The Last Smile

Hingga luka itu akhirnya berbicara, dan aku tidak mengejarmu lagi.

Setelah tamat SMU, aku bertekad melanjutkan pendidikan salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Denpasar. Sementara dia, pengagum rahasiaku itu tidak tahu ke mana perginya.

Sejak 3 tahun yang lalu sampai sekarang, aku masih menjadi pengagum rahasianya. Setiap hari kerjaanku seperti paparazzi, memperhatikan dia di balai kaca. Entah dia tahu atau tidak, tapi yang jelas di waktu yang bersamaan, dia memancarkan senyum indahnya itu. Ketika ia menoleh, aku seolah-olah mendustai senyumku sendiri, aku berpura-pura tidak melihatnya.

“God, I Love Him,” kataku.

Setiap malam bahkan kuhabiskan untuk menggambar wajah dan senyumnya. Kupeluk semua kesedihan atas semua yang aku lakukan setiap harinya. Setiap hari perasaanku semakin menjadi-jadi. Sampai tiba di suatu senja, aku meliahatnya di taman dengan pemandangan yang berbeda. Entahlah mungkin senja ini sengaja membawaku kesini untuk mengajariku agar tidak terlalu berharap.

Di taman itu, aku melihatnya dengan seorang gadis. Mungkin dia kakak kelas kami, pikirku. Melihat mereka berdua, hatiku rapuh seketika itu juga. Mulutku membungkam, hanya air mata yang bisa mewakilkan keadaanku saat itu. Tenyata aku tidak sekuat yang aku kira.

Aku bergegas mengambil buku yang sempat kubaca lalu pergi meninggalkan tempat itu. Malamnya aku menangis. Aku belum bisa melupakan kejadian hari itu.

“Mengapa aku harus mencintainya?”, tanyaku pada diri sendiri.

Sejak kejadian itu, aku tidak lagi memperhatikannya.

Sehari setelah kejadian itu, aku Kembali ke tempat di mana aku melihat sosok yang kukagumi bersama dengan seorang wanita. Di taman itu, aku berjanji untuk melupakannya. Aku berteriak sekuat tenaga melampiaskan semua yang aku rasakan saat itu.

“Aku benci kamu! Aku berjanji melupakanmu, Fari,” teriakku meluapkan emosi.

Mungkin, ini cinta yang tak semestinya. Sejak saat itu sampai aku tamat SMU aku tidak lagi stalking dia meski aku tahu hati ini berat merelakannya.

27 Desember 2016, saat hari pertama aku mengikuti UAS, ada sebuah pesan masuk di ponselku.

“Hallo apa kabar? Aku Fari,” kata pesan singkat itu yang akhirnya aku tahu itu dari Fari, sosok yang kukagumi.

Perasaanku bercampur aduk antara senang dan sedih. Sesaat kemudian, aku membalas pesannya. Kemudian setelah itu, tak ada lagi balasan pesan darinya. Ah, mungkin dia hanya iseng menanyai kabarku.

Malamnya, ponselku berdering lagi. Sebuah pesan masuk yang berasal dari nomor yang sama seperti yang menanyai kabarku tadi pagi. Lama aku menatap layar ponselku seakan tak percaya. Kemudian aku memberanikan diri untuk membuka isi pesan darinya. Pesan dari Fari itu membuat aku mengingkari janjiku sendiri di taman waktu itu.

“Fani, mungkin Tuhan menjawab semua doaku,” tulis Fari. “Dari dulu aku menutup diri akan cinta lain yang datang. Sebab bagiku, mencintaimu saja meski tidak terbalas sudah membuatku cukup bahagia. Hari ini Tuhan memberi aku kesempatan,” lanjutnya lagi.

“Lalu, apa kabar wanita yang bersamamu di taman waktu itu?” tanyaku.

“Dia sepupuku. Baru tiba di kota ini, makanya aku ajak jalan-jalan ke taman.”

“Oh, jadi dia sepupumu? Aku kira siapa. Hehe” “Iya, dia sepupuku,” balas Fari mengakhiri percakapan kami.

Dari penjelasan Fari, aku tersadar. Rupanya gadis yang bersamanya beberapa waktu lalu adalah sepupunya. Aku salah lantaran aku terlalu dini meluapkan emosiku padanya. Tapi kesalahanku itu membuat aku sadar bahwa ternyata Fari memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasa kepada dirinya.

Seiring berjalannya waktu, hubungan kami kian dekat. Janji yang dulu pernah kuucapkan, dengan kuingkari dengan mudah semudah ia mengungkapkan perasaanya padaku. Ibarat pepatah sakit sama mengadu, luka sama mengeluh, hubungan kami makin hari makin lekat.

Januari 2018, Fari bertekad ingin menemuiku. Kebetulan, saat itu aku sedang libur dari kampus, kemudian kami lalu bersepakat untuk bertemu di taman. Sebuah pertemuan yang pertama bagiku dengan dirinya. Sebelum berangkat, Fari menyempatkan diri untuk mengirimkan foto selfienya dengan senyuman yang lebar. Sebuah senyuman yang baru pertama kali juga kulihat seindah itu.

Di taman siang itu, aku menunggu Fari hampir 3 jam. Namun, Fari tak kunjung datang. Aku gusar. Kucari ponselku untuk menghubungi Fari, tapi aku lupa membawanya. Aku kian gelisah tatkala Fari tak kunjung tiba di taman. Padahal, hari sudah semakin gelap. Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah. Pikirku, Fari tak ada bedanya dengan dirinya yang dulu yang sukanya memberikan harapan palsu.

Setibanya di rumah, aku langsung mengecek ponselku untuk menghubungi Fari. Saat aku mengambilnya, kulihat ada pesan masuk dari Fari.

“Fan, aku on the way, ” tulis Fari disertai dengan fotonya. “Kalau misalnya aku menghilang, kamu jaga diri baik-baik yah,” lanjutnya lagi. “Kamu sekarang udah nyampe, apa gimana?” kemudian tanya Fari. “Yaudah, kalau nanti aku belum nyampe juga di taman, kamu pulang aja yah” bunyi pesan Fari lagi untuk yang kesekian kalinya.

Setelah membaca pesan itu aku lansung menelponya, tapi tidak diangkat. Aku bingung bagaimana bisa Fari datang lalu menghilang tanpa jejak begini? Dalam ketidakberdayaanku meratapi nasibku yang entah diberi harapan palsu oleh Fari atau tidak, aku kemudian mencoba mencari informasi tentang Fari di media sosialnya.

Betapa kagetnya aku ketika mendapati informasi di media sosialnya. Sungguh ini seperti mimpi. Aku berkali-kali menampar pipiku, berharap ini semua hanya mimpi burukku. Aku semakin tak berdaya meratapi kenyataan ini. Air mataku berlinang, jatuh tanpa henti. Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari seorang yang mengaku temannya Fari.

“Mbak, Fari sudah tiada,” begitu bunyi pesan itu.

Saat aku membacanya, aku hanya bisa terdiam. Air mataku kembali berlinang. Kali ini lebih banyak lagi dari sebelumnya. Aku menangis sejadinya seakan tak percaya bahwa Fari pergi secepat ini. Memang, saat di taman itu aku sempat mendengar ada kecelakaan. Namun, karena pertemuan dengan Fari jauh lebih penting, aku tak sempat berpikir untuk sekadar melihat korban kecelakaan itu yang ternyata adalah Fari.

Dari kejadian ini, aku terus saja menyalahkan diriku sendiri. Bahkan hingga beberapa hari setelah pemakaman, aku masih saja menyalahkan diriku sendiri atas kepergian Fari.

“Fari, aku ingin mengenangmu, mengingat-ingat kembali bahwa aku pernah bahagia bersamamu. Kita pernah memperjuangkan kisah yang sama. Ketika aku sempat ingin menyerah, kamu menguatkan aku lagi. Kamu tahu meski ini pedih, aku tetap belajar mengikhlaskanmu. Fari, aku ingin mengajakmu berbicara tentang betapa hancurnya keadaanku saat ini, saat kamu pergi meninggalkan luka. Lalu, untuk apa kamu datang mengajarkan aku kebahagiaan, ketenangan, membuat aku merasa nyaman dengan segala hal yang kamu katakan?” Protesku pada Tuhan dalam doaku untuk Fari.

Setelah berhari-hari patah hati, semuanya terasa berbeda. Kebiasaan yang dulu yang kujalani, kini datang sebagai kenangan yang mendatangkan hampa.

“Quite the wound”

Oleh : Elin Isabelita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *