Toxic itu Kita atau Mereka?

Seorang teman bertanya; “bagaimana cara menghindari orang rumah yang toxic?”. Alih-alih mencari solusi sementara, ia malah berharap “meninggalkan rumah” dengan cara kuliah offline saja. Sebab, pikirnya solusi terbaik adalah pergi sementara. 

Oh iya, menurut Om Googletoxic adalah istilah untuk seseorang yang “beracun” atau sifat pribadi yang suka menyusahkan dan merugikan orang lain, baik itu secara fisik ataupun emosional. Dari Om Google pula, saya menemukan beberapa macam toxic. Nah untuk informasi lebih lanjut, kalian bisa mencarinya di Om Google. Biasanya saya hanya sering mendengar kata toxic relationship. Tapi tulisan ini bukan tentang toxic relationship.

Dari beberapa artikel yg pernah saya baca, cara menghindari lingkungan/keluarga yang toxic itu ada Banyak. Dan kemungkinan dia (teman saya itu) pun pernah membacanya untuk menghindari hal tersebut. Namun, rasanya agak aneh bila mengklaim sepihak bahwa “mereka” toxic tanpa mencari tahu alasan dibalik itu. 

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “Apakah benar mereka toxic seperti yang kita pikirkan atau malah sebaliknya, kita yang self diagnose?”

Dalam dunia medis, self diagnose adalah upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri, misalnya dari teman atau keluarga, bahkan pengalaman sakit di masa lalu. Saat mendiagnosis diri sendiri, seseorang akan menyimpulkan suatu masalah baik psikologis maupun kesehatan fisik dengan berbekal informasi yang diperolehnya. 

Adakah yang salah dengan perilaku demikian? Tentu saja itu salah, sebab kita memberikan diagnosa yang (mungkin) juga salah pada diri kita sendiri. Jika ini ada kaitannya dengan kesehatan kita, maka buntut dari self diagnose ini adalah kita akan salah memberikan obat yang tepat untuk penyakit yang kita alami. 

Bagaimana dengan pertanyaan seorang teman diawal paragraf tadi? 

Saya mencoba memberikan jawaban saya berdasarkan pengalaman saya sendiri yang semoga saja ini juga termasuk pengalaman kita semua. Sejak kecil, kita telah dibiasakan untuk menyalahkan orang/pihak lain. Contoh paling nyata dan sederhana adalah ketika kita (waktu masih kecil) terantuk atau tersandung batu. Alih-alih orang tua kita menasihati agar kita lebih berhati-hati. Mereka malah menyalahkan batu atau meja tempat kita tersandung sembari memukulnya. 

Di satu sisi, ajaran itu memang baik (saya berusaha berpikir positif) bahwa orang tua kita berusaha untuk menenangkan kita yang saat itu mungkin saja (ingin) menangis karena kesakitan. Namun, di sisi lain ajaran itu malah memberi pengaruh dalam memori kita untuk membiasakan diri menyalahkan pihak lain. 

Kita mungkin akan berpikir bahwa hal sekecil ini tak mungkin mempengaruhi sikap kita setelah dewasa. Dalam hal hubungan kita dengan keluarga atau orang-orang yang memiliki pengaruh dalam hidup kita, jika kita tidak pandai dalam mengatur ritme emosi yang sesuai mau kita, maka menurut hemat saya kita mungkin bisa terseret pengaruh negatif pikiran kita; menuduh orang lain toxic bisa jadi merupakan bentuk toxic diri kita sendiri. Sebab, kita menuduh toxic pada orang dengan takaran pikiran kita, tanpa melihat lebih dulu apakah selama ini kita juga menjadi toxic bagi orang lain.

Lantas, solusinya jika saya, kamu dan kita terjebak dalam situasi seperti ini, apa? 

Dari beberapa hasil saya peroleh dari Om Google, ada begitu banyak hal yang bisa kita gunakan sebagai tameng penangkal perilaku toxic. Dan menurut hemat saya, cara paling sederhana untuk menghindarinya adalah dengan berhenti menilai orang lain toxic, fokus pada pengembangan diri sendiri dan jangan lupa bersyukur. 

Ingatlah! Setiap orang berpotensi menjadi toxic bagi orang lain.

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Toxic itu Kita atau Mereka?

  1. Sebelum sembarangan bilang orang toxic bla bla bla ada baiknya kita introspeksi diri masing-masing .
    Ya ngga justifikasi toxic people juga. Mereka salah.
    Tapi ada kalanya kalo kita ketemu orang toxic apalagi keluarga ya coba atau usaha buat ngasi support ke arah yg lebih baik lagi. Jangan dtinggal gitu aja. Like, kan ngga bisa keluarga ditinggalin. Secara sedarah dan kalo bisa ngebimbing mereka ke jalan yg lebih baik dengan cara kekeluargaan ya why not?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *