SISTEM ORGAN MANAKAH YANG PALING PENTING BAGI KELANGSUNGAN HIDUP KITA?

Om Ano Bhadrah Kratavo Yantu Visvatah. Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Konnijiwa, minna!!

Pertanyaan mendasar sebenarnya yang memicu tulisan ini muncul adalah, “Mengapa kita bisa hidup?” Kelihatannya seperti pertanyaan antara dari seorang anak kecil yang baru belajar membaca atau seseorang yang sudah depresi dengan segala bentuk cobaan. Tetapi tenang saja, karena mempertanyakan segala sesuatu yang kita pikir kita tahu adalah salah satu bentuk dari kecerdasan.

Oke, Back to laptop. Alasan mengapa kita bisa hidup secara jasmani adalah karena adanya kerja sama yang hebat antara organ-organ tubuh dengan masing-masing sistem serta mekanisme kerja yang menakjubkan. Jika ditinjau dari tujuh ciri-ciri utama makhluk hidup (Mengonsumsi nutrisi, Bergerak, Bernafas, Iritabilitas/Peka Rangsang, Bertumbuh, Meneruskan keturunan, dan Membuang zat sisa) maka sistem organ tubuh dapat dibagi menjadi sembilan sistem utama yakni:

  • Sistem Muskuloskeletal (Sistem Pergerakan),
  • Sistem Kardiovaskular (Sistem Peredaran Darah),
  • Sistem Respirasi (Sistem Pernafasan),
  • Sistem Saraf dan Indra (Sistem Koordinasi dan Rangsang),
  • Sistem Urogenital (Sistem Ekskresi dan Perkembangbiakan), 
  • Sistem Hematoimun (Sistem Komponen Darah dan Kekebalan Tubuh),
  • Sistem Digestif (Sistem Pencernaan),
  • Sistem Endokrin-Metabolisme (Sistem Regulasi Fungsi Tubuh), dan
  • Sistem Integumen  (Sistem Proteksi Eksternal)

Nah, barulah sekarang kita bisa memulai pertanyaan utama di tulisan ini. Sistem tubuh manakah yang paling penting bagi kehidupan kita semua?

Mungkin beberapa orang akan mengatakan bahwa Sistem Saraf dan Indra adalah sistem terpenting di tubuh kita, karena sistem inilah yang mengendalikan setiap pergerakan dan kerja semua organ di tubuh kita. Sistem ini juga menaungi kecerdasan, emosi, perilaku, serta respon terhadap hal-hal yang menyenangkan maupun mengancam. Beberapa orang lain mengatakan bahwa Sistem Kardiovaskular adalah sistem terpenting karena sistem ini yang menjaga keseimbangan aliran darah serta mengedarkan dan mengelola konsentrasi O2, CO2, dan nutrisi secara sistemik bersama dengan Sistem Respirasi.

Tentunya semua pendapat di atas tidak salah karena memang demikianlah fungsi dari setiap sistem organ di tubuh kita. Setiap sistem tubuh memiliki aspek penting tersendiri bagi kelangsungan hidup seorang manusia.

Tetapi, pernahkah teman-teman berpikir bahwa sistem organ yang terpenting secara universal bagi kehidupan kita adalah SISTEM HEMATOIMUN?

Hmm, bagaimana penjelasannya? Mari kita sibak satu persatu.

  1. Satu dari Empat Elemen Cairan Terpenting Menurut Hippocrates

Dalam dunia medis, tentu nama Hippocrates tak asing lagi sebagai Bapak Kedokteran Modern. Ia adalah seorang ahli medis serta filsuf yang pertama kali merumuskan sumpah untuk para praktisi kesehatan agar bekerja sesuai etika yang dikenal sebagai “Sumpah Hippocrates”.

Menurut Hippocrates, empat cairan penting tubuh manusia meliputi Darah (Sanguin), Lendir (Phlegma), Empedu Kuning (Chole), dan Empedu Hitam (Melanchole). Setiap cairan yang mendominasi dalam tubuh manusia akan membentuk kepribadian tertentu pada manusia tersebut. Dalam konteks tulisan ini, jika Darah adalah cairan yang mendominasi dalam tubuh manusia, maka menurut media Greek Medicine ia akan memiliki karakter Sanguinis dengan ciri-ciri selalu riang, antusias, optimis, ambisius, serta memiliki kasih sayang tinggi. Dari sudut pandang Ayurveda, karakter ini memiliki ciri-ciri yang mirip pada individu dengan dominasi Prakriti (konstruksi tubuh) Pitta berunsur Api (Nalah/Agni) dan Air (Jala/Apah).

Tentu saja bukan kebetulan jika Darah memiliki warna yang sama seperti Api dan komposisi seperti Air. Darah adalah organ yang berfungsi untuk mengangkut nutrisi dan mengakomodasi sistem kekebalan tubuh melalui suatu komplemen yang disebut sebagai Pyrogene untuk meningkatkan suhu tubuh. Secara tak langsung Darah pun juga membantu mengelola energi sirkulasi dalam tubuh melalui mekanisme yang kita kenal sebagai ‘Tekanan Darah’.

2. Jaringan Paling Dasar dalam Hierarki Tujuh Jaringan (Sapta Dhatu)

Cabang ilmu Anatomi dan Histologi Ayurveda (Rachna Sarira) menyatakan bahwa tubuh manusia tersusun atas tujuh jenis jaringan, yakni Plasma (Rasa), Darah (Rakta), Otot (Mamsa), Adiposa/Lemak (Medha), Tulang (Asthi), Sumsum Tulang/Saraf (Majja), dan Sel Regeneratif/Stem Cell (Shukra). Ketujuh jenis jaringan ini saling bekerja sama melindungi satu sama lain, mengalirkan energi dan nutrisi, serta saling memengaruhi untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia.

Sistem Ayurveda menyatakan bahwa Rasa dan Rakta adalah dua elemen jaringan yang utama dan konstituen primer dari tubuh. Biasanya plasma dan darah adalah satu kesatuan organ yang tak dapat dipisahkan. Plasma selain berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan ekstraseluler dan intraseluler, elemen ini juga berfungsi untuk menampung nutrisi, hormon, antibodi, serta larutan penyangga yang semuanya berfungsi untuk pertumbuhan dan pertahanan tubuh. Darah pun selain berfungsi untuk membawakan nutrisi, CO2, O2 bersama Plasma, elemen ini juga berfungsi untuk membunuh patogen yang memasuki tubuh melalui mekanisme Fagositosis serta mencegah kerusakan struktur tubuh melalui pembekuan darah (Hemostasis).

Meskipun secara fisiologis kerja Darah dan Plasma dibantu oleh Jantung, Paru-paru, serta Pembuluh Darah, tetapi organ-organ vital ini pun tetap memerlukan nutrisi serta O2 dari Darah dan Plasma dengan terbentuknya sirkulasi koroner (untuk Jantung), sirkulasi pulmoner (untuk Paru-paru), serta sirkulasi vasa vasorum (untuk Pembuluh Darah itu sendiri).

3. Sistem Organ Pertama yang Sudah Mampu Bekerja Sempurna Sebelum Lahir

Dari sudut pandang Embriologi, sistem organ yang pertama kali terbentuk adalah sistem Hematopoietik (sel-sel Darah) dan Kardiovaskular yang ditandai dengan terbentuknya “blood island” serta “primary heart field” pada pertengahan minggu ke-3 usia kehamilan. Proses ini terjadi sebagai bentuk perluasan dari keperluan penyerapan nutrisi oleh embrio yang tidak cukup hanya dilakukan lewat proses difusi.

Perkembangan sistem Hematopoietik berlanjut dengan mulai berfungsinya ‘Yolk Sac’ (kantung kuning telur pada embrio) sebagai tempat proses Hematopoiesis (pembentukan sel-sel Darah) primer. Selanjutnya fungsi Hematopoiesis akan berpindah menuju Hati dan Lien seiring dengan perkembangan kedua organ tersebut setelah 5 minggu hingga 3 bulan usia kehamilan. Jadi, sebelum berpindah menuju Sumsum Tulang pun, sistem Hematopoietik telah terbentuk dan bekerja secara sempurna untuk melaksanakan fungsinya mengedarkan nutrisi.

Demikian pula halnya dengan sistem Imun, yang ditandai dengan terbentuknya Timus pada minggu ke-6 usia kehamilan. Organ-organ Imunitas lainnya seperti Limfonodus pun juga mulai terbentuk pada bulan ke-2 usia kehamilan. Dan hebatnya, perkembangan sistem Imunitas termasif justru terjadi mulai dari masa prenatal (sebelum lahir) hingga menjelang akil balig.

Hal ini berbeda dengan sistem Kardiovaskular dan Respirasi yang baru terbentuk dan bekerja secara sempurna setelah janin lahir. Jantung sendiri mengalami sejumlah adaptasi dari sirkulasi prenatal menuju sirkulasi postnatal (setelah lahir). Contoh adaptasi tersebut adalah dengan tertutupnya Foramen Ovale (lubang oval pada Jantung) yang sebelumnya menjadi penghubung antara sirkulasi ibu dan janin. Adaptasi lainnya adalah pengambil alihan fungsi penyebaran oksigen yang sebelumnya dilakukan Plasenta berubah menjadi dilakukan oleh Paru-paru. Untuk mulai melaksanakan fungsi tersebut, terbentuk suatu cairan fosfolipid yang berfungsi mengurangi tegangan permukaan pada Alveolus, yakni Surfaktan.

4. Kasus Klinis yang Sangat Banyak dan Terus Berkembang

Sistem Hematoimun adalah sistem yang memiliki fungsi luas terkait dengan pertahanan tubuh. Eritrosit (sel Darah Merah) memiliki struktur yang disebut sebagai Hemoglobin untuk menjalankan tugas mengedarkan nutrisi serta melakukan pertukaran O2 dan CO2 dalam tubuh. Eritrosit diproduksi di Sumsum Tulang dan dirombak di Lien serta diregenerasi oleh Hati dan Ginjal.

Jika terjadi sedikit saja kelainan baik pada struktur Hemoglobin, struktur Eritrosit, hingga fungsi Sumsum Tulang, maka fungsi keseluruhan peredaran Darah akan terganggu. Sebutlah jika fungsi Sumsum Tulang terganggu, tentunya bentuk Eritrosit yang dihasilkan tidak akan bagus (terlalu besar, terlalu kecil, berbentuk sabit dan lainnya) sehingga dapat menimbulkan berbagai jenis variasi Anemia.

Begitu pula dengan sistem Imun yang terdiri atas pertahanan Non-Spesifik/Innate dan Spesifik/Adaptif. Pertahanan Non-Spesifik meliputi pertahanan mekanis (air liur, asam lambung, air mata, kulit dan lainnya), pertahanan fagositik (Neutrofil, Basofil, Eosinofil, Makrofag, sel Natural Killer), serta pertahanan komplementer (Interleukin, Pyrogene dll). Pertahanan Spesifik meliputi pertahanan seluler (Limfosit T) dan pertahanan humoral (Limfosit B).

Berbicara tentang sistem Imun, tentu saja dengan melihat pembagian kerja sistem Imun di atas kita dapat membayangkan seperti apa jadinya jika ada satu saja bentuk pertahanan tubuh yang kacau dan tak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Selain bisa mengundang patogen-patogen berbahaya memasuki tubuh, kelainan sistem Imun ini juga menimbulkan berbagai jenis penyakit baru. Faktanya, sekitar 80-90% jenis penyakit non-habitual (bukan karena pola dan gaya hidup keliru) yang kita kenali saat ini terjadi karena disfungsi dari sistem Imun tubuh.

Berdasarkan jenisnya ada empat variasi utama kelainan sistem Imun, yaitu Hipersensitivitas (respon berlebihan terhadap berbagai jenis Antigen yang memasuki tubuh), Immunodefisiensi (berkurangnya kuantitas dan kualitas elemen sistem Imun sehingga mudah dikalahkan patogen), Autoimunitas (elemen sistem Imun yang justru menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri), serta Alloimunitas (penolakan elemen sistem Imun terhadap jaringan transplan). Dari keempat jenis kelainan sistem Imun inilah, muncul berbagai jenis penyakit mematikan seperti Lupus, TBC, Sklerosis, bahkan termasuk HIV/AIDS. Itu pun belum termasuk berbagai jenis virus dan penyakit mematikan yang muncul akhir-akhir ini serta masih dalam tahap penelitian untuk menemukan obat yang mampu memperkuat elemen sistem Imun.

At last, dapat teman-teman pahami dan simpulkan bahwa SISTEM HEMATOIMUN adalah sistem tubuh yang memegang peranan vital dan sentral dalam menjalankan fungsi normal tubuh manusia. Tentu saja ini bukan berarti bahwa sistem-sistem tubuh yang lain menjadi tidak penting sehingga tak perlu dijaga kesehatannya. Kembali lagi menuju prinsip dasar bahwa sistem organ di tubuh kita semua memiliki berbagai peran dan mekanismenya masing-masing dalam menjaga keberlangsungan hidup kita. Anggap saja tulisan ini sebagai suatu pintu untuk membantumu membuka cakrawala pengetahuan yang lebih luas mengenai tubuh manusia.

And as usual, marilah kita merenungkan sebuah quotes yang bermakna dalam berikut ini.

You are not IN the universe, you ARE the universe, an intrinsic part of it

-Eckhart Tolle-

Keep Spirit!

1887-san

DAFTAR PUSTAKA

Makhluk Hidup Definisi, Ciri, dan Klasifikasinya. Tersedia pada https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/22/100000169/makhluk-hidup-definisi-ciri-dan-klasifikasinya?page=all

The Four Humors. Tersedia pada http://www.greekmedicine.net/b_p/Four_Humors.html

The Three Doshas: The Keys to Your Individual Nature. Tersedia pada http://www.eattasteheal.com/ayurveda101/eth_bodytypes.htm

Concept of Dhatus in Ayurveda. Tersedia pada https://www.planetayurveda.com/concept-of-dhatus-in-ayurveda/

Mescher, Anthony L. Junqueira’s Basic Histology Text & Atlas 13th edition. Mc-Graw Hill Education. San Fransisco. 2013.

Sadler, T.W. 2012. Langman’s Medical Embryology 12th edition. Philadelphia: Wolter Kluver Health.

Carlson BM. Human Embryology and Developmental Biology 5th edition. Philadelphia: Elsevier. 2014.

Hoffbrand V, Moss P. Hoffbrand’s Essential Haematology. Birmingham: John Wiley & Sons. 2016. (Diakses pada https://warmadewa.vitalsource.com/#/books/9781118408667/cfi/6/2!/4/6/10@0:28.7)

Kiswari R. Hematologi dan Transfusi. Semarang: Penerbit Erlangga. 2014

Abbas AK, Lichtman AH. Basic Immunology: Functions and Disorders of the Immune System 4th edition. Philadelphia: Elsevier Saunders. 2014.

Male D, Brostoff J, Roth DB, Roitt IM. Immunology 8th edition. China: Elsevier Saunders. 2013.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *