Meniti Satu Arti

Kini aku tengah menatap diriku di cermin yang terdapat di loker khusus pegawai perempuan. “Kamu pasti bisa, Ra,” kataku memantapkan diriku.

“Pagi,” ujarku menyapa dua perempuan yang tengah sibuk memotong sayuran.

“Pagi,” jawab wanita paruh bayah yang kemudian menghentikan aktivitasnya. “Kamu anak baru ya?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Iya bu, nama saya Rara. Ada yang bisa saya bantu bu?” tanyaku. Langkah pertama dalam memulai bekerja adalah menanyakan apa yang bisa aku bantu, tidak mungkin kalau ikut nimbrung saja tanpa tahu apa yang akan aku kerjakan.

Menjadi bagian dari pegawai kantin sebuah hotel ternama kurasa ini tidaklah mudah. Dimulai dari aku melihat panci besar yang tengah merebus sup, belum lagi sekeranjang sayuran yang menunggu untuk dipotong dan tidak lupa daging ayam yang siap digoreng.

“Panggil emak aja. Oh iya, sini bantu motong sayuran, emak mau ambil buah di chiller,” kata emak kemudian melenggang pergi meninggalkanku bersama satu pegawai yang kurasa umurnya sama denganku. Tetapi saat pertama kali aku datang, ia hanya diam saja dan aku mulai menyimpulkan bahwa ia orang yang pendiam. Tanpa pikir panjang aku mulai memotong sayuran mengikuti ukuran yang dipotong emak sebelumnya.

“Ekh,” seru wanita di sebelahku. Wanita itu mengangkat jari telunjuknya dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri dan bibirnya seolah menggumam salah. Dan di sinilah, aku mulai merasa bersalah karena menyimpulkan sesuatu yang salah tentang teman kerjaku ini. Ia adalah seseorang yang berkebutuhan khusus.

Aku melihat emak yang membawa sekeranjang semangka. “Sudah jam makan siang, nanti kamu jaga stand depan ya sama kolot,” kata emak.

Aku mengerutkan alisku. “Siapa kolot mak?”

Emak pun mengerlingkan matanya menatap ke arah teman kerjaku. Aku hanya terdiam kemudian mengajak teman kerjaku ini menjaga stand depan. “Ayam 2, telor 1,” kata teman kerjaku yang mencoba memberitahuku lewat ejaan tangan dan sambil menggumam.

“Nama kamu siapa?” kataku mengeja bibirku dengan membukanya lebar-lebar.

Ia menunjuk dirinya sendiri. “Nama?” serunya.

Aku mengangguk. Ia pun mengangkat tangannya kemudian mengeja alfabet dengan bahasa isyarat. Jujur aku tidak mengerti bahasa isyarat sebenarnya tetapi dari seruan yang ia buat walaupun suaranya tidak terlalu jelas. Aku menangkap bahwa ia bernama Laras. Nama yang bagus, pikirku.

Satu persatu pegawai dari berbagai macam devisi mulai memasuki kantin. Aku dan Laras pun membagikan apa yang diinstruksikannya tadi. Kemudian pegawai dengan berbaju cokelat yang aku dapat menyimpulkan bahwa mereka dari devisi Front Office, mulai memasuki kantin. Mataku tanpa diduga menjurus kepada salah satu lelaki dari mereka. Lelaki yang menurutku memiliki senyuman manis berjalan menghampiriku. Ia kemudian menunjuk-nunjuk daging ayam dengan tangan yang mengisyaratkan sesuatu. “Mau yang mana?” tanyaku.

“Oh maaf, aku kira kamu disabilitas juga. Aku mau yang sayap,” katanya. Aku pun langsung memberikan apa yang ia minta. Dari kejauhan aku dapat melihat temannya menimpalinya dengan kesalah pahamannya dan kemudian mereka tertawa. Hancur sudah bayanganku tentang menyukai pria itu dengan cara memandang rendah orang lain bukan tipeku sekali. Tampan yang percuma.

Hari demi hari telah kulewati. Bekerja di tempat kantin memang kerap dipandang remeh dari devisi lainnya tetapi sebenarnya tempat ini adalah tempat yang mengasyikkan. Aku pun sudah bisa berkomunikasi dengan Laras. Sepulang dari hari pertama bekerja aku mulai mencari informasi bagaimana cara berkomunikasi dengan seseorang yang berkebutuhan khusus yaitu dengan bahasa isyarat. Mulai dari alfabet hingga beberapa kosa kata akhirnya aku bisa berbahasa isyarat dan pandangan orang-orang sekitar pun menanggapinya dengan berbagai macam tanggapan. Beberapa memandangku sebagai penyandang disabilitas juga padahal sebenarnya aku adalah anak normal. Walaupun sebenarnya aku tidak memperdulikan mereka hanya saja itu terkadang membuat jengkel.

Seharusnya mereka melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Belajar mengenai bahasa isyarat. Tidak ada salahnya dari memuliakan manusia. Toh, setiap manusia itu sama. Kenapa harus ada deskriminasi mengenai disabilitas? Aku salut dengan Laras, ia bisa bekerja di hotel ternama mengalahkan anak normal lainnya yang berlomba-lomba agar dapat bekerja di hotel ini. Awalnya aku sempat bertanya-tanya tetapi melihat kemampuannya yang tekun dalam bekerja, aku jadi tidak meragukan kredibilitasnnya dalam bekerja. Dan poin plusnya Laras pintar berbahasa Inggris, ia sempat bercerita bahwa ia dan teman-temannya suka menonton dan mereka lebih sering menonton film luar negeri daripada dalam negeri. Bukannya ia tidak menyukai produk lokal tetapi sangat jarang tontonan film dalam negeri yang menggunakan subtitile.

Kini aku dan Laras sedang menikmati waktu istirahat kami. Laras menggerakkan tangannya ke dada dan kemudian ke arah bibirnya yang melengkung membentuk senyuman. “Aku bahagia,” katanya.

Kemudian aku mengarahkan tanganku menunjuk dirinya dan mengatakan, “kamu bahagia kenapa?”

Ia menggerakkan tangannya menggunakan bahasa isyarat dan mengatakan, “aku mempunyai teman berbicara.” Aku hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman kemudian ia menggerakkan tangannya lagi mengisyaratkan. “Semua orang tidak seperti kamu,” katanya kemudian ia meremas dadanya membuat mimik sakit. “Hati aku sakit. Mereka mengejek aku, aku kena marah selalu.”

Ia masih terus menggerakkan tanggannya mengisyaratkan. “Dulu aku tidak seperti ini, dulu aku normal kemudian aku jatuh sakit. Lalu aku bangun, aku tidak bisa dengar apa-apa,” katanya.

“Kamu pernah pakai alat bantu dengar?” tanyaku.

Laras mengangguk kemudian menggerakkan tangannya. “Iya, tapi sudah rusak. Harganya mahal, aku tidak sanggup beli lagi.” Kemudian Laras Tertawa.

Aku mengerutkan alisku. “Kenapa bisa rusak?”

“Teman ambil lalu jatuh,” lirihnya pelan kemudian Laras menggigit bibirnya seolah menahan isakan.

Aku ingin menangis miris, kenapa mereka begitu jahat? Terlalu banyak deskriminasi bagi penyandang kebutuhan khusus seperti Laras. Padahal anak kebutuhan khusus dan anak normal itu memliki derajat yang sama. Sebagai anak normal pun kami ingin dihargai dan begitu pula dengan mereka. Aku ingat, saat aku pertama kali bekerja Laras dikenalkan dengan nama kolot. Aku yang bukan dia saja merasa sakit hati lalu bagaimana dengan Laras? Mungkin jika ia bisa mendengar perkataan orang mengenai dirinya mungkin ia akan merasa sedih.

Menjadi seorang Laras mungkin tidak mudah. Ia, Laras adalah seseorang yang tangguh, selalu bersemangat dalam bekerja walaupun dipandang sebelah mata karena kebutuhannya. Laras pernah mengatakan, “menjadi seseorang yang tidak bisa mendengar terkadang tidak buruk, karena aku tidak akan pernah mendengar pahitnya sebuah omongan.”

Penulis: crnlp

Genre: Non-fiction, slice of life

Satu tanggapan untuk “Meniti Satu Arti

  1. Kalau hanya mencurahkan simpati untuk masalah ini, kukira semua orang bahkan anak kecil pun bisa. Tapi itu tidak cukup . Yang mereka butuhkan bukan simpati tanpa aksi. Jadi yang mereka butuhkan dorongan nyata dari orang-orang sekitar. Percuma simpati kalau kalian akhirnya cuma bisa diam memandangi mereka yang ditindas .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *