PERLUKAH SAYA MERAYAKAN HARI DISABILITAS?

Pertanyaan ini muncul dibenak saya satu tahun yang lalu ketika saya baru pertama kali tahu bahwa ternyata disabilitas dirayakan dan memiliki hari khusus. Hari di mana orang-orang kuat, hebat dan pantang menyerah merayakan dengan semarak. Ya, hari disabilitas internasional yang jatuh pada tanggal 3 Desember ini telah dirayakan setiap tahunnya dimulai tahun 1992 sejak ditetapkan oleh PBB.

Peringatan Hari Disabilitas Internasional bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang berbagai isu disabilitas, hak-hak dan integrasi para penyandang disabilitas dalam setiap aspek kehidupan, stigma negative terhadap penyandang disabilitas yang masih saja terus melekat, serta pemberian dukungan untuk meningkatkan kemampuan serta kesejahteraan difabel, memperluas kesempatan untuk menginisialisasi kesetaraan hak asasi manusia dan kontribusi difabel dalam masyarakat.

Perlukah saya merayakan hari disabilitas? Pertanyaan ini kembali muncul hari ini, tepat dihari perayaan disabilitas internasional yang ke-27. Alasan kenapa saya bertanya demikian adalah karena saya adalah disabilitas. Dalam benak saya, toh setiap hari saya adalah disabilitas. Tanpa dirayakan pun saya tetaplah disabilitas.

Dalam pergumulan tersebut, teringat pesan seseorang yang menurut saya adalah orang tergila yang pernah saya temui. Gila karena imajinasi dan karyanya yang luar biasa. Bang Erick Est. namanya. Seorang sutradara asal Medan yang kini menetap di Bali. Pesannya kala itu sederhana. Tapi saya tidak akan melupakan itu.

“Jangan berpikir bahwa kamu adalah seorang disabilitas. Tapi berpikirlah bahwa kamu adalah seorang manusia”

Pesan tersebut mengajarkan saya bahwa menjadi disabilitas bukan berarti kelayakan untuk disebut sebagai makhluk sosial bernama manusia luntur, lenyap atau tergusur hanya karena saya berbeda dan unik. Saya menyadari alam semesta dan segala isinya dihuni oleh berbagai macam kehidupan. Termasuk saya. Entah sempurna atau tidak, yang berhak menentukannya adalah Tuhan. Bukan manusia.

Menjadi disabilitas bukan berarti halangan untuk melakukan segala aktivitas yang umumnya dilakukan orang-orang normal. Tapi, terkadang “kita” yang namanya orang-orang normal ini seringkali menganggap remeh orang-orang yang berkebutuhan khusus. “Kita” sering kali berpikir bahwa “mereka” tidak bisa melakukan apa yang kita bisa.

Merayakan hari disabilitas bagi saya itu perlu. Merayakan hari disabilitas itu penting. Sebab merayakan hari disabilitas adalah upaya untuk mengkampanyekan hak-hak disabilitas agar stigma negative terhadap penyandang disabilitas bisa dihilangkan. Selain itu, agar pembangunan yang aksesibilitas bisa diupayakan sehingga memudahkan bagi disabilitas untuk menggunakan akses-akses pembangunan tersebut.

“Jangan batasi Tuhan Allahmu dengan keterbatasan yang kau miliki” adalah pesan yang sampai saat ini juga melekat dalam diri saya. Dan karena itu pula, saya masih bertahan sampai saat ini. Sebab butuh 200% semangat untuk bisa “sekedar” menjadi seperti mereka…

Butuh 200% semangat untuk bisa berbaur dengan mereka…..

Butuh 200% semangat untuk terus berjuang menjadi lebih baik lagi…..

Butuh 200% semangat untuk bisa menerima diri sendiri…

Karena jika hanya 100% semangat, Kami hanyalah sebatas KAMI

Akhir kata, selamat Hari Disabilitas Internasional kepada seluruh penyandang disabilitas di dunia.

(AmpasKopi)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *