Penasihat Hukum Jerinx Bongkar Surat Tuntutan JPU Manipulasi

Persmaunwar.com, Denpasar. Sidang Lanjutan Agenda Pledoi atau Pembelaan Perkara “IDI KACUNG WHO” bersama terdakwa Jerinx digelar di Pengadilan Negeri Denpasar, 10 November 2020.

Dalam Persidangan tersebut Pengacara terdakwa, Gendo membacakan Pledoi atau nota Pembelaan.

Gendo Pengacara JRX menilai tuntutan jaksa tidak masuk akal, dan tidak sesuai dengan fakta persidangan dan fakta Hukum. Dalam persidangan tersebut pengacara JRX berpendapat bahwa JPU memanipulasi fakta persidangan dan fakta hukum lewat tuntutan terhadap terdakwa yang dilayangkan pada persidangan 03 November 2020.

Dalam Pembacaan Pledoi, pengacara Jerinx menegaskan tuntutan terhadap terdakwa Jerinx adalah Asumsi JPU.

Tuntutan yang dilayangkan JPU dinilai tidak berdasarkan fakta yang ada. Kuasa hukum Jerinx juga menyoroti dan menanggapi terkait hal-hal yang memberatkan terdakwa Jerinx oleh JPU.

“Yang Mulia Majelis Hakim yang terhormat, mohon izin kami ingin membacakan kembali hal-hal yang memberatkan terdakwa yang dilayangkan oleh Jaksa Penuntut Umum pada persidangan 03 November 2020.” Permohonan Gendo Pengacara Jerinx.

Setelah Majelis Hakim mempersilahkan, kemudian Pengacara Jerinx langsung melanjutkan membaca nota pembelaan tersebut.

“Berikut hal-hal yang memberatkan terdakwa yang dilayangkan oleh Jaksa Penuntut Umum, terdakwa tidak menyesali perbuatannya, terdakwa pernah walk-out di persidangan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat, perbuatan terdakwa melukai perasaan dokter seluruh Indonesia yang menangani pasien Covid-19”, terang Gendo dalam persidangan.

Kemudian pengacara Jerinx melanjutkan, “Yang Mulia Majelis Hakim yang terhormat, hal-hal yang memberatkan terdakwa oleh JPU ini sangat tidak rasional, bertentangan dengan fakta persidangan dan fakta hukum”. Ungkap Gendo.

Pengacara Jerinx itu, kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Yang pertama, Jaksa Penuntut Umum mengatakan, bahwa terdakwa Jerinx tidak menyesali perbuatannya, pernyataan Jaksa Penuntut Umum ini salah besar, faktanya terdakwa Jerinx sudah meminta maaf kepada pihak IDI, terkait postingannya itu 100% tidak bermaksud menghina atau melukai pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) maupun IDI Bali, dan perbuatan terdakwa tersebut bukanlah ujaran kebencian melainkan sebuah kritikan, sebagai warga Negara yang dijamin oleh Konstitusi”. Ungkapnya lagi.

Gendo, kuasa hukum Jerinx kembali membacakan Pledoi, “yang kedua, Jaksa Penuntut Umum mengatakan hal yang memberatkan terdakwa adalah terdakwa pernah walk-out di persidangan, Yang Mulia Majelis Hakim yang terhormat, peryataan Jaksa ini juga tidak rasional,” ungkap Pengacara JRX itu.

Kemudian ia menambahkan, “Pernyataan Jaksa ini, tidak sesuai fakta persidangan dan fakta hukum, terkait terdakwa walk-out di persidangan karena terdakwa menolak menggelar sidang online, terdakwa memohon persidangan digelar offline dan tetap mematuhi protokol kesehatan COVID-19 dan mengikuti sesuai yang diamanatkan oleh KUHAP,” jelas Gendo.

Kuasa hukum Jerinx itu, juga menjelaskan bahwasanya walk-out tersebut, mendapat izin dari Majelis Hakim sendiri.

“Yang Mulia Majelis Hakim yang terhormat, namun Jaksa Penuntut Umum menjadikan dan memberatkan terdakwa karena walk-out di persidangan, ini merupakan hal yang tidak berdasar,” lanjut Gendo.

Kuasa Hukum terdakwa juga menyoroti point selanjutnya yang memberatkan terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum. Bahwasanya hal yang memberatkan terdakwa karena perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat.

Kemudian pengacara Jerinx dalam persidangan menilai hal ini adalah hanya asumsi Jaksa Penuntut Umum saja. Pengacara terdakwa mengatakan faktanya Jerinx banyak mendapat dukungan dari masyarakat, dan sebelumnya terdakwa mendapat pesan pengaduan dari masyarakat lewat Instagram pribadinya.

Seperti yang diketahui terdakwa adalah seorang musisi dan aktivis yang kerap melakukan kegiatan solidaritas dan dikenal dimasyarakat terutama masyarakat Bali, kegiatan tersebut seperti bagi-bagi nasi bungkus dan pangan kepada masyarakat.

Kuasa Hukum terdakwa juga menambahkan, “kegiatan bagi-bagi nasi bungkus dan bagi pangan kepada masyarakat sampai saat ini, persidangan berlangsung hari ini pun masih dilakukan oleh kawan-kawan dan simpatisan JRX karna terinspirasi dari sosok Jerinx,” jelas kuasa hukum Jerinx.

Kemudian kuasa hukum terdakwa dalam pembacaan pembelaan, mempertanyakan bukti survei kepada JPU, menanyakan masyarakat mana yang merasa resah akibat tindakan Jerinx/terdakwa tersebut.

Kuasa Hukum terdakwa Jerinx kemudian melanjutkan pembacaan pledoi, ia juga menyoroti point selanjutnya yang memberatkan terdakwa oleh JPU.

“Selanjutnya, point yang memberatkan terdakwa Jerinx oleh Jaksa Penuntut Umum adalah perbuatan terdakwa melukai perasaan dokter seluruh Indonesia yang menangani pasien Covid-19, Yang Mulia Majelis Hakim yang terhormat pernyataan Jaksa Penuntut Umum ini juga tidak rasional, ini adalah asumsi Jaksa Penuntut Umum”. Tegas pengacara Jerinx tersebut.

Jaksa Penuntut umum mengklaim bahwasanya, seluruh Dokter di Indonesia terluka atas perbuatan Jerinx atau terdakwa, lalu dalam persidangan pembaca Pledoi berlangsung kuasa Hukum Jerinx mempertanyakan bukti kepada JPU.

“Kepada Jaksa Penuntut Umum, adakah bukti atau survei yang mengatakan bahwa seluruh dokter di Indonesia yang menangani pasien Covid-19 terlukai oleh posting terdakwa tersebut?” tanya Gendo.

Kemudian ia melanjutkan,
“Salah satu dokter yang aktif menangani dan sering membahas COVID-19, yakni Dokter Tirta yang pada saat ini juga hadir dalam persidangan ini. mengatakan dia tidak terluka oleh postingan Terdakwa, jangankan terluka tersinggung saja dia tidak,” tegas Pengacara Jerinx ini.

“Karena dia paham perbuatan terdakwa hanyalah kritik, sebagai warga negara yang dijamin oleh konstitusi, berhak melakukan tindakan tersebut,” tambahnya.

Pengacara Jerinx, melanjutkan pembacaan pledoi dalam persidangan tersebut.

“Dalam fakta persidangan, pelapor atau IDI Bali menerangkan bahwa Jerinx adalah orang baik, dan IDI Nasional maupun IDI Bali secara terang mengatakan tidak berniat memenjarakan terdakwa, lantas siapa yang ingin memenjarakan terdakwa?” tanya Pengacara JRX.

Selanjutnya Pengacara JRX itu mengatakan, “hal-hal yang memberatkan terdakwa oleh JPU ini, kami tekankan adalah hanya Asumsi JPU yang tidak berdasarkan fakta persidangan dan fakta hukum, pernyataan JPU tidak rasional,” jelasnya lagi.

“Kami menilai Jaksa Penuntut Umum memanipulasi fakta persidangan dan fakta hukum lewat tuntutan yang dilanyangkan terhadap klien kami Jerinx”. Ungkap Gendo.

Setelah itu kuasa Hukum Jerinx menarik kesimpulan, bahwa tuntutan yang dilayangkan JPU terhadap kliennya adalah hanya asumsi Jaksa Penuntut Umum. Berulangkali Pengacara Jerinx itu mengatakan tuntutan Jaksa Penuntut Umum tidak bedasarkan fakta persidangan dan fakta hukum. Kuasa hukum Jerinx menilai tuntutan jaksa tidak masuk akal, sangat tidak rasional. Jaksa penuntut umum dianggap memanipulasi fakta persidangan dan fakta hukum lewat tuntutannya. Seperti yang dijelaskan diatas.

Kuasa hukum Jerinx memohon kepada Majelis Hakim untuk segera membebaskan Jerinx dari segala tuntutan dan memperbaiki nama baik terdakwa seperti sebelumnya, karena sesuai perbuatan, fakta persidangan dan fakta hukum Jerinx di nilai tidak melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan kepada terdakwa. Karena menurut pengacara Jerinx perbuatan terdakwa tidak bermaksud menghina atau melukai siapapun termasuk Ikatan Dokter Indonesia.

Wartawan : Ety Madun

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *