Setia Dalam Diam

Setelah selesai menulis puisi berjudul “Delusi Rasa” pada secarik kertas di atas meja malam itu, aku beranjak pergi. Kantuk yang kurasa tak dapat lagi kutahan. Puisi yang baru saja kutulis itu kubiarkan saja berserakan di atas meja. Tak teratur. Seperti puisi-puisi dalam hatiku yang berserakan dan tak teratur_menanti untuk dirapikan seseorang.

Malam itu terasa sepi. Hanya ada aku, puisi-puisi yang berserakan dan hati yang terus merindu. Semuanya bersatu melawan kantuk yang sedari tadi kurasakan. Tapi apa daya, aku masih manusia biasa yang bahkan tak mampu melawan kantuk, apalagi rindu untukmu. Karena itu, aku memutuskan untuk menemuimu dalam mimpi. Sebab kau pun tahu bahwa malam adalah tempat sebagian orang menjangkau kebahagiaan di ruang mimpi. Begitu juga denganku yang bahagia menemuimu dalam mimpi.

Ya mimpi. Entah kenapa, belakangan ini aku lebih sering bertemu denganmu dalam tumpukan puisi dialam mimpi.  

“Sialnya, kita hanya sebatas sapa, saling melempar senyum. Kemudian mulai mencinta; Aku mencintaimu dan Kau mencintai dia yang lain” gumamku dalam hati sebelum aku benar-benar terlelap jauh menuju ruang bahagiku.

Dialam mimpi, aku bertemu dengan gadis pujaan hatiku.Widuri namanya. Gadis cantik yang akhir-akhir ini selalu hadir dalam tumpukan puisi di insta story-ku. Lewat rinai hujan yang menari-nari tatkala bersua dengan bumi, juga lewat kopi yang tak dapat dipisahkan dari hitam dan pekat tatapan matanya.

Kami saling menyapa, saling melempar senyum dan yang pastinya tidak ada yang mencinta dengan cintanya masing-masing. Tak seperti yang selama ini aku dibayangkan; “Aku mencintaimu dan Kau mencintai dia yang lain”. Sebab hanya dialam mimpi, kami memang benar-benar saling mencintai.

“Kau mungkin lupa akan kata-kataku ini” ujarku sembari mengawali percakapan kami. Kemudian aku melanjutkan dengan kalimat yang pernah kukatakan padanya tempo lalu, “Inspirasiku telah dicuri orang, dibawanya pergi ke sana kemari”.

“Lalu?” Tanya Widuri penasaran.

“Lalu Kau menjawabnya dengan sebuah pertanyaan; apakah ini bisa disebut pencurian? Karena bahwasanya mungkin engkau yang memberikan dia untuk membawa inspirasimu berkelana kesana-kemari”

“Perihal dibawanya ke sana ke mari, mungkin itu sudah takdir Yang Kuasa. Biarkan semesta yang mengatur semuanya”. Aku berusaha menyangkali pertanyaannya dengan jawaban yang dalam perkiraanku akan membuatnya setuju dengan pendapatku. Ternyata aku salah. Aku dihujam lagi dengan sebuah pertanyaan yang tak terduga.

“lantas, untuk apa kau berserah diri pada semesta? Harus kau tau, tidak ada yang bisa kau percaya untuk takdir, bahkan kepada yang berkuasa sekalipun, ingatlah”

Tak ada yang berubah dari percakapan kami dalam mimpi itu. Percakapan itu persis seperti percakapan kala kami tempo hari. Sialnya, yang membedakan adalah ini masih di dunia mimpi.

“Aku berserah pada semesta karena semesta selalu punya cara untuk mempertemukan aku dan dirimu”. Aku berusaha menjawab pertanyaan Widuri. Namun sayangnya, aku tak sempat. Dan mungkin aku tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk menjawabnya di dunia nyata sekalipun.

______________&______________

“Ini kisah tentang rasa yang kian berdelusi dalam harapnya. Rasa yang kian menggebu dalam hatinya. Namun terbendung oleh niatnya. Kisah ini, adalah kisah….” tulisku lagi pada secarik kertas. Namun tak kulanjutkan lantaran aku merindu lagi.

Di luar sana, rinai hujan sedang menari-nari di atas permukaan tanah. Membasahi tanaman, juga menyuburkan rindu dihatiku untuknya. Entahlah. Sudah berapa rindu yang Kuhabiskan untuknya. Rindu ini tak kunjung berakhir.

“Sepertinya sedia payung sebelum hujan hanyalah pepatah semata. Sebab rinai hujan dan rintik rindu yang mendesah perlahan terus saja memanggilku tuk bercumbu dengan bayang-bayangmu” aku menuliskan rasa rindu ini pada instansi story-ku. Kemudian bergelut dengan tanya sesaat setelah dia membacanya. Sebab ada beberapa rindu yang memang sengaja kutujukan padanya. Tanpa menyebut namanya sebagai rindu yang paling Kunanti. Yang jelas, setelah aku melihat dia membacanya, ada bahagia yang tak mampu kuceritakan sebagai fiksi yang paling indah.

Mungkin dia tidak akan pernah tahu bahwa inspirasi yang kumaksud adalah dirinya sendiri-yang olehku, dijadikan puisi persembahan rindu. Mungkin dia tidak akan pernah tahu bahwa ada sekat yang membatasi rasa yang ingin kusampaikan padanya. Mungkin dia tak akan pernah tahu bahwa pada setiap senyum yang ia pancarkan, selalu menyisakan harap untuknya.

Barangkali dia pun tak akan pernah tahu bahwa selalu ada aku yang memperhatikan setiap kali ia bicara. Dia takkan pernah tahu bahwa diam-diam ada aku yang mencintainya. Cinta dalam diam. Dan dia takkan pernah tahu bahwa “inspirasiku dicuri orang” yang kumaksud adalah dirinya yang telah berhasil mencuri hatiku.

Dia takkan tahu. Dia takkan pernah tahu. Selama aku masih bergelut dalam raguku, rasa cinta yang tumbuh kian berdelusi. Ya berdelusi. Aku meyakini perasaanku berbalas namun itu semua hanyalah kenyataan semu yang diyakini terus menerus meskipun kebenarannya belum terbukti sebab aku belum berani mengutarakan perasaanku padanya.

Entah rasa ini akan berakhir bahagia atau malah sebaliknya, berakhir pilu. Semuanya belum terbukti. “Tidakkah kau tahu itu Tuan Puteri? Bahwa kepada semesta telah kutitipkan rasa ini, meski dengan perasaan takut karena bayangmu terus menghantui jiwa yang penuh harap ini” tanyaku pada semesta dipenghujung malam.

Suatu hari di bulan Desember, tiga hari sebelum akhir tahun, aku berusaha membuka pembicaraan dengan Rindu.

“Wid, kamu gada ke sekre tadi, kan?”

“ngga kak”

“Syukurlah. Ada tulisan kecilku di sana soalnya”

Widuri hanya membalasnya dengan kata “hmmm -_-“

Kemudian aku berucap dengan penuh keraguan “ada sesuatu yang salah denganku. Aku menuliskan namamu pada kata-kataku”. Aku tak mampu berkata jujur bahwa sebetulnya aku telah menuliskan puisi teruntuk dirinya.

“Untuk apa?” Tanya Widuri penasaran. Kemudian menyerangku dengan sebuah pertanyaan “mengapa kamu lakukan itu?”

Kira-kira satu menit berlalu dengan sia-sia. Aku termangu memikirkan jawaban apa yang akan kujawab padanya.

“Untuk puisiku” jawabku ragu-ragu. Kemudian berusaha untuk baik-baik saja. Namun ada yang berdebar kencang didada. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu mencoba mengalihkan pertanyaan yang tidak jauh-jauh dari konteks pembicaraan kami.

“Kau ingat percakapan kita tempo hari? Waktu itu aku bilang bahwa inspirasiku telah dicuri orang, dibawanya pergi ke sana kemari”.

“ya, aku mengingatnya, lalu apa yang terjadi?” selidik Widuri.

“Kupikir, ini adalah suatu kebablasan yang disengaja. Tapi, kata-katamu menamparku untuk sebuah alasan” jawabku dengan penuh pertimbangan. Kemudian melanjutkan dengan mengulangi kata-katanya.

“lantas, untuk apa kau berserah diri pada semesta? Harus kau tau, tidak ada yang bisa kau percaya untuk takdir, bahkan kepada yang berkuasa sekalipun, ingatlah”.

Setelah menjawab dengan mengulangi kata-katanya, aku mulai panik. Perasaanku kacau balau. Bahkan aku telah memikirkan resiko apa yang akan menimpaku kedepan.

“haha aku tiba-tiba saja menulisnya untuk membalas kata-katamu. Tapi tak masalah, kok” balas Widuri dengan sedikit tawa yang membuat aku merasa lebih baik dari sebelumnya.

“Jadi, itu artinya Puisiku tak masalah bagimu? Tanyaku tapi kali ini tanpa ragu. Kemudian dengan percaya diri kulanjutkan kalimatku.

“Kau tahu? Terkadang inspirasiku bersumber darimu. Jadi, maukah kau membaca puisi akhir tahunku ini? Yah sebelum yang lain membacanya” tawarku.

“Aku sangat bahagia mendengarnya. Dengan senang hati menjadi bagian dari puisimu dan menjadi yang pertama membacanya”.

Beberapa menit kemudian, setelah selesai membaca puisi yang kutujukan untuknya, Widuri memujiku. Namun sebelum aku mengirimkan puisi untuknya, namanya telah kuganti. Aku hanya memberinya judul tambahan “teruntuk jiwa dari puisiku” sebelum ia membacanya.

“aduh mantap sekali kak” kata Widuri memuji.

“Waaaaaahhhhhhh mantapnya pake api, terbakar aku nanti” kataku membalas pujiannya.

“aku yang terbakar puisimu kak” timpalnya diikuti emoji ketawa.

“Syukurlah kalau puisiku membakarmu, itu berarti tujuan puisinya sudah pas”

“pas banget  itu kak” jawabannya kali ini benar-benar membuatku tak mampu berkata apa-apa. Aku terlampau bahagia dengan rasa yang berdelusi ini. Emoji api bak membakar yang ia berikan membuatku terbakar api cinta.

Aku mencintai setiap kata yang ia ucapkan. Bahkan ketika tak berkata pun, senyumnya terus mengikutiku. Dan aku terlampau bahagia karenanya. Sampai-sampai aku lupa bahwa ternyata aku memang telah dibuatnya jatuh hati yang benar-benar jatuh.

“Sialnya, kita hanya sebatas sapa…,”

Bersambung …

Oleh : Mr. Yeehaaa

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Setia Dalam Diam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *