Temanku, Adrian.

Aku pindah ke kota lain saat memasuki bangku SMA. Selama hidupku, aku tidak pernah menginjakkan kaki di sekolah sebab aku homeschooling. Aku gugup, aku tidak bisa memulai pertemanan dengan orang baru. Aku begitu pemalu dan juga takut tidak ada yang ingin berteman denganku di hari pertama besok. 

Namun, aku salah. Anak itu menghampiriku dikala aku sendirian di kelas saat jam istirahat. Rambutnya agak panjang, seragamnya tidak rapi, sepertinya dia bukan salah satu siswa yang rajin membuat tugas tepat waktu, pikirku. Adrian namanya.

Sama seperti aku, Adrian ternyata juga pindahan tahun lalu. Namun, dia tidak memberi tahu dari kota mana dia berasal. Dia terkenal dengan tingkahnya yang lagak preman dan terlihat ditakuti— atau mungkin dijauhi — oleh murid lainnya, tapi tentu saja tidak denganku. 

Dia teman pertamaku dan satu-satunya di sekolah ini. Dia pun selalu mengantarku pulang dengan mobilnya. Kadang, kami mampir ke mall sekadar membeli makan siang. Dia sering bercerita tentang bagaimana dia membenci semua orang di sekolah dan selalu bercanda mengatakan akan “memberi pelajaran” kepada mereka yang menyakitinya. Aku menimpali dengan tawa.

Suatu hari, saat pelajaran sekolah usai. Seperti biasa dia mengantarku pulang. Namun, hari itu dia terlihat berbeda dari sebelumnya. Di sepanjang perjalanan pulang, mukanya terlihat merah padam dab raut wajah yang terlihat memendam amarah, tak sepatah katapun ia ucapkan padaku.

“Keluar!” teriak Adrian sambil menarik tanganku keluar dari mobilnya. Aku terkejut, dia tidak pernah membentakku sekasar ini sebelumnya.

“Fenia, dengar kata-kataku, jangan ke sekolah besok!”

“Lho, kenapa? Ada apa?”

Turutin aja, pokoknya jangan!”

Aku hanya menganga lalu tertawa, aku pikir dia bercanda.

“Oke, preman. Sampai besok di sekolah.”

Tanpa membalas omonganku, mobilnya langsung melesat pergi. Aku tidak merasa aneh, mungkin dia sedang terlibat masalah dengan murid lain, seperti biasa.

Besok paginya, aku terlambat bangun. Saat membuka jendela, sinar matahari sudah terasa menyengat menandakan sudah siang. Yah! Kenapa aku bisa lupa memasang alarm! Orang tuaku pun tidak membangunkanku.

Ponselku berdering, sebuah chat dari Adrian terlihat di layar.

Maaf Fenia, maafkan aku. Aku yakin, akan ada orang lain yang baik berteman denganmu setelah ini. Jaga dirimu.”

Aku keluar kamar dan akhirnya tahu kenapa orang tuaku tidak membangunkanku untuk berangkat sekolah. Semua jawaban ada di berita, televisi berwarna merah hari ini.

Oleh : Devik Widia.

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Temanku, Adrian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *