Obsesi Berlebihan Pada Idola, Sehat Gak Ya?

Pernahkah kamu menonton film yang pemerannya menarik, karakternya yang unik? Pernahkah kamu mengagumi seseorang yang sosoknya tampan atau cantik? Atau pernahkan kamu mendengarkan musik dan menyukai musisi yang menyanyikan lagu itu? Semua orang pasti mempunyai idola dalam kehidupannya, entah hanya mengikutinya di jejaring media sosial, membeli merchsnya, mengikuti konsernya hingga terobsesi dengan kehidupan idolanya itu. 

Mengagumi seseorang yang terkenal sering terlihat seperti sesuatu yang tidak sia-sia dan kadang menyenangkan. Namun, apa yang terjadi jika kita terlalu memuja idola kita ini? Apa yang terjadi jika ini bukan sekedar perilaku mengidolakan publik figur, melainkan sesuatu yang lebih parah semacam perilaku fanatisme yang gila-gilaan?

Perilaku semacam ini merupakan perilaku yang diluar batas. Dalam dunia psikologi, perilaku ini disebut Celebrity Wordship Syndrome (CWS), yaitu gangguan obsesif-kecanduan dimana seseorang terlalu terlibat, tertarik dan terobsesi dengan detail kehidupan pribadi seseorang selebriti (psycologitoday.com). 

Celebrity Worship Syndrome banyak terjadi pada kalangan remaja ataupun dewasa awal dan tidak terbatas antara perempuan maupun laki-laki. Mereka yang mengalami ini memandang idola sebagai pusat kehidupan, segala sesuatu berputar hanya pada idolanya dan rela membela mati-matian karena dimata mereka hanya idola mereka yang paling benar. Mereka melakukan stalking, berangan-angan atau berhalusinasi memiliki keterkaitan dan hubungan spesial dengan idola. 

Ada pula yang terbilang konsumtif, “mereka” akan rela menghabiskan uangnya untuk membeli barang yang berkaitan dengan idolanya. Seperti membeli stiker, poster, pakaian, tiket konser hingga album yang jika ditotalkan harganya luar biasa fantastis. Bahkan saking fanatiknya, ada yang mengirimkan hadiah barang mahal kepada idolanya. Parahnya, hal ini seringkali dilakukan tanpa pikir panjang dan mengacuhkan kemampuan finansial.

Namun, perlu kita ketahui bahwa tidak semua perilaku CWS berkonotasi negatif. Ada beberapa perilaku yang dapat menguntungkan mereka yang mengidolakan idolanya dalam hubungan sosial maupun kebahagiaan. Dikutip dari Bridget Yu, ada tiga level yang berbeda dari mengidolakan selebriti, yaitu level hiburan-sosial, level pribadi-intens dan level patologis-batas. Level terendah adalah hiburan-sosial di mana individu akan mengikuti idola mereka dan berdiskusi tentang mereka bersama teman-teman, kemudian diikuti level pribadi-intens yaitu individu yang memiliki perasaan yang kuat dan kompulsif terhadap idola dan level teratas yaitu level patologis-batas. Level ini merupakan level yang paling parah sebab individu akan kehilangan kendali atas perilaku dan fantasi mereka dengan sang idola.

Mengidolakan atau tertarik kepada publik figur adalah hal yang wajar. Kehidupan mereka yang misterius dan menarik terkadang membuat kita terinspirasi dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari. Selain itu, aktivitas kelompok yang sama-sama mengidolakan selebriti dapat menjadi kegiatan positif, memiliki ketertarikan bersama, mendapat hiburan serta menambah hubungan dengan orang lain. 

Namun, yang harus diingat dari semua ini adalah “semua hal perlu batasan”. Terlalu terobsesi berdampak buruk untuk kehidupan fans maupun selebriti. Jangan sampai melewati batas rasionalitas yang membuat kita terlalu jauh masuk ke kehidupan selebriti sehingga melalukan tindakan ilegal dan tidak menghormati privasi yang mereka miliki.

Oleh : Devik W

Ilustrasi : Egarcigu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *