Zero Waste Solusi Pengolahan Sampah Untuk Bali

Denpasar-Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mengadakan diskusi publik di Rumah Sanur pada Kamis, 16/02/2020. Diskusi dengan tema “Saatnya Tolak Bakar Sampah! dan Solusi Zero Waste untuk Bali” ini dipantik oleh tiga narasumber yang akan membakar semangat para peserta untuk tidak membakar sampah-sampahnya. Ketiga pembicara tersebut diantaranya adalah penulis buku Zero Waste Solution, Prof. (em) Paul Connett, Zero Waste Program Officer Nexus3 Fundation, Ninditha Proboretno dan Direktur PPLH Bali, Catur Yudha Hariani.

AZWI merupakan gabungan dari 9 organisasi yang terdiri dari YPBB, GIDKP, Nexus3 / BaliFokus, PPLH Bali, ECOTON, ICEL, Nol Sampah, Greenpeace Indonesia dan Walhi yang turut aktif mengedukasi masyarakat melalui kampanye sosialisasi kepada masyarakat. Program kampanye edukasi ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat dalam pengelolaan sampah .

Masalah sampah merupakan masalah yang krusial bagi peradaban suatu bangsa. Jika dilihat dari data yang ada, Indonesia menjadi negara kedua penghasil sampah terbanyak di dunia, setelah China. Pada 2019 ini Indonesia akan menghasilkan sampah sekitar 66-67 juta ton atau meningkat tiga juta ton dari tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 64 juta ton.

Terkait dengan hal itu, Zero Waste Program Officer Nexus3 Fundation, Ninditha Proboretno menjelaskan bahwa awal kampanye stop bakar sampah ini bermula ketika Presiden mengeluarkan Perpres pembangkit tenaga listrik berbasis sampah.

“Jadi awal mulanya tuh tahun 2016 Presiden mengeluarkan Perpres tenaga listrik berbasis sampah di berbagai kota. Kami tidak setuju. Dan kami mengajukan judicial review. Dan kami berhasil. Tapi, nyatanya pemerintah kembali membuat peraturan yang kurang lebih sama. Sehingga kami masih harus berjuang”, ujar wanita yang akrab disapa Mbak Nindi itu.

Menurut Ninditha Proboretno, teknologi ramah lingkungan tidak benar-benar ramah karena nasib sampah selalu berakhir pada pembakaran. Itu sebabnya mereka menolak sampah PLSTA. Alasan lainnya adalah karena tidak sesuai dengan undang-undang pengelolaan sampah .

“Teknologi ramah lingkungan itu tidak ada yang betul-betul ramah lingkungan. Itu sebabnya kami tolak sampah PLTSA. Sebab sampah Indonesia didominasi sampah basah yang susah untuk diurai ataupun dibakar. Nasib sampah plastik kemasan di sekitar kita saat ini adalah dibakar, menggunung di TPA, atau berada di permukaan laut sampai melapuk. Pembakaran sampah dilarang di Indonesia , hal ini juga tidak sejalan dengan undang-undang pengolahan sampah tahun 2008”, lanjut Ninditha Proboretno.

Melanjutkan apa yang dibicarakan oleh Ninditha Proboretno, Direktur PPLH Bali, Catur Yudha Hariani menceritakan tentang perjuangannya menumbuhkan kesadaran masyarakat di Desa Kertalangu, Kesiman.

“Jadi sebenarnya sampah itu ada yang bernilai dan tidak bernilai. Nah di Desa Kertalangu, kami lakukan pemilahan. Selain menempel brosur ini, kami juga melakukan upaya edukasi. Jadi di setiap rumah tangga kami berikan papan. Ada juga upaya yang masyarakat lakukan seperti bikin kompos dan pergi ke bank sampah”, ujar Direktur PPLH Bali itu.

Menurut Catur Yudha Hariani, di Tohpati sosialisasi tentang sampah merata disetiap warga. Selain itu mereka juga menyebarkan brosur ke sekolah, lansia dan PKK.

“Di Tohpati itu kalau dibilang sosialisasi, sosialisasi itu merata. Kami juga menyebarkan brosur ke sekolah, lansia, PKK. Kita kerja sama dengan BLHK,  PPLK yang membantu dengan tenaganya dan supportnya”, lanjut Catur Yudha Hariani.

Pakar pengelolaan sampah dunia dan salah satu penggagas Konsep Zero Waste. Prof. (em) Paul Connett mengatakan, Aliansi Zero Waste Indonesia mengkampanyekan implementasi konsep Zero Waste yang benar dalam rangka pengarusutamaan berbagai kegiatan, program, dan inisiatif Zero Waste yang sudah ada untuk diterapkan di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia dengan mempertimbangkan hirarki pengelolaan sampah, siklus hidup material, dan ekonomi sirkuler.

“Jadi implementasi Zero Waste inilah yang paling tepat untuk kita terapkan dengan pertimbangan kita harus memperhatikan teknik pengelolaan sampah, siklus hidup material, dan ekonomi sirkuler sehingga ini bisa diterapkan di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia”, ujar Prof. (em) Paul Connett.

Prof. (em) Paul Connett juga menjelaskan tentang bagaimana perbedaan pertanyaan antara abad ke-20 dan abad ke-21 dan perbandingannya dengan Indonesia.

“Waktu yang berbeda membutuhkan Pertanyaan yang berbeda pula. Pertanyaan pada abad ke-20 adalah tentang bagaimana pengolahan sampah. Sedangkan pada abad ke-21 pertanyaannya adalah tentang  bagaimana kita menangani sumber daya kita yang dibuang agar dapat berguna bagi masa depan”, ujar Penulis buku Zero Waste Solution itu.

Sebagai pesan penutup, Prof. (em) Paul Connett mengatakan bahwa ada lima pesan Zero Waste untuk kita yang selayaknya kita resapi.

“Yang pertama, lebih baik untuk ekonomi karena banyak pekerjaan. Yang kedua, lebih baik jaga kesehatan kita karena kita tidak keracunan. Yang ketiga, lebih baik untuk sekolah karena banyak arti. Yang keempat, lebih baik untuk planet karena berkesinambungan. Dan yang terakhir adalah lebih baik untuk anak-anak kita karena merekalah harapan masa depan bangsa”, ujar mantan profesor tersebut.

Lebih lanjut, Prof. (em)  Paul Connett memberikan pesan khusus kepada semua yang hadir. Lewat slideshownya, beliau memberikan pesan finalnya.

“Ada tiga pesan final dari saya. Yang pertama, untuk masyarakat umum, jangan biarkan para ahli mengambil akal sehat anda. Yang kedua, kepada para politisi, jagalah kesetiaanmu pada masyarakat. Dan yang terakhir, kepada para aktivis, berbahagialah!!!”, Kata , Prof. (em) Paul Connett yang diikuti gelak tawa para hadirin.

Turut hadir memeriahkan acara diskusi publik ini ada DJ/Selekta, Bersua Bali, Rak Baca Denkol, Sindikat Pesta Kebon, dan Gerai Baca Frontier Bali.

Mungkin Anda Menyukai

2 tanggapan untuk “Zero Waste Solusi Pengolahan Sampah Untuk Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *