Mengenal Conversational Narcissism: Budaya Lempar Tangkap Percakapan

Conversational Narcissism adalah keinginan untuk terus berbicara, untuk mengambil alih obrolan dan fokus pada kita sendiri. Ketika seseorang terlalu memfokuskan diri sendiri dalam suatu obrolan dan sama sekali tidak mengkhawatirkan orang lain. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Charles Derber dalam bukunya “The Pursuit of Attention: Power and Individualism in Everyday Life” tahun 1979. Pandangan sosiologisnya menunjukkan bahwa perhatian adalah sumber daya sosial (ibarat mata uang) yang mewakili dinamika kekuasaan di antara orang-orang. Percakapan mewakili transaksi mata uang sosial ini. Dari sini, premisnya sederhana: semakin banyak pembicaraan tentang kamu, semakin banyak perhatian yang kamu dapatkan, semakin banyak mata uang atau kekuatan sosial yang kamu peroleh.

Dia merasa saat itu sistem dukungan sosial sangat lemah sehingga membuat setiap orang bersaing untuk mencari perhatian. Dalam bukunya, dijabarkan dua jenis respon dalam percakapan : a shift response dan a support response. A shift response mengalihkan perhatian ke diri sendiri, sedangkan a support response  mendukung pendapat orang lain.

Contoh dari kedua jenis respon tersebut :

The support response

Miya : Aku lagi ada masalah nih

Nana : Kenapa? Ada masalah apa? 

The shift response

Nana : Aku lagi ada masalah nih

Miya : Aku juga ada masalah nih, duh kesel banget sama Layla, tau gak dia …

Mungkin kita semua pernah mengalami ataupun melakukannya. Saat sedang menceritakan ceritamu, mereka selalu mengganti topik menjadi topik mereka. Yang semula ceritamu, lalu diinterupsi agar bisa bercerita tentang cerita mereka. 

Permainan lempar tangkap bisa dijadikan metafora dalam sebuah percakapan. Dalam permainan itu kita diarahkan untuk bergantian menangkap, tetapi dalam percakapan kita sering menolak untuk memberikan orang lain giliran. Terkadang menggunakan cara pasif yang halus untuk mengambil alih bola percakapan. Mudah melacak titik tarik-menarik dalam sebuah percakapan, mungkin bisa dari memulai dengan memberikan respon yang mendukung dan kemudian melanjutkan dengan menarik arah percakapan tentang diri sendiri.

Timbal balik dalam suatu percakapan adalah hal yang penting. Wajar jika terkadang mengalihkan obrolan dan perhatian pada pengalaman diri sendiri. Salah satu area otak yang jauh di dalam korteks serebral, Insula, menyerap informasi yang diceritakan orang lain dan kemudian mencoba menemukan pengalaman yang relevan di bank memori yang dapat memberikan konteks pada informasi tersebut. Ini bermanfaat sehingga otak berusaha memahami apa yang kita dengar dan lihat. Secara tidak sadar, otak menemukan pengalaman serupa dan menambahkannya ke apa yang terjadi saat ini, dan kemudian seluruh informasi dikirim ke daerah limbik, bagian otak tepat di bawah otak. Di situlah beberapa masalah dapat timbul – alih-alih membantu kita lebih memahami pengalaman orang lain, pengalaman kita sendiri dapat mengubah persepsi kita tentang apa yang dikatakan atau dialami orang lain.

Seorang peneliti, Dr. Tania Singer mengatakan, orang yang merasa diri sendiri baik tidak akan serius menanggapi pengalaman buruk orang lain dalam percakapan dan mengganggap remeh cerita mereka. Sebaliknya, mereka yang baru saja mengalami hal buruk, akan merespon cerita orang lain dengan tanggapan yang tidak serius atau kurang positif. Dengan kata lain, kita cenderung menggunakan perasaan kita sendiri untuk menanggapi dan menentukan bagaimana perasaan orang lain.

Kalau dalam kisah sehari-hari, kamu dan temanmu secara bersamaan gagal dalam mengerjakan sesuatu, dengan hal ini,  kamu menggunakan perasaanmu sebagai ukuran perasaan temanmu mungkin cukup akurat karena kamu mengalami peristiwa yang sama. Tapi bagaimana jika kamu baru saja mengalami hari yang menyenangkan dan bertemu dengan orang yang tertimpa suatu masalah? Tanpa disadari kamu akan menanggapi mereka dengan suasana tenang. Saat temanmu berkata, “sedih banget, aku baru aja kehilangan kucing kesayanganku,” lalu kamu akan menjawab, “gak usah panik, tenang aja. Dulu kucingku juga sempat hilang, tapi lama-lama ikhlas dan semua jadi baik-baik aja.” Semakin kamu merasa nyaman, semakin sulit untuk berempati dengan penderitaan orang lain.

Respon seperti ini sebenarnya baik-baik saja, kecuali jika kita kembali memfokuskan ke orang lain. Namun bagaimana jika seseorang mencuri semua fokus pembicaraan? Yah, itu bisa membuat kita merasa down, tidak dihargai, terisolasi atau kesepian. Percakapan adalah tentang pertukaran ide dan kesempatan untuk terhubung. Koneksi adalah bagian mendasar dari pengalaman dan kesejahteraan manusia.

Kita sering berasumsi kalau kita mengetahui apa yang dirasakan orang lain. Kita tidak sabar untuk berbagi pengalaman yang sama, tapi ini tidak bisa membuat hubungan baik-baik saja. Ini membuat kita hanya fokus pada diri sendiri dan memisahkan diri satu sama lain. Terutama saat seseorang berbagi kisah tragisnya, mereka yang belum tentu mencari solusi. Mungkin mereka hanya butuh untuk didengarkan, yang mau memberikan mereka sepasang telinga. Ketika mereka sedang bercerita, mereka lah penutur utamanya, kita akan punya giliran.

Semua pengalaman itu unik, tidak semua pengalaman sama. Jadi jangan langsung mengambil kesimpulan dengan mengatakan “Aku tau kok perasaan kamu”. Cobalah untuk fokus pada topik yang dibicarakan orang lain terlebih dahulu, akan ada kesempatan kita untuk berbicara hal yang sama. Orang lain juga akan membiarkan kita berbicara lebih banyak ketika kita berbicara tentang topik yang menarik bagi mereka.  Jadilah pendengar yang baik, doronglah mereka untuk berbicara, tanya bagaimana perasaannya. Kalau mereka bilang “aku ngalamin hari yang buruk banget…”, cobalah merespon dengan “aku ikut sedih dengernya, kamu kenapa?”.  

Pada akhirnya, jenis percakapan yang baik adalah percakapan di mana tidak ada pihak yang berupaya memonopoli bola obrolan, ada yang memberi dan menerima  serta berupaya tidak berpura-pura tertarik dengan topik pembicaraan. Percakapan yang baik seharusnya tidak sesulit ini, tetapi seringkali sulit bagi banyak orang. Jika kamu memiliki kecenderungan narsis dalam percakapan, kamu dapat menghindarinya dengan memperhatikan bagaimana dan kapan saatnya merespon  apa yang dikatakan orang lain. Jangan menyalak pada mereka atau memutuskan bahwa mereka perlu tahu apa yang kamu ketahui.

Oleh : Devik Widia

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *