Perjuangan Dibalik Hari Ibu

Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

Semasa kanak-kanak, kita mungkin sering menyanyikan lagu “Kasih Ibu” yang liriknya seperti diatas. Selain karena liriknya yang sederhana dan mudah dihafal, lagu ini memberikan gambaran tentang bagaimana kasih sayang seorang ibu yang tak terhingga. Ungkapan perasaan yang digambarkan lewat lirik lagu itu bahkan tak mampu menandingi kasih sayang seorang ibu. karena pada kenyataannya seorang Ibu selalu menyayangi kita bahkan sampai akhir hayatnya. Jasanya tidak terbendung dan tidak terhitung banyaknya, sejak kita lahir ke dunia ini dan pertama kali menangis, sang ibulah yang menyambut kita dengan kebahagiaan dan penuh harapan.

Sebagai bentuk penghormatan kepada peran wanita baik dalam keluarga, lingkungan maupun masyarakat, maka setiap tahunnya dirayakan mother’s day atau hari ibu. Tapi, tahukah kita bahwa mother’s day dan hari ibu berbeda? Sekilas mother’s day dan hari ibu itu sama. Sebab keduanya mengandung arti yang sama hanya berbeda bahasa. Tapi nyatanya kedua hari raya ini berbeda.

Dilansir dari nationalgeographic.com, sejarah Mother’s Day berawal dari seorang penulis Julia Ward Howe, lebih dikenal karena menulis ‘The Battle Hymn of the Republic’ mempromosikan Hari Perdamaian Ibu yang dimulai pada tahun 1872.

Mothers Day dirayakan setiap tgl 9 Mei setiap tahunnya untuk memperingati tanggal meninggalnya Ann Jarwis, seorang perempuan Amerika yang berjuang untuk menyatukan keluarga yg tercerai-berai karena perang saudara, pada 9 Mei 1908. Baginya dan beberapa aktivis perempuan, Mother’s Day adalah cara untuk mempromosikan persatuan global setelah kengerian Perang Sipil Amerika dan Franco-Prusia Eropa. Kebanyakan Negara, sekitar 97 negara memeringati Mother’s day pada hari Minggu ke 2 pada bulan Mei.

Sementara hari ibu di Indonesia jatuh setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Antara bulan Mei dan bulan Desember,perbedaannya cukup jauh bukan?

Hari Ibu di Indonesia, bermula dari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22-25 Desember 1928. Faktor pendorong Kongres Perempuan Indonesia ini ialah kondisi kehidupan perempuan Indonesia yang terkungkung budaya patriarkis yang berdiri diatas nilai yang feodal.

Kongres ini digagas oleh tiga orang perempuan, yakni Nyi Hadjar Dewantara, Soekanto, dan Soejatien Kartowijono. Isu yang diangkat pada waktu itu ialah hak perempuan atas pendidikan, kesehatan, dan kekuatan media. Kongres tersebut diselenggarakan di gedung Dalem Jayadipuran yang merupakan Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Agenda utamanya adalah untuk memersatukan perempuan nusantara dalam perannnya terhadap pendidikan, kemerdekaan, pembangunan bangsa, perbaikan gizi ibu dan anak, pernikahan usia dini, dan kesejahteraan perempuan.

Pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928, tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kemudian pemerintah Indonesia, tanggal 22 Desember diresmikan oleh Presiden Soekarno dibawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, sebelum akhirnya presiden Soeharto mengubah Hari Kebangkitan Perempuan menjadi Hari Ibu yang kita peringati sekarang.

Hari Ibu adalah Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia. Semangat kebangkitan ini, tertuang dalam kongres Perempuan I, antara lain mendesak kesetaraan hak, pendidikan, kemerdekaan, pembangunan bangsa, perbaikan gizi ibu dan anak, pernikahan usia dini, dan kesejahteraan perempuan, termasuk mengkritisi poligami.

Jadi, Hari Ibu ini bukan hari ibu yang dirayakan secara biologis. Melainkan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada semua perempuan yang telah berjuang dengan caranya sendiri. Ini adalah hari kebangkitan perempuan. Baik tua, muda, semuanya bersinergi membangun peradaban dunia.

Terlepas dari itu semua, Hari Ibu adalah momen di mana kita mengingat semua jasa-jasa yang pernah dilakukan oleh Ibu kita. Mungkin kita belum bisa membalas semua itu, atau bahkan kita belum menjadi anak yang baik.

Kita sering melawan jika dinasihati, tidak melakukan apa yang beliau pinta, lebih memilih berkumpul dengan teman dibanding mendengarkan ceritanya, atau mungkin di antara kalian belum sempat mengucapkan “aku sayang mama” karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Terkadang kita juga sebagai anak terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaan sayang itu. Lakukanlah sebelum kesempatan itu tidak ada lagi dan sebelum kita tidak bisa melihatnya lagi. ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Selamat Hari Gerakan Perempuan untuk semua perempuan yang sedang akan dan telah memperjuangkan kesetaraan.

Selamat Hari Kebangkitan Perempuan untuk Ibu, calon ibu dan seluruh ibu di Indonesia. Hormat dan terima kasih.
Semoga makna Hari Ibu tidak direduksi sekedar glorify peran ibu karena mendomestikasi Perempuan.

(Ampas Kopi)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *