Surat Kecil untuk Paman Berdasi

Selamat pagi paman, maaf jika kehadiran surat ini akan mengganggu ketenanganmu di pucuk singgasana itu. Namun, ada begitu banyak hal yang ingin hamba bicarakan. Hal yang boleh jadi tidaklah penting bagi paman. Jika saja paman berkenan, maka izinkan hamba menyampaikan.

Paman, sesungguhnya kenyang pada perutmu ingin sekali hamba rasakan. Sama halnya dengan keberadaanmu di puncak kemakmuran, bertiup angin sejuk yang begitu pelan. Maka sudikah paman berbagi kenyamanan dengan hamba yang begitu lusuh dan tercela? Ah, mungkin saja tidak. Perut buncit yang begitu subur itu pasti akan merasa sesak oleh kehadiran hamba yang rendah ini.

Paman, tanah ini terasa begitu nyaman, bukan? Tentu saja, tanah ini begitu kaya dengan segala isi yang sangat menggiurkan di mata. Apa saja bisa dilakukan dengan leluasa di sini. Paman tinggal membungkam dan memusnahkan siapapun yang mengancam nanti. Hebat sekali, paman akan tetap bahagia dengan timbunan harta yang melimpah ruah.

Paman, sejatinya hamba adalah orang yang gemar berdiam. Hamba tak suka berdebat, apalagi ikut campur dalam keributan. Tapi paman, hamba sungguh begitu lelah terperas, begitu lelah terlindas, begitu lelah tersepak di jalanan. Lancang biarlah lancang hamba pertaruhkan, biar paman mendengar, apapun tak akan membuat hamba gentar.

Paman, sejatinya tanah ini sudah penuh dengan limbah seperti paman yang kerap kali ingkar janji dan sumpah. Jika begitu besar hasratmu untuk menjadi makhluk penimbun harta, maka ambil saja apa yang ada di tanah kita. Tapi jangan habiskan semuanya paman, hamba yang rendah ini juga butuh makan. Eksistensi perut buncit itu juga sejatinya bergantung dari daki tangan hamba, bukan?

Paman akan begitu hancur jika hamba mati diinjak paman. Tapi tahukah paman bahwa keberadaan paman sebenarnya juga begitu lemah? Paman hanya seonggok daging bernyawa yang bergelimang harta, tidak lebih dan tidak kurang. Jika mau, hamba bisa saja melawan dengan keras dan membuat paman jatuh terhempas. Tapi hamba tetap merendah, tidak tega rasanya melihat perut buncit itu terluntang lantung di jalanan. Maka, sadarlah paman! Penuhi seluruh kewajibanmu sebagai ayah besar hamba dan rakyat lainnya. Sebelum paman mati, tergeletak di tanah bekas yang telah paman peras sendiri.

Oleh: Ayu K.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *