Wage Rudolf Supratman dan Indonesia Raya yang Terlupakan

Stanza II

Indonesia, tanah yang mulia

Tanah kita yang kaya

Disanalah aku berdiri

Untuk slama-lamanya

Indonesia, tanah pusaka

P’saka kita semuanya

Marilah kita mendoa

Indonesia bahagia

Suburlah tanahnya

Suburlah jiwanya

Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya

Sadarlah hatinya

Sadarlah budinya

Untuk Indonesia Raya

Stanza III

Indonesia, tanah yang suci

Tanah kita yang sakti

Di sanalah aku berdiri

M’njaga ibu sejati

Indonesia, tanah berseri

Tanah yang aku sayangi

Marilah kita berjanji

Indonesia abadi

S’lamatlah rakyatnya

S’lamatlah putranya

Pulaunya, Lautnya, Semuanya

Majulah negrinya

Majulah pandunya

Untuk Indonesia Raya

Ini adalah penggalan lirik lagu Indonesia Raya Stanza 2 dan stanza 3 ciptaan Wage Rudolf Supratman atau WR Supratman yang jarang kita dengarkan. Alhasil, tidak banyak orang yang mengetahui lirik lagu Indonesia Raya secara utuh_yang sebenar-benarnya. Bahkan, di instansi formal pun hampir tidak pernah dinyanyikan secara utuh saat melakukan kegiatan seperti upacara dan kegiatan seremonial lainnya.

Tenggelamnya kebenaran ini adalah buah dari kesalahan yang kita lakukan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan. Ya, kebiasaan. Kebiasaan kita adalah menenggelamkan kebenaran. Saking tengelamnya kebenaran ini, mayoritas warga yang rajin mengkonsumsi sayur-mayur hasil semprotan pestisida di negara +62 bahkan sempat mengecam Menteri Pendidikan pada tahun 2019 karena mewajibkan lagu Indonesia Raya untuk dinyanyikan versi lengkapnya, 3 Stanza.

Kebiasaan mengkonsumsi Ikan yang tercemar dari mikro plastik di lautan juga membawa pada imajinasi tingkat lanjut yang berujung pada pemahaman baru bahwa Indonesia Raya 3 Stanza adalah versi cover lagu Indonesia Raya.

Kebiasaan berjemur di pagi hari pada hari Senin (kecuali tanggal merah)  dilakukan para pelajar Indonesia tentunya bukan untuk mencari asupan vitamin D dalam mempercantik kulit, bukan juga sayembara atau ajang para guru mencukur rambut para siswa.  Kebiasaan ini merupakan sebuah pengamalan terhadap jiwa nasionalisme pelajar Indonesia dalam mengenang perjuangan meraih kemerdekaan bangsanya yang biasa kita sebut Upacara Bendera.

Mengenang perjuangan kok menenggelamkan sejarah?

Penenggelaman sejarah lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman tentu berbeda dengan penenggelaman kapal pencuri ikan ala Menteri Susi. Bocornya kapal kejayaan Lagu Indonesia Raya tentunya memiliki dinamika panjang didalamnya.

Lagu ciptaan WR Supratman ini justru dinodai oleh pemimpin bangsa kala itu. Lahirnya Peraturan Pemerintah No 44/1958 Tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya menjadi legalitas pembatas antara Stanza 1 dan stanza 2-3. Pada pasal 2 dijelaskan saat menyanyikan lagu kebangsaan, lagu dinyanyikam lengkap satu bait,  yaitu bait pertama dengan dua kali pengulangan.

Sebagai generasi muda yang memiliki cita-cita tinggi menjadi revolusioner, namun hobinya rebahan di atas kasur, tentunya ini menjadi pertanyaan besar bagi kita.  “Mengapa harus dihilangkan?”

Saat diciptakan, WR Supratman memberikan judul Indonesia Merdeka pada lagu ini. Di dalam liriknya juga tidak ada kata “Raya”, melainkan “Mulia”. Namun, saat ditetapkan sebagai lagu kebangsaan, judulnya pun berubah menjadi “Indonesia Raya”.

Terciptanya lagu Indonesia Raya tentu bukan sekedar menjadi lagu penghias kongres pemuda kala itu dan menjadi pelengkap protokol upacara hingga saat ini. Makna yang terkandung dalam lagu ini juga bukan tentang senja dan Kopi ala-ala millenials yang sedang jatuh cinta. Akan tetapi mengajak kita untuk menjaga semangat dan kewarasan akan cinta tanah air.  

Bagi saya, lirik 3 stanza ini terlalu sempurna jika kita maknai dengan sungguh-sungguh. Sebab, pada stansa pertama yang berlirik “Marilah kita berseru Indonesia bersatu”.  Makna yg terkandung dalam kalimat ini menyiratkan semangat dan seruan bagi rakyat Indonesia kala itu untuk merebut kemerdekaan.  Selain itu terdapat pula kalimat “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” yangmana mengajak rakyat untuk bangkit menjadi manusia yang tidak mudah diperbudak oleh penjajah, mengajak rakyat untuk bergerak melawan penjajahan.

Stanza kedua, lirik yang ditekankan adalah “Marilah Kita Mendoa, Indonesia Bahagia.” Bila diperhatikan, lirik tersebut mengandung makna yang cukup, dimana maknanya memiliki landasan spiritual dengan selalu mendoakan Indonesia yang bahagia. Lanjutannya dilirik berikut adalah “Sadarlah hatinya, Sadarlah budinya” yang bermakna masyarakat Indonesia senantiasa memiliki budi dan hati yang baik.

Stanza ketiga,  terdapat lirik “Slamatlah Rakyatnya, Slamatlah Putranya, Pulaunya, Lautnya, Semuanya.” Sungguh dengan jelas pada lirik ini kita diajak untuk turut menyelamatkan dan menjaga sumber daya alam bangsa ini.  

Setelah terciptanya lagu ini apakah makna dan pesannya sudah sesuai dengan apa yang kita lihat atau kita lakukan?

“Persatuan” yang menjadi “lambang keharmonisan bangsa” kini hancur karena sentimen-sentimen golongan. “Budi” kita yang katanya “pekerti” itu sudah runtuh akibat modernisasi gaya hidup. “Alam” kita yang “kaya” hancur karena ambisi investasi.

Sadarkah kita?

Erwin

Disclaimer;

Tulisan ini telah dimuat dalam majalah Fronzine edisi pertama

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *