Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai (PSP)

Dalam rangka mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Prodi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Warmadewa menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat di Br. Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod, Denpasar Senin (7/10) mengangkat tema “Pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai”. Kegiatan ini dihadiri oleh para dosen Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Ibu-ibu pkk Br. Tanjung Bungkak dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Warmadewa.

Sebelum masuk keacara inti, yakni pembawaan materi dari Ketua Trash Hero Indonesia, Bapak I Wayan Aksara, kegiatan diawali dengan doa, kemudian dilanjutkan dengan sambutan singkat dari ketua PKK Sumerta Kelod dan juga ketua tim penelitian pengadilan kepada masyarakat, Bpk. Wayan Sudana. Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan tentang penggunaan sampah plastik sekali pakai kepada masyarakat agar masyarakat Br. Tanjung Bungkak menjadi tahu dan paham akan bahaya penggunaan sampah plastik.

I Wayan Aksara mengatakan bahwa tujuan daripada pembangunan peradaban Bali adalah untuk lebih peduli kepada lingkungan dengan cara mengurangi sampah plastik. “Tujuan membangun peradaban Bali adalah lebih peduli dengan lingkungan. Caranya adalah mengurangi penggunaan sampah plastik” ujar Bapak I Wayan Aksara saat membawakan materi tentang pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, para dosen dan ibu-ibu PKK di Br. Tanjung Bungkak, Sumerta Kelod.

Menurut I Wayan Aksara, pengelolaan sampah plastik sekali pakai sebenarnya sudah tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai (PSP) dimana regulasi ini dapat membantu menyelamatkan Bali dari masalah sampah plastik. Kalau kita (red; masyarakat) sudah membangun disiplin untuk tidak mengotori lingkungan, maka kita bisa membantu mengurangi sampah.

“Pengurangan sampah plastik sebenarnya sudah memiliki payung hukum, yaitu Pergub Bali nomor 97 tahun 2018. Isinya apa? Isinya satu, tas kresek, dua, pipet dan yang ketiga, sterefoam. Kalau sudah terbangun disiplin untuk tidak mengotori lingkungan, maka kita bisa membantu mengurangi sampah. Jangan sampai kita memutus rantai sirkular ini. Yang harus kita kembalikan kepada produsen, malah kita tahan. Kita bisa mengelola sampah untuk kebutuhan kreativitas” lanjut ketua Trash Hero Indonesia tersebut.

Salah satu peserta kegiatan ini, yakni Yohanes, mahasiswa kelas reguler B angkatan 2019 ketika ditanya tanggapannya mengenai kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Br. Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod dengan tema “pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai”, mengatakan bahwa kegiatan ini sesungguhnya mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik. Sebab hal ini tertuang dalam pergub Bali. Ia juga berharap bahwa, semoga pergub ini menasional agar bisa diterapkan di seluruh Indonesia.

“Ini kan tentang ini aja. Bagaimana mengurangi sampah plastik yang ada. Aturan itu kan mengajak teman-teman untuk mengurangi sampah plastik. Itu aja. Kan di sini, di kota Denpasar sudah diterapkan pergub ini. Harapan saya semoga pergub ini bisa diusulkan secara nasional di seluruh Indonesia, supaya kita juga di Sumba bisa mengurangi dampak sampah plastik. Ujar Yohanes.

“Harapannya adalah apa yang disampaikan ini sudah sering disampaikan oleh televisi radio. Dll. Saya cuman mengingatkan bahwa semangat ini, kita disupport oleh teman-teman di luar sana. Mereka cinta dengan Bali. Paling tidak, kita bisa mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai” ujar I Wayan Akrasa menutup kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Br. Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod.

(YH)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *