. Karena membayangkan perpeloncoan online tidak sama seperti membayangkan ospek ohlain. Eh maksud saya ospek langsung.

Penulis: Petu, mahasiswa lama yang ikut ospek lagi.
Ditulis dengan penuh dendam, memaafkan, lalu mengingat wajah-wajah panitia ospek.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *