Tara Basro; Tentang Perempuan dan Perlawanan

Pertanyaan pertama yang muncul dibenak saya saat baca berita tentang Tara Basro adalah; “sebenarnya definisi telanjang dan pornografi itu apa sih?”, sebab Kominfo melihat ketelanjangan dalam foto Tara Basro tanpa melihat konteksnya yangmana merupakan edukasi tentang body positivity_sebuah cara untuk mencintai diri sendiri.

Jika ditelusuri lebih jauh, gerakan body positivity ini ternyata sudah muncul beberapa tahun terakhir di media sosial sampai akhirnya berhasil masuk ke budaya pop. Gerakan serupa pernah dilakukan selebritas seperti Alicia Keys, Paloma Elsesser, Tara Lynn, Ali Tate Cutler, Tess Holliday, dan Charli Howard. Pada Agustus tahun lalu, supermodel Ashley Graham mengunggah fotonya yang memperlihatkan selulit, stretch mark, dan gelambir di Instagram pribadinya layaknya Tara Basro di Twitter. Foto ini bahkan sampai disukai 1,4 juta kali dan punya lebih dari 2.300 komentar yang mayoritas suportif.

Lalu, mengapa Tara Basro dianggap melanggar UU ITE?

Dalam foto yang diunggah keakun Twitter_yang kemudian telah ditake down entah oleh Tara Basro sendiri atau Kominfo, memang tampak bahwa Tara Basro tidak berbusana. Dia duduk menghadap ke samping dengan tangan menutup payudaranya. Inilah yang kemudian membuat Kominfo memberikan penilaian bahwa Tara Basro melanggar UU ITE. Postingan Tara Basro di akun Twitter-nya dianggap mengandung unsur pornografi dan menyalahi UU ITE sebab dianggap memenuhi unsur Pasal 27 ayat 1 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik berbunyi: Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Perlawanan yang dilakukan Tara Basro terhadap stigma negatif masyarakat tentang tubuh yang ideal ia tunjukkan dengan caranya sendiri. Lewat akun Instagram-nya, Tara Basro mengunggah foto berbalut swim suit dengan caption “Dari dulu yang selalu gue denger dari orang adalah hal jelek tentang tubuh mereka, akhirnya gue pun terbiasa ngelakuin hal yang sama.. mengkritik dan menjelek2an, Andaikan kita lebih terbiasa untuk melihat hal yang baik dan positif, bersyukur dengan apa yang kita miliki dan make the best out of it daripada fokus dengan apa yang tidak kita miliki. Setelah perjalanan yang panjang gue bisa bilang kalau gue cinta sama tubuh gue dan gue bangga akan itu. Let yourself bloom,” sebagai bentuk kampanye atau ajakan kepada para pengikutnya untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif agar tidak terjebak pada kebiasaan mengkritik bentuk tubuh sendiri.

Tara Basro bahkan berusaha melawan stigma standar bentuk tubuh sempurna akibat propaganda iklan yang selama ini menjadi representasi media dimana cantik itu harus kulit putih, kulit mulus, hidung mancung, badan oke, hingga standar cantik masyarakat  dan lain sebagainya. Sebenarnya pesan yang disampaikan Tara Basro bukan hanya ditujukan untuk melawan standar cantik yang direpresentasikan oleh media, tetapi juga kepada kita secara umum. Kita harus tahu bahwa cantik itu adalah wanita. Bagaimana pun kondisinya, wanita adalah cantik. Dan cantik itu nyata.

Tara Basro adalah representasi perempuan yang ingin mencintai dirinya sendiri dengan berusaha melawan stigma perempuan Indonesia yang terkurung dalam budaya patriarki dan terbelenggu aturan tak tertulis di lingkungannya. Tara Basro berusaha membongkar batasan-batasan yang membelenggu para perempuan secara turun temurun dipelihara. Bahkan untuk sekedar menerima dirinya sendiri apa adanya yang berhubungan dengan fisik. Apa yang dilakukan Tara Basro layak diapresiasi sebab ia berusaha menuntut kebebasan yang hakiki untuk melepaskan diri dari belenggu patriarki yang sudah mengakar.

Jika merujuk pada pasal 4 ayat 1 UU Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi, batasan pornografi salah satunya adalah yang secara eksplisit menampilkan ketelanjangan atau mengesankan ketelanjangan. Lalu, seperti apa sih definisi pornografi dan ketelanjangan jika melihat foto Tara Basro? Jelas bagi saya sulit untuk mendefinisikan pornografi dan ketelanjangan jika melihat foto Tara Basro yang dengan konteks mengkampanyekan gerakan mencintai diri sendiri, mencintai badan kita sendiri atau dengan kata lain body positivity yang mendorong  perempuan-perempuan lainnya menjadi lebih percaya diri atas bentuk tubuhnya.

Sangat jelas bahwa dalam hal ini Kominfo terlalu dini menilai bahwa postingan foto Tara Basro mengandung unsur pornografi. Tafsir ketelanjangan dan pornografi dalam UU ITE ini masih kabur. Tidak ada garis pembatas yang jelas antara yang tidak menggunakan pakaian dan yang menggunakan pakaian namun menampakkan bagian tubuhnya. Kominfo melihat foto Tara Basro tanpa melihat konteksnya dimana Tara Basro memberikan edukasi kepada publik sebagai bentuk kampanye body positivity.

Saya khawatir jika tafsiran ini yang digunakan Kominfo, maka nantinya akan sangat beresiko bagi masyarakat dan para gegiat perempuan yang memberikan edukasi, misalnya, edukasi reproduksi, menyusui dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), kampanye bahaya kanker serviks, dan edukasi tentang kekerasan seksual. Bukan tidak mungkin akan dijerat pidana UU ITE sebab Kominfo tidak melihat konteksnya.

Oleh : Yons Hunga

Gambar : instagram/talkwithgita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *