“The Bajau” ingatkan deras Investasi di Bali.

Denpasar_ Watchdoc kembali menggelar pemutaran film secara serentak di beberapa kota. Acara diskusi dan nonton bareng di Kota Denpasar berlangsung pada Sabtu, 11/01/2019 di Taman Baca Kesiman. Acara ini di support oleh Walhi Bali, Manik Bumi Foundation , Frontier Bali, Aji Denpasar dan Kekal Bali.

Beberapa organisasi tersebut menjadikan film dokumenter The Bajau (Suku Bajau) sebagai topik pembahasan malam ini. “The Bajau” adalah film produksi pasar hamburg 2018 yang dibesut oleh wartawan senior sekaligus sutradara dan pendiri rumah produksi audio visual “Wacth documenter”, Dandy Dwi Laksono.

Watchdoc sendiri cukup dikenal terutama diantara penikmat video dokumenter. Salah satu film dokumenter yang cukup menggemparkan Indonesia beberapa bulan lalu adalah film dokumenter Sexy Killer. Dan kali ini wacthdoc melalui film dokumenter the Bajau, juga menceritakan tentang isu-isu sosial seperti yang sering dikampanyekan oleh Dandy Dwi Laksono sendiri melalui akun-akun media sosialnya.

The Bajau adalah sebuah film yang menceritakan tentang nasib Suku Bajau di tengah himpitan investasi dan keterbatasan ekonomi. Dikisahkan pula sebuah keluarga Bajau yang pernah difilmkan 13 tahun lalu, direkam kembali oleh film berdurasi satu jam lebih ini, untuk melihat perubahan kehidupan mereka setelah dimukimkan oleh negara.

Setelah acara nonton bareng, dilanjutkan dengan kegiatan diskusi yang mana dipantik lansung oleh sutradara dan wartawan senior, Dandy Dwi Laksono, mbok Juli produser film dokumenter The Bajau dan direktur WALHI Bali, Juli Untung Pratama. Namun sebelum itu, Wayan Gendo pada kesempatan ini juga mengajak hadirin untuk mendoakan salah satu teman aktivisnya, Agus Lemon yang telah berpulang.

Wayan Gendo saat memimpin doa bersama.

Menurut Dandy Dwi Laksono sendiri selaku sutradara film dokumenter The Bajau yang turut hadir pada malam hari ini, Film The Bajau berawal dari sebuah riset untuk melihat kehidupan nomaden masyarakat Bajau.

“Saya melakukan riset selamat beberapa bulan untuk melihat masyarakat bajau yang hidupnya masih nomaden. Kemudian sampailah pada cerita 4 tahun lalu ada penangkapan besar di Kalimantan Timur” ujar pria berbadan gembul tersebut.

Tetapi, yang terpenting menurut Dandy, film ini sudah ditonton oleh masyarakat Bajau sendiri sebagai bintang dalam film The Bajau.

“Yang terpenting, film ini sudah ditonton oleh bintan filmnya, warga bajau” lanjut Dandy.

Sedangkan rekannya, produser The Bajau, Mbok Juli menceritakan tentang ketertarikannya pada suku Bajau sehingga akhirnya lahirlah sebuah karya Film Dokumenter The Bajau.

“Pemutaran Film The Bajau tak lepas dari pasar harmburg” ujarnya.
“Di pasar hamburg, kita memutar film tahun 2017 dan ternyata kita mendapatkan respon yang sangat bagus. Kemudian tahun 2018, kami ingin membuat film dengan tema maritim. Kemudian saya mengenal mas Dandy, kemudian minta tolong untuk membuatkan film yang mengangkat kebudayaan Indonesia. Kemudian muncullah suku bajau” lanjut produser The Bajau yang akrab disapa Mbok Juli.

Mbok Juli juga menambahkan bahwa suku bajau pernah ditulis oleh penulis Jerman di mana tulisannya menceritakan keindahan suku bajau. Namun setelah turun langsung ke daerah suku Bajau, keindahan itu hanya berupa cerita.
“Jadi suku Bajau ini pernah ditulis oleh seorang penulis wanita asal Jerman. Ia menuliskan Suku Bajau dengan sangat indah. Namun, ketika filmnya selesai kami garap, kenyataan yang diceritakan penulis Jerman ini sangat berbalik. Banyak dari mereka yang ingin bebas dari maritim. Tetapi harus untuk mengerjakan sesuatu yang bertolak dengan nurani”. Tambah Mbok Juli.

Berbeda dengan Dandy Dwi Laksono dan Mbok Juli yang menceritakan tentang Film The Bajau, direktur eksekutif Walhi Bali, Juli Untung Pratama menceritakan tentang perjuangan rakyat Bali yang saat ini menghadapi deras investasi di pesisir selatan Bali.

“Terkait dengan bali ini, terdapat beberapa proyek yang berpotensi besar mengeruk Bali. Salah satunya Reklamasi Teluk Benoa. Meskipun Menteri KKP, Susi Pudjiastuti telah membatalkan Reklamasi Teluk Benoa, tetapi masih ada celah untuk mereklamasi teluk benoa. Adapun potensi lainnya adalah perluasan bandara dan juga tambang pasir di laut pantai kuta ” ujar pria yang biasa disapa Topan.

Diakhir ceritanya, direktur Walhi Bali tersebut mengajak seluruh peserta yang hadir dalam diskusi malam ini untuk mengkritik dan mengawasi investasi yang berpotensi merusak lingkungan.
“Di sini walhi bali mengajak semua, kita harus mengkritik hal tersebut. Jangan sampai investasi tersebut merusak lingkungan kita” ujar Topan menutup diskusinya.

Untuk diketahui, meski baru dirilis pada Sabtu, 11 Januari 2020, Film The Bajau ini sudah diputar di apsar Hamburg 2018, lalu di Kampung Suku Bajau 2019 dan di Cinema besar di Jerman 2019.

Selain pemutaran film dan diskusi, juga ada sesi akustik yang dibuka oleh musisi cilik asal Ubud, Yudis, kemudian dilanjutkan oleh Made Mawut dan yang paling terakhir dan ditunggu-tunggu, yaitu pasang tertop nan kritis, JRX dan Nora yang membawakan lagu-lagu ciptaan mereka, dan yang pastinya juga ada lagu “Bali Tolak Reklamasi”.

Reporter : YH

Editor : Erwin

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *