Pertama di Bali, Siberkreasi Gaungkan Literasi Digital

Denpasar – Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi mengadakan “Siberkreasi Class 2020” yang berlangsung pada Senin, 27/01/2020 bertempat di Rumah Sanur Creative Hub. Acara ini sebagai kegiatan yang mendukung pilar-pilar dari GNLD Siberkreasi dengan bentuk Seminar dan Lokakarya/ Workshop yang berisi tema-tema antara lain : Literasi Digital dan Etika di Dunia Siber, Digital Governance (Perlindungan Data Pribadi dan Digital Citizenship), Fact Checking, Digital Lifestyle (Produksi Konten Positif), Digital Platform & Journalism, serta Digital Parenting.

Ida Bagus Ludra perwakiln Kabid IKP Diskominfo Propinsi Bali.

Kegiatan ini dibuka dengan sambutan oleh Ida Bagus Ludra perwakiln Kabid IKP Diskominfo Propinsi Bali, Prof. Angela dari Queensland University Technology, Yosi Mokalu sebagai Ketua Umum GNLD Siberkreasi dan Prof. Hendri Subiyakto dari Kemkominfo. Peserta yang meramaikan acara ini terdiri dari komunitas mahasiswa, siswa SMA, organisasi, media dan Bali Deaf Community.

Literasi adalah kemampuan individu dalam memahami informasi saat membaca dan menulis. Di Indonesia sendiri angka literasi bisa dibilang mengkhawatirkan, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia kurang suka membaca baik melalui buku maupun bacaan digital. Jika kurangnya minat literasi seperti ini dibiarkan, maka adanya dampak negatif internet seperti ajaran radikalisme, kejahatan siber dan hoaks akan mudah dikonsumsi oleh masyarakat. Apalagi adanya misinformasi yang  sangat mudah diterima dan disebarluaskan melalui platform media sosial tanpa mengetahui apakah itu fakta atau tidak. Mengenai betapa pentingnya literasi ini, Siberkreasi Class 2020 bertujuan untuk memberikan edukasi literasi digital bagi masyarakat serta komunitas lokal setempat hingga belajar bagaimana lebih bertanggung jawab dalam menggunakan dan mengkonsumsi informasi digital. 

Setelah kegiatan dibuka, dilanjutkan dengan sesi Talk Show dengan tema “Be Social Media Peacemaker” yang diisi oleh Akhyari Hananto dari GNFI (Good News From Indonesia), Luhde Suryani, BaleBengong dan Youtuber Sacha Stevenson. Akhyari mengajak serta mendorong masyarakat menjadi penengah dan tidak mudah terpancing dengan berita yang misinformasi. Ia mengatakan, saat ini pembuat hoaks, hate speech dan cyber bullying tidaklah banyak, yang membuat isu-isu digital itu seolah besar yaitu yang menyebarkan luaskan. 

Everyone is in digital, ini cara kita doing something, ini yang kita lakukan.” ucap Akhyari.

Luhde Suryani menambahkan dengan memperkenalkan tentang jurnalisme warga melalui Bale Bengong, Ia mengajak masyarakat jangan hanya menjadi konsumen. Internet tidak hanya memberikan banyak manfaat tetapi perlu dikendalikan. Saat melihat suatu informasi dari media sosial perlu diperhatikan fakta sebelum berkomentar dan membagikan ke masyarakat luas. 

Luh De Suryani memaparkan tentang jurnalisme warga.

“Dalam literasi digital itu ada tiga konsep, pertama yaitu perlindungan kita sendiri, yang kedua menyadari kita punya hak akses, merasa aman dan berekspresi di internet, yang terakhir adalah pemberdayaan,” ujarnya. Luhde juga memaparkan untuk menjadi agen perdamaian atau Peace Maker adalah warga yang bisa skeptis, kritis dan mau berbagi saran melalui peluang yang ada yang memungkinkan berinteraksi dengan pemerintah atau membuat kewenangan.

lokakarya Fact Checking (tools & strategies) oleh Giri Lumakto dari Mafindo.

Selesai dari kegiatan Talk Show, kegiatan berlanjut ke lokakarya Fact Checking (tools & strategies) oleh Giri Lumakto dari Mafindo. Giri menjelaskan orang yang mudah terpapar hoaks adalah orang yang cenderung memiliki kepercayaan yang homogen, gampang percaya atas keyakinan tanpa mengecek fakta terlebih dahulu. Masyarakat berlomba menjadi yang pertama dalam menginformasikan sesuatu bahkan orang tidak menyadari kalau itu termasuk membuat atau menyebarkan hoaks dan bisa dipidana.

“Kenapa orang pada gampang percaya ya karena homogen, tidak ada perspektif lain, tidak ada cek fakta maupun verifikasi,” tambahnya.

Maka dari itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah suatu informasi di platform media sosial, temukan sumber efektif dan belajar bagaimana cara mengecek fakta dengan mudah menggunakan fitur Google Reserve Images dan memalui Akun Bot Mafindo yang akurat. 

Di sesi terakhir kegiatan, dilanjutkan dengan dua sesi lokakarya tertutup yang berlangsung bersamaan yaitu bertemakan “Content Creator for Disable” dengan narasumber Andi Muhyiddin dari Liputan6.com yang membahas tentang Mobile Journalism untuk penyandang disabilitas dan lokakarya dengan tema “What is Crawling Machine (AIS) and Its Impact to Digital Platform and Journalism” yang di isi oleh Pak Antonius Malau, Kasubdit Pengendalian Konten Internet-Ditjen Aptika Kominfo dan Dessy Sukendar dari Facebook Indonesia.

Reporter : Devik Widia, Dea, Jessica

Naskah : Devik Widia

Mungkin Anda Menyukai

2 tanggapan untuk “Pertama di Bali, Siberkreasi Gaungkan Literasi Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *