Merajut Indonesia Selepas Putusan MK

Kamis, 27 Juni 2019 menjadi saksi bisu atas kemenangan pasangan Jokowi-Ma’aruf Amin pada sidang sengketa pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK). Hal ini dikarenakan seluruh gugatan sengketa pilpres yang diajukan oleh pasangan Prabowo-Sandi ditolak karena berlandaskan dalil hukum yang tidak relevan dan juga kesaksian yang lemah dari para saksinya.

Dengan ditolaknya gugatan Prabowo-Sandi oleh Mahkamah Konstitusi (MK), maka dapat dipastikan bahwa tidak ada lagi sandiwara pilpres, demo-demoan, mobilisasi massa dan people power seperti yang pernah digaungkan. Sebab, keputusan ini bersifat final dan mengikat. Apapun hasilnya, pihak-pihak yang bersengketa harus menerima.

Sejarah akan mencatat bahwa potret kemenangan Jokowi-Ma’aruf Amin adalah sebuah kemenangan telak. Sebab pasangan nomor urut 01 tersebut memenangkan 3 pertandingan dalam satu kali bertanding, yaitu: Menang quick count, menang rekapitulasi pemilu dan menang dipersidangan gugatan MK.

Meski demikian, Prabowo-Sandi masih belum menyerah. Pasalnya pasangan nomor urut 02 ini akan melimpahkan sengketa pilpres ini kepada pengadilan internasional. Entah pengadilan Internasional jenis apa yang dimaksud. Yang jelas, ketika mendengar kata penadilan internasional, Saya jadi ingat sebuah jargon khasnya saat kampanye dulu. “Antek aseng!” Begitulah bunyinya. Bukankah dengan membawa perkara pilpres dalam negeri ke dunia internasional kita mengijinkan asing masuk untuk mengetahui seluk beluk negara kita? Semoga itu tidak terjadi.

Terlepas dari siapa yang menang dan siapa yang kalah sesuai putusan Mahkamah Konstitusi (MK), bagi saya, Prabowo sudah berada di track demokrasi yang benar dengan mengajukan gugatan ke MK. Hanya saja, masih ada yang kurang ketika pasangan nomor urut 02 tersebut dinyatakan kalah. Sikap ksatria beliau sebagai negarawan masih belum ditunjukkan. Mungkin karena Beliau masih sakit hati karena kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif yang digugatnya tidak terbukti. Karenanya, untuk menyampaikan ucapan selamat kepada presiden terpilih pun Ia tidak berani. Padahal, sikap ksatria beliau sebagai negarawan tidak diragukan lagi. Ini patut kita tunggu.

Seperti kata almarhum Abdulrahman Wahid atau Gusdur: “yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan”. Dalam kontestasi politik ini, tidak ada lagi menang dan kalah. Merajut kembali jiwa nasionalisme kita yang terbelah karena perbedaan politik harus kita lakukan. Lagi pula, kita hanya melewati sebuah persaingan demokrasi, dimana kemenangan dan kekalahan adalah hal yang bersifat relative.

Kemenangan bukan berarti puas diri, dan Kekalahan bukan berarti binasa, bukan? Oleh karena itu, mari kita rajut kembali ke-INDONESIA-an kita dengan bersama-sama mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik. Bangkitkan Indonesia dengan prestasi. Jangan sampai kita terpecah hanya karena berbeda pilihan. Karena siapapun yang terpilih, kita yang akan menentukan nasib kita sendiri.

“Tidak ada lagi 01 dan 02, yang ada hanyalah 03, yakni persatuan Indonesia” demikianlah bunyi pidato Presiden terpilih Jokowi selepas putusan MK. Dan sebagai pendukung salah satu pasangan calon, sudah seharusnyalah kita mengakhiri dukungan yang kita berikan, setelah salah satu pasangan calon ditetapkan sebagai pemenang.

Tugas kita kini adalah menjadi warga negara biasa yang memiliki fungsi kontrol yang luar biasa untuk mengkritisi kinerja daripada pemimpin terpilih. Andai 01 menang, kita harus bersyukur. Andai pula 02 menang, kita pun juga harus bersyukur. Sebab sebagai warga negara yang baik, kita harus hormat terhadap presiden terpilih.

Dan yang pastinya, kita harus bersama-sama membangun dan memajukan Indonesia sesuai janji Jokowi yang akan mewujudkan pembangunan yang merata berdasarkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tak lupa pula tol langit Kiai Ma’aruf Amin, agar kita bisa berliburan dengan nyaman tanpa beban biaya yang tinggi. (Yons)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *