PJTD, Langkah Awal Jurnalis Progresif

WARMADEWA. Unitas Penalaran dan Jurnalistik Mahasiswa (UPJM) Universitas Warmadewa menggelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) dalam rangka menyambut kehadiran peserta baru dalam struktur keorganisasian unitas termuda di Universitas Warmadewa. Pelatihan tersebut diselenggarakan setiap tahunnya untuk membentuk kemampuan dasar kejurnalistikan sekaligus atmosfer keorganisasian sebagai syarat utama peserta baru sebelum terlibat penuh dalam UPJM . Pelatihan kali ini melibatkan 25 anggota baru dan narasumber terkait sejak Sabtu (23/11) hingga Minggu (24/11) kemarin yang bertempat di gedung G ruang 312 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, serta dilanjutkan di luar ruangan (outdoor).

Devik Widia , ketua panitia pelaksana PJTD 2019 saat memberikan sambutan diruangan pelatihan.

Ketua Panitia PJTD 2019, Devik Widia mengatakan bahwa ada banyak hal yang didapat dalam pelatihan ini, seperti diajarkan tentang kode etik jurnalis, teknik penulisan berita, wawancara, reportase dan organisasi. Poin-poin tersebut dipandang sangat penting untuk diketahui semua peserta karena hal tersebut adalah dasar pijakan seorang jurnalis yang akhir-akhir ini mulai dipandang sebelah mata. Melalui tema, “Menulis untuk Keabadian”, peserta pelatihan ditargetkan mampu membuat sebuah karya nyata (jurnalistik) berdasarkan kode etik jurnalistik agar perwujudan kebebasan pers yang beretika semakin nyata. “Karena peserta dilatih tentang kejurnalistikan. Praktik, bukan teori semata.” ujarnya saat diwawancarai. Hal serupa disampaikan Honey Jessica, salah satu peserta PJTD yang mengungkapkan kepuasaannya belajar bidang kejurnalistikan. “Jadi tambah tahu tentang jurnalistik.” terangnya.

Kesiapan peserta baru dalam mengemban tugas kejurnalistikan yang sewaktu-waktu diperlukan, baik dalam maupun luar kampus saat melakukan peliputan. Sementara itu, Luhde Suryani, wartawan media BaleBengong dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bali menjelaskan bahwa hampir 70% total keseluruhan penduduk di Indonesia telah mengakses internet. Kondisi ini disinyalir akan menghambat laju produksi dan pendistribusian produk lain, seperti Koran. Kendati pun demikian, Koran tetap memiliki masa depan yang cerah. Kemudahan banyak orang dalam membuat website dan berita tanpa menjunjung kode etik jurnalistik , menjadi alasan kuat mengapa Koran tetap menjadi pilihan terbaik. Faktor kecepatan yang dimiliki adalah latar belakang dibuatnya media online yang dapat diakses dimana-mana. Akibatnya banyak wacana-wacana yang tidak bertanggung jawab, justru menjurus ke arah penyalahgunaan (hoax). “Kalau hoax, siapa yang bertanggung jawab. Toh kita tidak tau kan siapa yang menulis”, tandasnya saat menyampaikan materi.

Luh De Suryani, Narasumber PJTD 2019 saat memaparkan materi.

Beberapa kode etik jurnalistik yang perlu diperhatikan kembali seperti menulis berita sesuai fakta, bukan imajinasi. Lalu tidak mencampur fakta dan opini, menghindari bentuk suap, menjunjung tinggi Off the Record dan privasi, dan sebagainya.

Setelah pemaparan materi, dilanjutkan dengan penerapan praktek penulisan dan wawancara. Praktek membuat profil dari peserta yang hadir di jadikan opsi sebagai objek dalam praktrik wawancara.. Tidak hanya tugas membuat profil yang diberikan Luh De tetapi ada tugas lain yaitu tugas membuat berita langsung (straight news). Tugas mebuat berita langsungini diberikan lima tema yang dibagikan kepada lima kelompok dengan anggota setiap kelompoknya berjumlah empat orang dengan bebrapa tema yang dijadikan bahan prsktek untuk membuat berita.

Dengan diberikannya materi dan tugas penuilisan terserbut  diharapkan dapat memberikan gambaran akan apa peranan serta tangung jawab seorang jurnalis. Sehingga melahirkan jurnalis yang progresif ,independen dan memegang teguh kode etik jurnalistik.

 (Lia/Jessica/Ari/Sri).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *