Suara Anak Rantau: Antara Kuliah, Kerja dan Pulang

Sejak virus corona melanda indonesia, sejumlah perguruan tinggi memutuskan untuk melakukan perkuliahan online dalam beberapa bulan. Tak hanya itu, pandemi ini juga membuat sejumlah tempat usaha tutup untuk sementara. Imbas dari penutupan ini, para perantau yang juga merupakan pekerja diistirahatkan. Sebagiannya lagi mendapat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)  yang menjadikan mereka semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Keluhan demi keluhan pun tak terbendung. Ada yang memilih berkeluh-kesah lewat media sosial, ada pula yang mengeluh secara langsung. Itu semua dilakukan semata agar jeritan hati mereka dapat didengarkan. 
Saya pun demikian. Sebagai mahasiswa yang juga pekerja, Imbas dari mewabahnya Virus Corona ini sangat terasa bagi saya. Bukan hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam perkuliahan. Bagaimana tidak, sistem perkuliahan kali ini diterapkan secara dalam jaringan (daring) atau yang biasa disebut kuliah online. 

Guna mencegah penyebaran Virus Corona ini, kuliah online ini menjadi konsekuensi yang harus diterima baik oleh saya sendiri sebagi mahasiswa juga bagi mereka yang bekerja dari rumah yang istilah bekennya Work From Home atau WFH.

Bagi  kami yang kuliah online, biaya untuk mengakses perkuliahan sekaligus mengerjakan tugas-tugas online lainnya menjadi menjadi beban tersendiri lantaran kurangnya pendatan dan borosnya pengeluaran untuk beli kuota internet. Pilihan yang sulit memang bagi kami. Tapi, jika kami tak mementingkan kuota internet, kuliah kami kemungkinan akan terhambat. Sebab yang menentukan baik dan tidaknya Indeks Prestasi Komulatif (IPK) saat ini bukan lagi kerja keras dari proses belajar. Melainkan banyak tidaknya kuota internet yang kita miliki.

Kuota internet menjadi keluhan lazim layaknya mereka di kampus-kampus lain. Karena itu, sejumlah kampus pun memberikan bantuan kuota bagi mahasiswanya. Demikian juga dengan saya. Pertanyaan seperti “apakah pihak Universitas menyediakan bebas kuota untuk mengurangi beban finansial bagi dosen dan mahasiswa?” atau “apakah kampus tempat saya berkuliah peduli dengan mahasiswa atau pun dosennya?” sering terlintas dalam pikiran. 

Pilihan lain seperti tetap tinggal di sini (tanah rantau) dengan tidak bekerja tapi banyak pengeluaran atau kembali ke kampung halaman menjadi racun bagi saya sendiri. Pulang adalah solusi agar biaya kehidupan dan penghidupan saya di rantau tidak menjadi beban. Apalagi, uang kost tetap bayar seperti biasa. Tidak seperti kampus lainnya yang mendapat pengurangan biaya.

Mereka yang tidak kuat menahan rindu dan derita memilih untuk pulang dengan catatan harus mengikuti karantina mandiri selama 14 hari. Konsekuensi lain selain karantina mandiri selama 14 hari bagi mereka yang pulang adalah tidak mendapat sambutan berupa pelukan hangat dari keluarga. Apalagi bagi mereka yang baru saja dari zona merah. 

Mereka yang bimbang antara pulang dan tidak pulang memilih berkeluh-kesah dimedia sosial. Kata-kata seperti “siapa suruh dulu merantau giliran sekarang minta pulang” atau “jangan pulang untuk bawa virus” mereka dapatkan. Siapa yang harus disalahkan?

Mereka yang kuat dan tabah menjalani hidup tetap bertahan meski rindu akan keluarga terus membeludak. Dan saya adalah salah satu dari mereka yang ingin pulang. Tapi disisi lain, saya juga taat hukum. Himbauan pemerintah tempat saya berasal agar tidak pulang kampung halaman guna memutus mata rantai penyebaran virus ini, saya turuti. 

Lantas, apa solusi yang tepat agar orang-orang seperti saya ini dan para perantau lainnya bisa tetap bertahan dalam situasi seperti sekarang ini? 
Apa kebijakan pemerintah terkait hal ini? 

Membiarkan (menelantarkan) kami yang tanpa pekerjaan atau memberikan dukungan materil kepada kami di rantau atau malah mengijinkan kami untuk pulang kampung?

Akhir kata, mari kita saling menjaga dan mendoakan. Jangan pojokkan kami anak rantau yang ingin pulang. Stay Safe And Stay Health Everyone

Oleh : Andrias Nggalumara

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *