Valentine dan Konsep Tri Hita Karana; Tentang Cinta Kepada Alam

Bulan Februari selalu identik dengan peringatan Hari Kasih Sayang yangmana dirayakan diminggu kedua tepatnya pada tanggal 14. Hari Kasih Sayang atau yang biasa disebut Valentine Day ini diyakini banyak orang sebagai waktu yang tepat untuk menyatakan cinta yang diekspresikan melalui berbagai simbol seperti bunga, cokelat, boneka, atau sekadar kartu ucapan romantis.

Hari Valentine merupakan buah perjuangan yang dilakukan untuk menunjukkan pada dunia bahwa kasih sayang itu harus diungkapkan. Dalam pandangan Hindu, kasih sayang selalu diwajibkan kepada setiap mahluk. Entah itu kepada sesama manusia, alam maupun kepada Ida Sang Pencipta. Didalam agama Hindu ada sebuah ajaran yang disebut Tri Hita Karana . Tri Hita Karana terbentuk dari tiga kata, Tri  yang berarti tiga, Hita  yang berarti kebahagiaan atau sejahtera, dan Karana  yang berarti sebab atau penyebab. Jadi Tri Hita Karana memiliki arti tiga penyebab kebahagiaan.

Konsep Tri Hita Karana yang muncul pada tahun 1960-an ini, bagi orang Bali mengandung filosofi yang kuat, dimana filosofi ini menggambarkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan antar manusia dengan sesama, dan hubungan yang harmonis dengan lingkungan yang telah menyediakan tempat tinggal.

Nah berbicara tentang hubungan yang harmonis ini, saya tertarik untuk membahas tentang bagaimana perjuangan masyarakat Bali dalam menjaga keharmonisannya dengan lingkungan.

Karya : Jango Pramartha (Editorial Kartunis dan Founder Bog-Bog Bali Cartoon Magazine)

Kita tahu bahwa lingkungan merupakan tempat kita hidup, dimana kita berada dan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan kita. Menyadari hal itu, maka patutlah kita menjaga dan melindungi kelestarian lingkungan kita. Sebab kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama.

Ajaran Tri Hita Karana sendiri bisa dikatakan sebagai landasan penting dan utama yang memberikan gambaran tentang bagaimana manusia seharusnya menjalin hubungan dengan Tuhan dan isi alam semesta termasuk manusia. Hubungan yang harmonis tersebut tentunya dapat diwujudkan bila kita semua saling mencintai dan mengasihi. Salah satu upaya untuk menjaga lingkungan adalah dengan cara mempertahankannya tetap asri, atau melindunginya dari tangan-tangan investor perusak lingkungan.

Kasih sayang pada alam semesta inilah yang perlu kita perkuat lagi ditengah banyaknya arus investasi berkedok pariwisata. Konsep Tri Hita Karana seharusnya menjadi penjaga Bali tetap lestari. Penyebab kebahagiaan salah satunya adalah keadaan alam yang seimbang. Tentu Bali tidak bisa berharap banyak pada pariwisata jika alamnya rusak dan dirusak oleh investor nakal.

Alam tidak akan mengeluarkan kata-kata jika ia marah. Alam akan menunjukkan kemarahannya secara langsung kepada manusia lewat bencana alam. Beberapa peristiwa yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat Bali adalah bagaimana ketika alam Bali meluapkan rasa kemarahannya pada manusia yang lebih mementingkan dirinya. Awal tahun 2020 saja, Bali setidaknya mengalami 126 kejadian bencana yang didominasi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem. Bukan hanya itu, tercatat pohon tumbang dengan 201 kejadian, tanah longsor  3 kejadian, banjir 31 kejadian dan bangunan roboh 4 kejadian.

Melihat fenomena alam yang semakin tidak bersahabat dengan makin meningkatnya sampah plastik di mana-mana, pemerintah Bali mengeluarkan kebijakan sebagai bentuk pencegahan awal terhadap pengrusakan lingkungan. Salah satunya adalah Peraturan Gubernur (Pergub) Bali No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. Kebijakan untuk mengeluarkan instrumen hukum yang mengatur sampah plastik sekali pakai ini merupakan terobosan yang patut diapresiasi. Hal ini sudah sejalan dengan amanat Undang-Undang No.32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengamanatkan pentingnya pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

Bahkan dengan banyaknya kejadian alam yang terjadi seperti meningkatnya kerusakan sumber daya pesisir dan laut, menurunnya keanekaragaman hayati, menurunnya daerah resapan air, pencemaran lingkungan, terbatasnya data dan informasi tentang lingkungan hidup, serta belum optimalnya pengawasan dan penegakan hukum lingkungan hidup membuat Gubernur Bali merasa prihatin dan mengatakan bahwa kualitas tanah, air dan alam Bali ini belakangan terus menurun dikarenakan banyak biota yang mati. Kunang-kunang, kakul, belut, sudah susah ditemui. Karena itu, gubernur Bali menghimbau agar perlunya perbaikan agar Bali sehat kembali.

Andai keprihatinan Gubernur Bali benar-benar nyata, barangkali pembangunan dan pengelolaan tata ruang dan kewilayahan Bali di masa depan tidak akan mengancam lingkungan. Bahkan Ketegangan yang terjadi antara warga desa dengan perusahaan yang akan mengeksekusi 144 hektar di Dusun Selasih, Desa Puhu, Gianyar diakhir tahun 2019 lalu tidak akan pernah terjadi. Lebih jauh, implementasi Konsep Tri Hita Karana yang dilakukan oleh Gerakan Bali Tolak Reklamasi sebagai bentuk kasih sayang kepada alam, juga harusnya tidak akan berlangsung selama ini andai kekhawatiran dan keprihatinan Gubernur Bali benar-benar nyata.

Untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat Bali terkait dengan isu-isu lingkungan memang merupakan pekerjaan yang cukup berat mengingat masih banyak yang tidak ingin keluar dari zona nyamannya. Mungkin karena mereka tidak terdampak secara langsung hingga empatinya untuk turun ke jalan, berjuang menolak investasi berkedok pariwisata ini tidak dilakukan. Oleh karena itu, sebagai pengamal konsep Tri Hita Karana yang mencintai alam Bali dan segala isinya, semangat para pejuang lingkungan di Bali tetap berkibar.

Akhir kata, kepada para pejuang lingkungan, selamat merayakan hari kasih sayang. Teruslah mencintai lingkungan dengan memperjuangkannya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap alam dan segala isinya. Teruslah berjuang menanamkan kembali konsep ajaran Tri Hita Karana dalam diri jiwa-jiwa yang mulai redup semangatnya agar kelak, tidak hanya kasih sayang kepada sesama yang diutamakan, tetapi juga kasih sayang kepada alam dan Tuhan yang menciptakan.

Oleh : Yons Hunga

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *