“Pengetahuan” yang Melintasi Segala Batas dan Pemisahan: Sebuah Resensi Textbook Ilmiah Abstrak

Judul : Alien Menurut Hindu

Penulis : I. B. Arya Lawa Manuaba, S.Pd, M.Pd

Tahun Terbit : Februari 2018 (Cetakan Pertama); April 2018 (Cetakan Kedua)

Penerbit : Nilacakra

Alamat Penerbit : Griya Cau Manuaba, Jl. Raya Darmasaba-Lukluk, Badung, Bali 80352

Jumlah Halaman : 368 Halaman

ISBN : 978-602-51480-0-2

Rangkuman:

Buku ini dibuka oleh penulis dengan menekankan pentingnya untuk tidak senantiasa mempertentangkan segala sesuatu, antara benar-salah, baik-buruk, ilmiah-tidak ilmiah, percaya-tidak percaya, serta asing-akrab. Sebuah anjuran untuk meninggalkan sejenak dualitas keduniawian dan melakukan petualangan untuk mencari titik temu dari segala pertanyaan.

Pendahuluan dari buku ini dimulai dengan menyatakan bahwa ‘alien’ sebenarnya hanyalah istilah buatan manusia zaman sekarang untuk menyebut kehidupan asing dari luar Bumi. Dengan konsep dasar mengenai pembagian tingkat pengetahuan yakni para-vidya (pengetahuan spiritual tentang Tuhan YME dan jiwa) dan apara-vidya (pengetahuan material tentang unsur-unsur di alam semesta) serta bagaimana cara-cara memperoleh pengetahuan, pendahuluan ini akan mengantarkan eksplorasi mengenai pengetahuan universal yang dirangkum dalam enam bab.

Bab pertama dibuka dengan pembahasan mengenai beberapa pemahaman sentral dalam Veda yakni kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan YME, jiwa, Karmaphala (hukum sebab-akibat), Punarbhava (reinkarnasi), Prakriti (tenaga material), serta Kala (waktu). Selanjutnya adalah mengenai hierarki pemerintahan alam semesta yang dimulai dari Brahma sebagai pencipta (kedua) alam semesta, lalu para Prajapati sebagai leluhur dari 8,4 juta jenis kehidupan, Manu dan Indra sebagai pemimpin umat manusia dan dewa, hingga Praja yakni seluruh individu/rakyat di alam semesta. Pembahasan bab ini berakhir dengan penjelasan empat kebutuhan dasar makhluk hidup menurut Vedanta serta pelurusan makna Yadnya dalam ranah universal.

Bab kedua dilanjutkan dengan mengupas pembahasan mengenai unsur waktu yang mengatur seluruh siklus alam semesta serta mengupas sedikit ilmu geografi dan astronomi Veda tentang arah mata angin relatif (hanya di bumi) dan absolut (alam semesta) serta pemahaman mengenai 64 tingkatan dimensi. Termasuk pembahasan mengenai dualitas bumi bulat-bumi datar serta heliosentris-geosentris. Dalam Veda, sangat penting untuk mengetahui konsep tingkatan dimensi sebelum menentukan bentuk bumi dikarenakan istilah “Bumi” itu sendiri yang memiliki makna luas dalam bahasa Sansekerta serta pemahaman mengenai definisi Loka yang ternyata juga sangat luas. Pembahasan bab ini ditutup dengan topik ‘jalur bintang’ dan empat belas susunan Loka terutama dalam hubungannya dengan jalur lalu lintas antar dimensi.

Bab ketiga dibuka dengan ilmu Taksonomi Veda yang menguraikan 8,4 juta jenis kehidupan yang terbagi dalam tujuh “kingdom” besar yakni golongan Jalaja (kingdom Pisces-Amphibi), golongan Sthavara (kingdom Plantae), golongan Krimaya-Rudrana (kingdom Invertebrata-Monocellulae-Reptilian), golongan Paksina (kingdom Aves), golongan Pasuna (kingdom Mammalia), serta golongan Dvipada (kingdom Humanoida). Termasuk pada bab ini juga dibahas mengenai sub-kingdom dari Dvipada yakni golongan Ekapada atau makhluk yang bergerak dengan satu kaki/melayang serta golongan makhluk-makhluk anti-material yakni Nityasiddha Parikara atau teman-teman kekal Tuhan. Bab ini ditutup dengan pembahasan mengenai Rsi Adam(a) dan Havyavati (Hawa) menurut Veda Bhavisya Purana.

Bab keempat membicarakan tentang Yantra, Tantra, dan Mantra atau sistem teknologi dalam Veda (termasuk Siddhi atau teknologi meta-mekanis). Prinsip teknologi sesungguhnya adalah selalu mengikuti prinsip kerja alam, yakni melibatkan sifat dan karakteristik dasar unsur-unsur material serta memanipulasinya sesuai aturan dan sistematika yang berlaku agar dapat bermanfaat. Hal yang menarik pada bab ini adalah definisi baru tentang “Indera” sebagai bagian dari 24 jenis unsur material dan mengenai “Gravitasi” yang sebenarnya bukan “gaya tarik oleh bumi” melainkan “gaya dorong/tekan/jatuh oleh udara”. Hal lain yang juga dibahas di bab ini adalah kendaraan meta-mekanis, konsep anti-materi, black hole, serta dark matter.

Bab kelima dan keenam membahas tentang berbagai ulasan historis, bukti-bukti fisik, dan kisah-kisah misteri/dongeng(?) Nusantara serta Internasional. Beberapa contoh adalah mengenai Vimana yakni pesawat angkasa (akashic plane) yang sering disebut sebagai UFO. Kemudian Terdapat berbagai kisah mengenai time travel serta time dilatation termasuk membahas sedikit lebih rinci mengenai Veda Bhagavata Purana Skanda 8 yang disebut-sebut sebagai “Star Wars-nya Veda”. Kedua bab terakhir ini ditutup dengan kisah dongeng(?) Jack dan kacang polong ajaib, kisah anak-anak Woolpit, serta kisah nyata penulis bertemu Memedi dan Wong Samar.

Kelebihan Textbook:

Textbook ini adalah contoh kajian yang benar-benar out of the box. Tanpa dengan kasar dan frontal menyindir pihak-pihak tertentu, textbook ini tidak hanya sekadar meluruskan persepsi dunia sains dan keilmiahan modern yang cenderung stagnan, tetapi juga memberi pandangan dan alternatif baru mengenai betapa banyaknya titik temu antara sains dan religi yang bisa diteliti lebih jauh. Dikemas dengan gaya santai dan bahasa yang cenderung dekat dengan kalangan muda, ditambah dengan referensi film-film yang diasosiasikan dalam setiap poin pembahasan di tiap bab-nya, membuat textbook ini secara nyata sukses menjadi salah satu inspirasi dan referensi utama bagi sejumlah kalangan muda bahkan kalangan pendidik untuk berpikir luas dan universal. Beberapa poin utama yang bisa didapat dari textbook ini adalah bahwa ‘alam semesta pun ada yang mengatur’, ‘dimensi dan waktu adalah aset utama melebur dogma pseudo-science atau real-science’, ‘kita memang tidak sendirian di alam semesta ini’, ‘teknologi tidak hanya berwujud kabel listrik dan fiber optic’, serta sederet poin utama lainnya.

Kekurangan Textbook:

Hal yang (jika benar-benar dapat dikatakan) menjadi kekurangan textbook ini adalah perbedaan reaksi antar individu yang sulit diprediksi setelah membedah isinya. Bagi individu yang benar-benar pertama kali mengenali pengetahuan universal, textbook ini akan memberi efek ‘pusing’ karena intisarinya yang terlalu padat serta melibas habis pengetahuan yang selama ini dipelajari dalam kehidupan material sehingga mungkin malah berbalik mematikan semangatnya untuk mempelajari pengetahuan universal. Sebaliknya bagi individu yang sudah bersikap open minded sejak awal dan menaruh antusias yang tinggi, intisari buku masih dirasakan kurang dalam mengeksplorasi seluruh pengetahuan universal yang sangat mungkin akan memaksa penulis untuk mengkaryakan edisi selanjutnya dari textbook ini.

Penutup:Pengetahuan pada dasarnya adalah sarana untuk semakin meningkatkan karakter-karakter sang jiwa yakni kesabaran, toleransi, apa adanya, kejujuran, keteguhan, kesucian, serta kebahagiaan. Maka, sangat penting untuk mengeksplorasi pengetahuan yang luas dengan kerendahan hati, netralitas, dan kekritisan agar pengetahuan itu tidak berbalik menghancurkan kehidupan seluruh makhluk di alam semesta. Seperti kata pepatah, “semakin berisi semakin menunduk” dan seperti kata nasehat, “you must unlearn what you have learned”.

Oleh : Yoga Nanda

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *