Menggali Sejarah “Sunda Kecil” Lewat Diskusi Komunitas Masyarakat Sunda Kecil (NTT, NTB, BALI)

Denpasar – Komunitas Masyarakat Sunda Kecil (NTT, NTB, BALI) menggelar diskusi terbatas  (FGD+) bertemakan “Sunda Kecil” yang diselenggarakan di Sekretariat Komunitas Masyarakat Sunda Kecil, Jl.Tukad Musi I/ No 5 Renon pada Sabtu 25/01/20.

Diskusi terbatas (FGD+)  ini dipandu Sekretaris BP Komunitas Masyarakat Sunda Kecil, Valerian Libert Wangge, S.H dan 2 orang narasumber yakni Prof. Aron Meko Mbete dari Akademisi Universitas Udayana dan I Ketut Gede Arnawa dari Pemprov Bali.

Dalam acara diskusi terbatas (FGD+) ini dihadiri oleh 13 orang Mitra diskusi yang memiliki peran untuk berbagi pandangan berdasarkan latar belakang pengalaman, keilmuan maupun profesi, yakni Brigjen Pol(Purn) Nyoman Gede Suweta (Mantan Wakapolda Bali), Dr Putu Tuni Sakabawa,S,H,M.Hum (Ahli Legislasi Pemprov Bali), Ngurah Paramartha (Ketua Literasi Singasari), Yosep Yulius Diaz (Ketua Umum IKB Flobamora Bali), Syarifuddin Amd (Sekretaris Paguyuban Sasambo NTB Bali), Herman Umbu Billy dari Sumba TV, Joni Gede Suhartawan(Jurnalis), Yoga Fitrana Cahyadi,S.H,M.H (Ketua BP Komunitas Masyarakat Sunda Kecil), Muammar Kaddafi ( Tokoh Muda NTB di Bali), Sudjana Budhi (Pelaku Bisnis), Ragil Armando (Pemerhati Sejarah), I Putu Eka Mahardika (Akademisi Universitas Warmadewa) dan Gusti Ayu Pt Ardhana Kory (Aktivis)

Adapun Tujuan digelarnya diskusi  terbatas (FGD+) ini yakni, ingin menggali, menelusuri dan mempelajari jejak-jejak sejarah Sunda Kecil sebagai fakta sejarah baru untuk ditulis kembali dan mempelajari  potensi Sunda Kecil dari aspek sumber alam, sumber daya manusia, peningkatan kesejahtraan dan perekonomian rakyat dikawasan Sunda Kecil yang solutif, proposional dan berdaya ubah.

I Ketut Gede Arnawa salah satu Narasumber dari diskusi terbatas (FGD+) ini menyampaikan sedikit sejarah dan tujuan terbentuknya Forum kerja sama Sunda kecil ini.

“terbentuknya Forum  kerja sama sunda kecil ini dilandasi dengan adanya latar belakang historis yang memiliki sejarah dan pengalaman yang sama dalam pembentukan administrasi pemerintah. Sesuai dengan latar belakang sejarah berdirinya forum yang menggabungkan 3 provinsi yaitu Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Provinsi Nusa tenggara Barat, maka terbentuklah Forum Kerjasama Sunda Kecil pada tangggal 20 Desember 2008, yang bertujuan untuk mensinergikan penggelolaan dan pengembangan potensi antar daerah dan program pembangunan di kawasan Sunda Kecil dengan meningkatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki ketiga provinsi ini” ujarnya

Selain itu, I Ketut Gede Arnawa juga menyayangkan potensi daerah dari ketiga propinsi ini yang belum dioptimalkan secara baik. Karena itu, ia menguraikan dengan jelas tujuan dari adanya diskusi ini agar dapat dilaksanakan oleh masyarakat dan sekaligus dapat dikontrol oleh pemerintah dimasing-masing propinsi.

“Hanya saja potensi  dari ketiga provinsi ini masih belum tergali secara optimal untuk memaju pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan, pelayanaan publik, serta memantapkan hubungan dan keterikatan daerah yang satu dengan daerah yang lain guna meningkatkan kesejahtraan masyarakat. Maka dari itu, diskusi ini bertujuan untuk menggali sejarah dan menguatkan kembali sejarah. Kalau sejarah kita sudah kita pahami apalagi ada forum yang resmi antar pemerintah alangkah baiknya secara real dilaksanakan oleh masyarakatnya dan ini harus dikontrol masing-masing pemerintah sunda Kecil bukan sekedar membetuk suatu kerja sama melainkan kerja nyata.” lanjut pejabat pemerintahan Propinsi Bali itu.

Sementara itu, Prof. Aron Meko Mbete dalam acara diskusi terbatas (FGD+)  ini menyampaikan harapannya terkait dengan nilai-nilai yang menjadi akar kehidupan, baik untuk pemerintah, budaya, maupun sejarah.

“Saya harap  nilai-nilai sebagai akar kehidupan pemerintahan, kebudayaan dan sejarah itu diangkat kembali, digali dan diatualisasikan kembali untuk dialihkan kepada generasi muda untuk tidak melupakan sejarah sebagai akar  dan kekuatan jati diri kita. Itu intinya.” ujar akademisi Universitas Udayana itu.

Adapun hasil diskusi ini, dalam waktu dekat akan dituangkan dalam bentuk buku tentang sejarah, potensi dan kebudayaan Sunda Kecil.

Reporter: Ety Madun

Editor: Yons Hunga

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *