WARMADEWA TATAP MUKA 2021

Pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim tentang kuliah tatap muka yang akan dimulai pada semester genap tahun 2021 menuai pro dan kontra di masyarakat. Mengingat kluster penyebaran Covid-19 yang terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda berkurang secara signifikan. Disamping itu faktor-faktor yang dirasakan mahasiswa seperti merasakan bosan dan tidak efektifnya kuliah online yang selama ini dijalani karena kendala mata kuliah dengan keharusan untuk melakukan pratikum-pratikum yang tidak bisa dilaksanakan secara online, komunikasi yang hanya dirasakan secara satu arah, SDM dosen-dosen yang belum bisa dikatakan semuanya mampu untuk melaksanakan kuliah secara online sehingga tidak jarang mereka tidak ada kabar dan jadwal kuliah yang terkadang tumpang tindih. Perubahan gaya hidup secara mendadak yang memperlihatkan ketidaksiapan dan masih dalam proses penyesuaian.

Wakil Rektor I Universitas Warmadewa, Ir. I Nyoman Kaca, M.Si mengatakan bahwa dari pihak universitas sendiri siap menerapkan kuliah tatap muka pada tahun 2021 dan tentunya tetap mengikuti protokol kesehatan yang ada dan juga menerapkan kebijakan yang dibuat pemerintah sendiri yakni syarat-syarat untuk melakukan pembelajaran tatap muka terdiri dari izin dari kepala lingkungan atau kepala pemerintah setempat, rektor, beserta izin dari orang tua mahasiswa.

Beliau menambahkan jika pada pandemi ini kita semua dituntut untuk menjalankan kebiasaan baru yakni menerapkan teknologi dengan baik. Beliau mengatakan bahwa Universitas Warmadewa telah menggunakan Moodle E-learning sebagai pembelajaran dikarenakan lebih mudah untuk memonitoring sistem pembelajaran melalui e-learning. “Whatsapp bukan E-learning Management System jadi ada Google Classroom, ada Schoology juga, dan yang paling mudah kita lakukan itu adalah memakai moddle sistem.” tambah beliau.

Beliau yang juga merupakan dosen Fakultas Pertanian mengatakan bahwa bila memang terdapat rencana kuliah tatap muka, Unwar telah siap karena telah memiliki SATGAS (Satuan Petugas) Covid-19 yang akan ditugaskan. “Metode yang akan kita gunakan bisa saja Blend Method (Metode Campuran). Jadi, mahasiswa itu setengah di kampus yang lainnya Online. Hal itu kita lakukan. Karena tatap muka ini memang penting terutama untuk menilai sikap dan keterampilan.” imbuh beliau.

Menurut dr. Putu Ayu Diah Puspita Sari, Sp.P., selaku spesialis penyakit dalam RSUD Mangusada mengatakan bahwa virus masuk ke tubuh manusia melalui port d entry berupa mukosa mulut, hidung/saluran napas, mata. Virus akan ditangkap oleh reseptor Ace 2 yang ada di berbagai organ terutama paru dan virus memperbanyak diri, terjadi proses peradangan di daerah paru yang menyebabkan dilepaskannya berbagai mediator inflamasi yang merusak jaringan paru termasuk sel-sel alveolus dan kegagalan produksi surfaktan yang menyebabkan paru-paru kolaps (mengempis). Penyakit-penyakit penyerta (komorbid) umum yang menyebabkan perkembangan penyakit (prognosis) semakin memburuk, sehingga berpotensi mematikan pada orang-orang yang terinfeksi Sars-Cov-2 antara lain Diabetes Mellitus, Hipertensi, Gagal Ginjal, Penyakit Paru-Paru, Penyakit Cardio Vaskular dan Stroke (serangan jantung).

dr. Putu berpendapat gejala umum infeksi Sars-Cov-2 yang biasa muncul seperti demam, nyeri otot, mual, muntah, dalam sistem respirasi dengan gejala batuk, sesak napas dan gejala sistem non respirasi nyeri dada, lemah anggota tubuh dan lainnya. Pengobatan yang sementara dapat dilakukan untuk Covid-19 ini, yaitu Simptomatik dan Anti ILg, Anti IL1.

Untuk penyebaran infeksi virus melalui benda, dr. Putu mengatakan benda-benda seperti logam, kertas, kayu, kaca dengan tingkat kemungkinan penyebaran yang tinggi karena dilihat dari lamanya virus dapat hidup aktif diatas permukaan benda-benda tersebut.

“Untuk itu, benda yang sering disentuh umum semestinya dilakukan pembersihan dengan bahan dasar alkohol 70% atau hydrogen peroksida (yang biasa digunakan sebagai antiseptik), selain itu kebiasaan menjaga kebersihan tangan sebelum dan sesudah menyentuh benda-benda tersebut juga sangat diperlukan, termasuk jika tatap muka 2021 direalisasikan,” jelasnya.

dr. Putu menegaskan cara berpikir (mindset) kita tentang pencegahan dan pengendalian infeksi harus dilakukan oleh semua pihak, vaksin hanya bisa mencegah infeksi pada satu jenis strain virus, tidak menutup kemungkinan akan kembali terjadi pandemi jika usaha pencegahan dan pengendalian infeksi tidak dilakukan secara masif, tutupnya.

Hal-hal yang sering terlihat saat pandemi contoh kecilnya saja fasilitas-fasilitas umum yang digunakan oleh banyak orang mengharuskan menggunakan masker, sudah menyediakan tempat cuci tangan atau menggunakan handsanitizer yang dibawa pribadi masing-masing, kursi atau bangku-bangku tempat duduk yang berusaha menerapkan social distancing karena terlihat tanda-tanda silang yang jelas sudah ditempel-tempel. Tetapi rupanya masih banyak orang yang egois dan tidak memikirkan nasib keluarganya di rumah apalagi orang lain disekitarnya dengan tidak memperhatikan protokol kesehatan. Alasan-alasan mereka melakukan hal-hal tersebut karena bosan, merasa tidak perlu karena mereka masih “kelihatan” sehat dan bahkan tidak percaya bahwa Covid-19 itu ada. Mereka mungkin lupa dengan istilah Orang Tanpa Gejala (OTG) yang jauh lebih berbahaya dan berperan signifikan dalam penyebaran infeksi Covid-19.  Sebagai carrier (pembawa virus dalam tubuh) walaupun tanpa gejala, OTG membawa virus dan menyebarkannya tanpa disadari kepada orang-orang yang contact jarak dekat dan terkena dropletnya.

Resiko-resiko yang ada di setiap pilihan dan tindakan tentunya tidak bisa dihindari. Maka dari itu harus diteliti dan dipikirkan secara matang-matang dan tidak gegabah. Kesehatan dan pendidikan keduanya sama-sama penting. Diharapkan kegiatan kampus tatap muka yang akan dilaksanakan awal 2021 mendatang menjadi win-win solution untuk bersama.

Oleh: Yundra, Sandi

Ilustrasi: Freepik

Mungkin Anda Menyukai

2 tanggapan untuk “WARMADEWA TATAP MUKA 2021

  1. Saya harap tatap muka segra dilaksanakan, karna saya merasa semenjak kuliah daring, banyak kendala selain biaya yg bertambah tanpa ada nya pemasukan karena pandemi ini .. kualitas jaringan juga sering terjadi ..
    Terima Kasih untuk perhatiannya

  2. Saya sangat setuju dan berharap proses perkuliahan tatap muka akan segera terealisasikan karena banyak kendala dalam proses pembelajaran daring selain masih dalam proses penyesuian tetapi juga value dari perkuliahan sesungguhnya tidak dirasakan …saya rasa masih belum efektif
    Ditambah lagi bagi kami siswa yg sedang pulang ke kampung halaman yang jaringannya masih sering hilang dan tidak konsisten…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *