Sesat Berpikir Penentang Sex Education

Sex education atau pendidikan seksual pada artikel sebelumnya dengan judul “Anti Tabu-Tabu Dengan Pendidikan Seksual” mendapat respon yang cukup baik dari pembaca. Hal ini dikarenakan pendidikan dan informasi yang benar mengenai seks merupakan dasar bagi anak-anak dan remaja untuk dapat berperilaku dan bertindak benar dalam mengambil keputusan terkait perilaku seksual dalam hidupnya.

Namun, tak jarang pula ada pendapat mengenai pendidikan seksual membuat pengertianya menjadi kabur. Hal itu memunculkan banyak argumen mengenai makna pendidikan seksual. Akibatnya tidak sedikit pula yang memahami bahwa pendidikan seksual itu sebagai suatu yang tabu. Seperti contoh sebuah komentar atas isi artikel “Anti Tabu-Tabu Dengan Pendidikan Seksual” beberapa hari yang lalu. Secara garis besar, isi komentar tersebut jelas menunjukkan salah kaprah dalam pengertiannya tentang sex education atau pendidikan seks.

Perlu kita pahami bahwa pendidikan seks terdiri dari dua kata yang berbeda, yaitu pendidikan dan seks. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan didefinisikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuh kembangnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (sisdiknas) pengertian pendidikan dijelaskan pada pasal (1) “bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”

Bagaimana dengan seks? Secara bahasa, seks berarti jenis kelamin, yaitu laki-laki dan
perempuan. dapat pula diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan alat kelamin. Menurut BKKBN (2008: 10) seks berarti jenis kelamin, yaitu suatu sifat atau ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan, sedangkan seksual berarti yang ada hubungannya dengan seks
atau yang muncul dari seks.

Pendidikan pendidikan seks pada hakikatnya merupakan usaha untuk membekali pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika serta agama agar tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut. Pendidikan seks bisa dikatakan suatu pesan moral.
Pendidikan seks dapat dikatakan sebagai cikal bakal pendidikan kehidupan berkeluarga yang memiliki makna sangat penting.

Jadi, sederhananya sex education itu adalah pendidikan tentang alat kelamin atau bahasa modernnya pendidikan kesehatan reproduksi. Sex education merupakan kegiatan untuk mengajarkan tentang kesehatan reproduksi dengan tujuan untuk menyadarkan kita tentang pentingnya kesehatan reproduksi sehingga tindakan seksual seperti pelecehan seksual dan penyakit menular seksual dapat dicegah sedini mungkin. Jadi jelas yah, sex education itu bukan pendidikan berhubungan seksual.

Pendidikan seksual menjadi sangat penting bagi anak-anak agar mereka memahami otoritas tubuh agar tidak melakukan perilaku seksual yang menyimpang bahkan mengantisipasi agar tidak menjadi korban pelecehan seksual. Selain itu, pendidikan seksual juga dapat membentuk pola berpikir, pola perasaan, dan pola sikap dalam kaitannya dengan memanajemen otoritas tubuh.

Selama ini, pendidikan seks untuk anak usia dini dianggap tabu dan tidak layak diperbincangkan oleh sebagian masyarakat, khususnya untuk diperbincangkan sejak usia dini. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks belum pantas diberikan pada anak kecil. Padahal dengan pendidikan seks yang diberikan sejak dini sangat berpengaruh dalam kehidupan anak ketika dia memasuki masa remaja.

Pemahaman akan pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi yang masih rendah berbanding lurus dengan potensi pernikahan anak. Dilansir dari lokadata.id, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan (KPPA), Leny Rosalin mengatakan bahwa angka perkawinan anak Indonesia menduduki peringkat kedua tertinggi di ASEAN.

Pada 2018, dari total 627 juta penduduk Indonesia, 11.2 persen perempuan menikah di usia 20-24 tahun. Sedangkan pernikahan perempuan yang berusia kurang dari 17 tahun sebesar 4,8 persen. Pernikahan anak di bawah usia 16 tahun sekitar 1,8 persen dan persentase pernikahan anak berusia kurang dari 15 tahun sejumlah 0,6 persen. Secara akumulasi, satu dari sembilan anak perempuan usia kurang dari 18 tahun menikah muda.

Tirto.id mengungkapkan, kasus pernikahan anak di Indonesia menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia versi UNICEF. Satu dari tujuh anak sudah menikah sebelum umur 18 tahun (2016). Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2017 (hlm. 43) menjabarkan lebih detail angka pernikahan anak di Indonesia. Dilihat dari usia kawin pertama, ada sekitar 37,91 persen anak usia kurang dari 16 tahun yang telah menikah.

Sebanyak 39,17 persen setara 2 dari 5 anak perempuan usia 10-17 tahun menikah sebelum usia 15 tahun. Ada sekitar 37,91 persen dari mereka yang kawin di usia 16 tahun, dan 22,92 persen kawin di usia 17 tahun. Data tambahan dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 (hlm. 18), menyebut 33.5 persen remaja perempuan usia 15-19 tahun sudah hamil dan mengalami risiko kurang energi kronis.

Perkawinan anak ini diatur dalam UU No. 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sehingga perkawinan anak didefinisikan sebagai perkawinan yang melibatkan anak berumur 18 tahun ke bawah. Banyak faktor yang memicu tingginya angka pernikahan anak di Indonesia. Meski usia perkawinan sudah dinaikkan menjadi 19 tahun, faktanya masih banyak anak SMA yg mengajukan dispensasi karena terlanjur hamil. Ini sama saja pernikahan anak tetap marak terjadi.

Dikutip dari IDN Times 27 Juli 2020 dengan judul Tinggi Dispensasi Nikah di Jepara, 237 Perkara, Dominan Anak 18 Tahun mengungkapkan bahwa pngadilan Agama Kabupaten Jepara, Jawa Tengah menerima permohonan dispensasi nikah sebanyak 237 perkara selama periode Januari-Juli 2020. Dari angka tersebut sebanyak 52 persen pengajuan lantaran hamil di luar pernikahan dan sisanya atau 48 persen tidak hamil.

Di era yang semakin modern ini, seharusnya kita sudah mulai menanggalkan dogma tabu jika membicarakan seks. Sebab, pendidikan seksual bukan hanya soal seks yang dalam artian hubungan badan antara dua orang yang sedang dimabuk asmara. Tapi ada hal yang jauh lebih penting dari hal tersebut, yaitu pemahaman akan tubuh sendiri. Memberikan pendidikan seks kepada anak/remaja bukanlah sekedar memberikan informasi tentang apa seks dan apa itu kontrasepsi, tetapi menumbuhkan perasaan dan kemampuan bertanggungjawab dalam diri anak/remaja untuk membuat keputusan seksualnya berdasarkan informasi yang kredibel dan nilai-nilai yang dianut.

Edukasi soal kesehatan reproduksi mengambil peranan penting dalam mencegah pernikahan anak. Ketika anak memiliki pengetahuan cukup soal kesehatan reproduksi, mereka akan lebih bertanggung jawab dan waspada terhadap kesehatan seksualnya. Oleh karena itu, orangtua seharusnya menjadi sumber pertama untuk memperoleh pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi.

Oleh : Yons Hunga

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *