Setia Dalam Diam | Part 2

Part 2

Aku mencintai setiap kata yang ia ucapkan. Bahkan ketika tak berkata pun, senyumnya terus mengikutiku. Dan aku terlampau bahagia karenanya. Sampai-sampai aku lupa bahwa ternyata aku memang telah dibuatnya jatuh hati yang benar-benar jatuh.

“Sialnya, kita hanya sebatas sapa…,” Gumamku lagi dalam diam sembari membayangkan seorang yang rindunya entah untuk siapa.

Aku berusaha menggali kembali ingatanku kala pertama bertemu dengannya. Entah kenapa, aku tak mampu mengangkatnya ke permukaan. Tapi senyumnya kala itu, kini dan mungkin pula nanti akan selalu memiliki tempat terindah di hatiku.

Rasa ini bermula ketika kami bertemu untuk yang pertama kalinya pada 2018 silam. Di ruang kecil bernama Unitas Penalaran dan Jurnalistik. Beberapa pertemuan itu tak lantas membuat kami saling mengenal. Dia yang pendiam. Dan aku yang yang memperhatikan senyumnya mampu menumbuhkan rasa kagum berselimutkan cinta. Aku berusaha mencari tahu namanya. Tapi, sebagai orang yang baru, juga dengan dialeg bahasa yang sukar dipahami, membuatku mengurungkan niatku.

Aku terjebak dalam anganku. Mengharapkan sebuah nama yang yang senyumnya selalu menghantuiku. Cukup mengetahui namanya dan dia mengetahui namaku sudah merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Tapi apa daya, aku yang pendiam hanya bisa diam. Tanpa berani menyapanya tapi menikmati senyumnya sebagai anugerah terindah yang Tuhan berikan. Meski terbilang singkat, namun memberi arti bagiku hingga kini.

2018 berlalu. Wajah dan senyumnya masih kuingat. Tetapi namanya belum mampu kuketahui. Sungguh sebuah cinta tanpa nama. Memang, nama bukanlah segalanya. Tetapi, mencintainya dalam diam dan tanpa nama hingga pada akhirnya takdir menjadikannya sebagai kenangan adalah sakit yang paling sakit daripada hanya sekedar mengaguminya. Aku tak mengenalnya meski kami dipertemukan dalam ruang yang sama. Mungkin dia pun tak mengenalku meski berkali-kali aku mengagumi senyumnya.

Waktu terus berputar. Hari berganti, bulan berlalu, aku bahkan tak mengetahui namanya hingga separuh tahun 2019 berlalu, tapi aku masih yakin dengan rasa yang kumiliki. Aku merindukan senyuman juga tatapan matanya yang kosong. Sekosong hatiku yang berharap diisi olehnya.

Dulu, pertengahan tahun 2018 aku yang masih ragu, aku yang hanya sebatas berharap pada lirikan matanya, kini berusaha mengurangi ragu itu hanya agar dia tahu isi hatiku. Aku ingat betul bagaimana senyumnya kala itu mampu melemahkan pertahanan hatiku. Aku goyah. Kemudian terjatuh dalam belantara hatinya. Hanya aku sendiri yang tahu. Karena itu aku tersesat dalam hatinya. Sendiri.

Entah kenapa, sejak pertemuan intens kami selama dua hari dibulan November kala itu, aku meyakinkan diriku lagi bahwa benih cinta yang pernah tumbuh setahun yang lalu muncul lagi. Rasa yang sama, pada orang yang sama. Yang membedakan adalah besarnya rasa itu. Ternyata benar kata orang, diam itu menghanyutkan. Dia yang pendiam, diam-diam mengembangkan kemampuannya. Dan aku yang pendiam, diam-diam jatuh hati padanya. Ya, masih dalam diam. Diam-diam aku hanyut dalam senyumnya.

Dipenghujung tahun 2019, tepatnya di bulan Oktober, barulah akhirnya aku mengetahui namanya. Itu pun tanpa sengaja. Saat itu, kami sedang rapat bersama. Dan secara sengaja aku mengambil fotonya dan langsung saja kuupload diinsta story-ku. Dan kemudian direpost oleh seorang teman yang secara kebetulan menandai hadirnya.

Meski butuh waktu yang terbilang lama dan butuh kesabaran menghadapi rasa ini, tapi sekali mengetahui namanya aku langsung membingkainya dengan indah, merawatnya agar tak hilang dalam ingatanku. Bersama rasa ini, kuabadikan dirinya dalam ruang hati yang paling dalam. Inilah yang menjadi awal dari rasa yang telah lama terkubur ini bangkit dengan suatu harapan yang lebih besar. Aku yang awalnya hanya mengharapkan namanya, kini telah berani untuk berharap lebih.

Pertengahan bulan berikutnya, kami dipertemukan lagi pada suatu momen yang disengaja. Dari pertemuan itu, beberapa kali aku hampir ketahuan mengambil fotonya. Tapi, Tuhan memang Maha Asik. Aku bisa mengambil gambarnya tanpa sepengetahuan dia.

Lalu setelah itu, aku mencoba mencari cara agar aku dapat berkomuniksi dengan dirinya lebih sering lagi. Aku mengirimkan foto yang kuambil tadi padanya.

“Keren” katanya singkat mengomentari foto yang kukirimkan padanya.

“Nih terparah” timpalku sembari menunjukkan foto dirinya.

“Nggak ada aba-aba nih. Nggak bagus” jawabnya lagi.

“Soalnya kalau pakai aba-aba, memori HPku cepat full” sejurus kemudian aku mengeluarkan alibi yang setelah kukirimkan padanya barulah terpikirkan.

***

Sepertinya September adalah bulan keberuntunganku. Ragam pertemuan menguatkan rasa. Menyuburkan rindu yang pernah terlelap. Aku terbuai senyumnya. Dan pada akhirnya jatuh lebih dalam lagi. Dibulan yang sama, kubuatkan puisi untuk pertama kalinya. Puisi “dua hari penentu rindu” itu sengaja kutujukan padanya tanpa sepengetahuan dirinya. Meski demikian, aksara yang kumainkan selalu disebabkan oleh karenanya. Ya dia. Dia dengan senyumnya. Dan semua tentang dia.

“Kenapa wajahku?” Selidik Widuri ketika mendapati wajahnya terbingkai dengan manis dalam insta story-ku.

“Yaaah maaf, tadi aku lupa. Aku hapus lagi” jawabku. Antara rasa bersalah dan takut semuanya bercampur menjadi satu. Kali ini aku tak tahu harus ber-alasan-kan apa. Jika saja yang ditanya adalah rindu, maka alasan satu-satunya dariku adalah dirinya. Tapi kali ini, dia menanyakan perihal fotonya yang sengaja kuunggah di insta story-ku.

“Ih biarin aja” katanya. “Yah kak, kok dihapus?” lanjutnya dengan sebuah tanya.

Kali ini raguku, rasa bersalahku dan juga takutku yang berkecamuk sedari tadi berubah jadi rasa penasaran sekaligus bahagia. Aku tak tahu dia marah atau tidak. Tapi yang jelas, dari kata-katanya, aku menangkap bahwa dia sebenarnya baik-baik saja dengan foto dirinya yang kuunggah.

“Aku kira kamu marah. Aku unggah lagi ah” balasku dengan perasaan bahagia.

“Iya, upload aja kak. Bagus puisinya” timpalnya.

“Iya bagus. Untuk orang terbaik, harus dibuatkan yang terbaik” tulisku membalas pujiannya. Tapi segera kuhapus lagi. Sebab pikirku, dia tak boleh tahu puisi itu ditujukan untuk dirinya. Pujiannya membuat segala khawatirku malam itu berubah jadi bahagia. Pujiannya membuatku ketagihan untuk membuatkan puisi untuknya lagi dan lagi.

September menjadikan kita sebagai sepasang rindu yang tak jua lekas menyatu. Sejak “dua hari penentu rindu” itu, kita seakan semakin sering bertemu baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Entah aku yang memang rajin karena dirinya atau kami secara kebetulan dipertemukan secara lebih sering lagi. Tapi pada akhirnya, aku yang harus tak bersuara meski rasa ini terus memaksaku.

Aku bagaikan Kristoff dalam serial Frozen 2 yang selalu gagal memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyatakan rasa. Seringnya bertemu, bukannya membuat kesempatanku untuk mendekatinya terbuka lebar, malah dipersempit oleh pikiranku sendiri. Terjebak rasa. Terhalang pikiran. Tapi masih mengharapkan rasa ini saling bertautan.

September tak berakhir begitu saja. Sebab ada senyumnya yang menyentuh ruang dalam hatiku untuk ia tempati. Memberikan keleluasaan untuk mengatur bahagianya sendiri. Hingga pada akhirnya membuatku kesulitan melupakannya. Bukan saja namanya, senyumnya tapi juga kenangan “dua hari penentu rindu” itu.

Mungkin kau sendiri pernah menerka-nerka atau sekedar menduga ketika wajahmu kutempatkan pada puisi pertamaku, bahwasanya hal yang paling sulit bagiku untuk melupakanmu adalah meniadakan segala bentuk kenangan tentangmu. Meski September adalah singkat, nyatanya sampai sekarang aku begini juga karena September, bukan?

Ah aku hanya bertanya pada diriku sendiri, sang pencipta luka untuk dirinya sendiri yang cita-citanya menjadi cinta paling baik untukmu. Kau tahu, pada setiap berakhirnya pertemuan kita yang meski singkat, tapi selalu menimbulkan aksara penuh harap untukmu.

“Hampir tiap hari kita rapat, tapi kita masih terpisah oleh sekat, meski terkadang kita dekat, namun hati kita tak pernah merapat. Inginku terus mendekat, tapi hatimu membuatku tersesat, dalam hutan asmara yang lebat, bersama luka yang kian merambat.” Tulisku pada story WhatsApp yang berlatarkan foto dirinya bersama yang lain. Entah kenapa, aku mulai suka merangkai kalimat bersajak setiap kali berjumpa dengannya. Ya dengannya. Dengan senyumnya yang menghangatkan itu.

Udara dibulan Desember terkadang menjengkelkan. Saat dinginnya datang, menusuk bagai belati yang mengharapkan penghangat peluk darinya. Saat panasnya datang, membakar bagai api cemburu tak berarah. Tapi inilah kenyataan yang harus diterima. Sebab segala sesuatu terjadi karena ada alasannya. Demikian juga aku yang masih mempertahankan rindu ini. Untuk dia. Hanya dia.

Denpasar masih begini saja. Panas ketika panas. Dan dingin ketika hujan. Di sini, di kota seribu pura ini, setelah dua hari penentu rindu itu, aku mulai berani mengumbar rindu. Meski tanpa arah bagi yang melihat, tapi tujuanku pasti. Untuk dia.

“Ada yang lebih parah daripada hujan dibulan Desember. Yaitu lelaki kurus yang memperkosa rindu dalam ruangan kesepian…,” Tulisku pada insta story-ku lagi saat hujan sedang menari-nari di luaran sana. Aku teringat akan senyumnya.

Harus kuakui, aku tak begitu lihai untuk memperdayai wanita. Karena itu, begitu aku jatuh hati padanya, kuputuskan untuk mengabadikan senyumnya dalam rupa puisi. Meski tak begitu bagus, setidaknya ia pernah membacanya sampai tuntas kemudian memujiku. Dan kini pun demikian. Aku mengabadikan namanya dalam rupa fiksi agar kelak, ketika takdir tak menjadikan kami sebagai insan yang berjodoh, setidaknya aku pernah lebih dulu mengabadikan namanya sebelum diabadikan kekasihnya.

Sengaja kupilih Widuri sebagai namanya sebab dia telah menjelma sebagai alasan segala rindu. Aku cukup yakin jika saja ia membaca tulisanku ini sampai paragraf ini, maka dia akan tahu, Widuri adalah namanya.

“Kepada Puan Semesta; rintik rindu yang kau kirimkan ini terus saja mendesah, menyerang lalu mengerang dalam resah. Mungkin ia sedang gelisah, melihat hati yang berdiri kokoh, dibuat roboh oleh rindu yang tanpa arah”

Cuaca tak menentu di Kota Denpasar tak menyulutkan rinduku padanya. Meski rintik rindu dihari kemarin terus menggodaku untuk terus menari diatas senyumnya, tapi tak membuat pertahanan rinduku untuknya terkuras habis. Terbukti bahwa meski hari ini terasa panas, tapi senyumnya menjadi tempat paling teduh untuk mengistirahatkan segala penat yang ada.

“Hari Kamis tanpa gerimis, cuacanya jadi panas, bikin hati memanas. Ada jiwa yang meringis dan aku yang malas. Beruntung ada senyumnya yang manis, membuat jiwa yang panas tak lagi sadis. Terima kasih senyum yang manis, untuk gadis yang manis, dari jiwa yang larut dalam aksara yang puitis” tulisku lagi dengan berima huruf s. Hurus s menjadi huruf paling favorit bagiku lantaran senyumnya dimulai dari s. Setidaknya ia membacanya meski aku tak menyebutkan namanya. Sebab yakinku ia pun tahu bahwa itu ditujukan padanya.

Suatu hari menuju akhir bulan Desember. Di luar sana, langit tampak bergemuruh. Dentuman petir terdengar begitu riuh. Di persimpangan jalan malam itu, aku memutuskan untuk berhenti. Sebab mau tak mau, dengan derasnya hujan memaksaku untuk berteduh. Gelap perlahan semakin menjalar. Merasuki jiwa yang kosong ini hingga menyisakan satu-satunya kenangan dua hari penuh arti itu. Ya, dua hari penentu rindu seperti judul puisi yang kubuat pertama kali dan itu untuk dirinya. Entah kenapa, malam ini aku merindukan dirinya lagi.

“Tak mengapa hujan. Toh rindu ini sudah lebih dulu kuyub daripada basahku” tulisku untuk yang kesekian kalinya. Memang benar, sejak ia menyimpan nomor ponselku, aku semakin candu padanya. Hari-hari kulewati dengan menghabiskan waktu chat bersamanya. Tak peduli seberapa banyak chat yang ada, notifikasi darinya adalah yang paling Kunanti. Karena itu, selain menjadikan namanya bertengger diurutan paling pertama pesan WhatsApp-ku, aku selalu berusaha mencari topik pembicaraan hanya sekedar agar ia dan aku berkomunikasi.

Sejak kemarin hingga hari ini kami tak berkomunikasi. Meski aku selalu memikirkan topik apa yang akan kami bahas agar komunikasi kami lancar, tapi hari ini, satu hari penuh aku tak mampu menemukan bahan yang mampu kujadikan alasan pembuka percakapan. Mungkin karena ini akhir tahun makanya semua serba sibuk. Termasuk pikiranku. Pikirku membela diri.

Satu hari tak berkomunikasi dengannya membuatku merasa gundah. Aku bingung harus memulainya dari mana untuk membuka percakapan dengannya. Kulihat kembali percakapan kami yang masih kusimpan hingga saat ini hanya untuk menggali ide untuk membuka ruang bagiku dengan dirinya. Tapi aku tak mampu. Beruntung ketika melihat cerita diinsta story-nya, aku membalasnya. Itu pun kulakukan setelah tiga kali melihat storynya dan berkali-kali mengumpulkan keberanian.

“Suka kopi juga? Wow, mantaps” komentarku pada insta story yang ia posting.

“suka dong kak” jawabnya diikuti dengan emoji ketawa.

“Aku kira nggak suka. Nggak pernah liat post kopi soalnya”

“jarang emang post-post gitu kak, biar tidak dikira pencitraaan” katanya lagi dengan candaan khas warga +62 wkwkwkwkw

“Wiiiiihhhhh berarti aku yg sering-sering post kopi pencitraan dong? Wkwkwkw sedih aing mendengar kenyataan ini” balasku lagi sembari mencari celah agar obrolan kami makin lama.

“wkwk ngga kak, ntar aku dikira ikut-ikutan suka kopi” balasnya lagi.

“Tak apa. Toh yang mengatur diri sendiri adalah diri kita sendiri juga. Orang lain kan hanya menilai”

“takutnya “ngopi untuk story” tapi ya aku lakuin wkwk” balasannya kali ini sedikit menghentakku. Takutnya “ngopi untuk story” katanya dengan penekanan tanda petik. Hatiku membenarkan perkataannya. Tapi, dengan alasan agar pembicaraan kami makin lama dan larut, aku sengaja beralibi lagi.

“Wkwkwkw “ngopi untuk story” pakek tanda petik udah berasa kesindir aku nih” balasku diikuti dengan emoji ketawa. “Kalo aku sih, kerja formalitas, ngopi rutinitas” lanjutku lagi mengcopy pernyataan pada selebaran iklan baju yang bertebaran di Instagram.

“sakit lambung juga rutinitas” timpal Widuri. Kali ini pernyataannya tidak hanya menghentakku tapi juga menusukku dengan kenyataan yang sengaja kututupi.

“Selagi promag masih belum illegal, tak apalah” balasku sekenanya saja. Sebab apapun alasanku nanti dia selalu menjawabnya dengan jawaban yang tak mampu kubalas.

Ini adalah percakapan penutup kami diakhir tahun. Di mana aku menutupnya dengan sebuah harapan bahwa sosok sepertinya akan menjadi alasan segala rindu ditahun yang baru nanti. Semoga.

“Sialnya, kita masih sebatas sapa…,” gerutuku lagi.

~ Bersambung

Oleh : Mr. Yeehaaa

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *